Connect with us

Kabar Kita

Dari Buku ke Festival

Festival Dermaga Sastra Indonesia 2022

Published

on

BUKU dengan sampul merah itu berjudul lengkap “Dermaga Sastra Indonesia: Kepengarangan Tanjungpinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A. Manan.” Ditinjau dari halaman identitasnya, buku setebal 304 halaman ini diterbitkan oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang pada 2010. Saat itu, ibu kota provinsi Kepulauan Riau ini dipimpin oleh wali kota bernama Suryatati—ya, nama yang tertera dalam subjudul buku ini. Bukan semata alasan sponsor belaka, saya kira, tapi juga mengingat kegemaran wali kota perempuan ini berpuisi dan sudah menerbitkannya dalam beberapa buku. 

Dalam pengantarnya, Bu Tatik, sebutan akrab Suryatati, menulis, “Terkait dan terbabit pertumbuhkembangan sastra Indonesia modern sampai dewasa ini, sejatinyalah tidak dapat dipisahkan dengan adanya sastra Melayu yang sentralnya antara lain di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, sejak berbilang abad yang lampau.” 

Kalimat yang energik. Wali kota satu ini menyatakan maklumat tegas bahwa kota yang dipimpinnya memainkan peranan tak sembarangan dalam semesta sastra republik ini—bahkan sejak jauh negara ini terbentuk resmi. Tokoh berkaliber macam Raja Ali Haji, Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau dan Aisyah Sulaiman Riau, tulis Bu Tatik, adalah sebagian dari pengarang-pengarang ulung pada masa itu. 

“Karya-karya mereka masih dibaca, diteliti, dikaji dan diperbincangkan sampai dewasa ini. Keberadaan karya-karya pengarang pada masa itu, diakui ataupun tidak pastilah sudah mempengaruhi kepengarangan generasi sesudah itu dan sastra Indonesia hari ini,” tekannya. 

Malah, agar semakin komprehensif maklumat itu, Bu Tatik ikut menengara kepengaran sastra di Tanjungpinang setelah Indonesia merdeka, yang dalam bahasanya, kembali mendapatkan tempatnya yang elok, pantas dan menentukan “pucuk-puncak” di pentas sastra Indonesia mutakhir. 

“Nama-nama kepengarangan dimaksud, antara lain Hasan Junus, Rida K. Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, dan BM Syamsuddin. Generasi kepengarangan Kota Tanjungpinang itu terus berlanjut sehingga dewasa ini, dan terbukti sudah—lagi-lagi mempunyai kekhasan—mewarnai kepengarangan sastra Indonesia modern,” tulisnya. 

Sungguh, warga kota Tanjungpinang, wabil khusus para penulisnya, merindukan sosok pemimpin yang berkesadaran bahwa sejarah sastra yang gilang-gemilang di Negeri Segantang Lada ini patut mendapatkan perhatian sama pentingnya dengan peningkatan kualitas lampu jalan, ketersediaan air bersih, parit-parit yang lebar, maupun biaya belanja aparaturnya. 

“Bukankah hampir dapat dikatakan bahwa tidak ada daerah di Indonesia yang punya sejarah sastra segemilang Tanjungpinang lewat peran penting Raja Ali Haji?” begitu penyair Husnizar Hood pernah berkata dalam sebuah diskusi sastra.

Ziarah, Diskusi, Panggung
Buku Dermaga Sastra Indonesia, sebenarnya sudah pernah dirayakan dalam sebuah peluncuran bersambung diskusi di masa awal penerbitannya. Saat itu, sejumlah penyair Tanjungpinang yang namanya termaktub dalam buku ini terbang ke Bandung. Di Universitas Pendidikan Indonesia, mereka membacakan puisi dan mendiskusikan buku itu berjam-jam di sana. 

Sayangnya, kini yang membekas dari itu sekadar album foto para penyairnya dan tidak ada lagi kajian lanjutan atau perayaan lain dari sebuah buku yang nisbi penting ini. Bahkan, Dermaga Sastra Indonesia pun boleh disebut sebagai buku yang langka dan susah didapatkan. Indikatornya sederhana: apakah tiap perpustakaan sekolah di Tanjungpinang menjadikan buku itu sebagai satu koleksinya? Saya berasumsi jawaban yang hadir adalah negatif. Di perpustakaan daerah saja sukar menemukannya, inikan lagi di perpustakaan sekolah yang kita sama tahu seperti apa kualitasnya. 

Kendati begitu, bagi sebagian kalangan, buku ini tak pernah benar-benar sirna. Setidaknya di kalangan penulis yang namanya tercantum atau tidak di sana. Akan bagus jikalau buku itu diperbaharui datanya. Itu jenis pekerjaan yang akan menelan banyak biaya dan ada kesangsian pemerintah mau membiayainya. 

Alhasil, dengan dana yang tersisa dan ala kadarnya, perayaan buku Dermaga Sastra Indonesia ditaja dengan lain cara: memfestivalkannya. Ada tiga babak yang dimuat dalam festival yang berlangsung pada 18–19 Maret ini. Pertama, ziarah. Dari informasi yang diterima, akan dilangsungkan ziarah serta tapak tilas kepengaranan Raja Ali Haji dari pulau Penyengat ke pulau Pengujan. Sudah bukan rahasia lagi bahwa dua pulau ini adalah lokus kreatif Bapak Bahasa itu. 

Kedua, diskusi. Tiga pakar diundang sebagai pembicara. Ada Hasan Aspahani dari Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, seorang penyair yang pernah lama berproses kreatif di Kepulauan Riau. Lalu ada Samsudin Adlawi, penyair cum jurnalis dari Banyuwangi yang dipinta secara khusus oleh panitia untuk berbagi pandangan bagaimana Banyuwangi bisa hidup lewat ragam festival tiap tahunnya. Terakhir, ada Marhalim Zaini, penulis yang juga Ketua Umum Asosiasi Seniman Riau (Aseri). Ia akan bicara perihal penting bagi seniman untuk berserikat dalam hidup untuk dan dari kesenian di era saat ini. 

Diskusi ini akan dihelat pada 19 Maret pagi di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman Tanjungpinang. Bersambung kemudian babak ketiga atau pemungkas dari rangkaian festival ini, malam harinya akan digelar malam gala pembacaan puisi. Dari daftar sementara yang diterima, bukan saja penyair-penyair andalan Tanjungpinang yang akan menunjukkan kebolehannya, tapi juga para pejabat pemerintahan akan naik ke atas panggung. 

Dan lebih daripada itu, bukan berlebihan jika saya berharap semarak Dermaga Sastra Indonesia tidak berhenti di atas panggung belaka, melainkan turut dibarengi dengan komitmen untuk membuat kajian baru, memperbaharui datanya, sehingga kian mengilapkan dermga yang sudah lebih dulu ada dan makin berdaya guna buat generasi sesudahnya.***

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Kita

Pendaftaran Kepri 10K Diperpanjang Seminggu

Published

on

By

Pendaftaran Peserta Kepri 10K.

TANJUNGPINANG – Panitia ajang lomba lari maraton Kepri 10K memutuskan memperpanjang masa pendaftaran peserta sampai seminggu ke depan atau hingga 24 November 2022 pukul 00.00 WIB. Keputusan ini diumumkan secara resmi pada Jumat (18/11) petang, yang semula dijadwalkan sebagai tenggat pendaftaran. 

Ketua Panitia Kepri 10K, Lusi Cecilia, menjelaskan antusiasme masyarakat masih tinggi, bahkan hingga H-2 penutupan pendaftaran. 

“Masih banyak yang bertanya-tanya, masih banyak yang sedang menyiapkan berkas pendaftarannya, jadi kami putuskan untuk memperpanjang waktu pendaftaran sampai seminggu ke depan,” beber Lusi. 

Selama hampir sebulan terakhir dipromosikan, ajang lomba maraton Kepri 10K memang menarik minat banyak kalangan pecinta olahraga lari. Per hari ini saja, sudah hampir 700 orang yang mendaftar. Bahkan, tambah Lusi, ada juga peserta yang dari luar kota seperti Jakarta dan Surabaya. 

“Awalnya mau kami tutup saja sesuai jadwal. Tetapi, kok, nggak enak juga, ya, kalau menolak orang-orang yang antusias mau ikut. Ya sudah, akhirnya panitia sepakat untuk ditambah lagi tujuh hari. Apalagi di Pinang, kan, jarang ada event lari,” ujar Lusi. 

Hanya saja, bagi pendaftar di waktu tambahan ini ada konsekuensi berupa tidak dapat memilih ukuran kaus, sebagaimana pendaftaran di waktu normal. Lusi menjelaskan ini terkait teknis penambahan pesanan kaus di vendor. 

“Jadi, kami mohon maaf kalau nanti untuk pendaftar di waktu tambahan ini kausnya itu all-size. Bukannya panitia tidak mau, tapi karena keterbatasan waktu cetak kaus di vendor. Selebihnya, tidak ada yang berbeda, tetap dapat medali, nomor bib, dan sertifikat,” ungkap Lusi.  

Sementara itu, untuk mekanisme pendaftaran masih bisa diakses di situs keprirunningtour.com, atau menghubungi langsung panitia yang berkantor di Kedai Kopi 77 Tanjungpinang. Biaya pendaftarannya juga masih sama, yakni Rp150.000 per orang. 

Lomba maraton Kepri 10K akan dilaksankan pada 18 Desember nanti. Ini bukan sekadar lomba lari, melainkan sebuah event yang menggabungkan keseruan berlari dan berwisata. Rutenya dimulai dan berakhir di kawasan Kota Lama di Jalan Merdeka. Sebuah kawasan yang kini menjadi daya tarik baru wisata di kota Tanjungpinang. 

Beragam kategori peserta juga akan tersedia di Kepri 10K. Yakni, tercepat putra, tercepat putri, tercepat master putra, tercepat master putri, dan tercepat pelajar putra juga putri dengan total hadiah mencapai Rp58 juta.***

Continue Reading

Kabar Kita

Kenapa Saya Antusias dengan kalaMusika

Pentas Pembacaan Puisi yang Tak Biasa

Published

on

TAHUN lalu saya tidak membaca puisi. Pun tahun ini. Tetapi, antusiasme menyambut panggung kalaMusika selalu menggebu-gebu. Izinkan saya bercerita kenapa-nya.

Sebelum itu, mari kita mundur sedikit jauh.

Perkenalan saya dengan skena puisi di Tanjungpinang terjadi circa 2010. Itu tahun yang menggembirakan bagi para penyuka sastra. Tanjungpinang menjadi tuan rumah Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III. Penyair-penyair hebat berdatangan. Itulah kesempatan awal saya bisa bersemuka dengan sastrawan bertaraf begawan macam Putu Wijaya dan Sapardi Djoko Damono—nama-nama yang selama ini sering disebut di bangku kuliah.

Di saat yang sama pula itulah kali pertama saya berkenalan dengan para penempuh jalan puisi di Tanjungpinang. Beberapa dari mereka sekarang telah berpulang, beberapa yang tersisa kini jadi teman seperngopian. Saya mengenalkan diri sebagai seorang mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan mereka bertanya balik: “Kamu orang Jawa?”

Ada satu nomor pertunjukan di TSI yang masih membekas hingga kini. Saat itu, seorang penyair membaca puisi dengan cara yang tak biasa. Ia naik ke panggung setelah musik dimainkan plus rekaman suaranya lebih dulu bertalu-talu. Beberapa pasang penari kemudian bermain di atas panggung tepat ketika sang penyair mengambil mikrofon dan mulai membacakan puisinya yang berjudul Syair dari Selatan.

Saya terpukau. Jagung-susu di tangan terabaikan saat puisi mulai dibacakan. Kejutan belum berhenti di situ. Di tengah penampilannya, ia tiba-tiba memanggil dua penyair muda untuk ikut menemaninya membaca puisi di atas panggung.

Saya mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin, rutuk saya, puisi bisa dibacakan dengan cara begitu? Saya kira puisi hanya bisa dipentaskan dengan sebuah mikrofon belaka, ternyata saya keliru. Puisi, jika dikonsep dengan benar, bisa mengubah wujud semacam konser yang gahar.

Nama penyair itu Husnizar Hood. Orang yang sebelumnya menanyakan asal muasal latar belakang saya. Orang yang sama yang kemudian mengonsep pertunjukan kalaMusika pada 2021 lalu.

Pada edisi perdana kalaMusika, ada tiga pembaca sebagai nomor utama. Yakni, Joko Yuhono yang Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, Agung Dhamar Syakti yang Rektor UMRAH Tanjungpinang, Dato Rida K Liamsi yang penyair lintas zaman. (Klik tautan berikut untuk menonton edisi lengkap kalaMusika 2021).

Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman dan hampir 200 orang di dalamnya menjadi saksi betapa puisi mampu menemui kemungkinan lain lebih dari sekadar bacaan dalam kamar. Penampilan Pak Joko, Pak Agung, dan Dato Rida serta penyair-penyair lain benar-benar menggembirakan. Saya yang ketika itu duduk di bangku belakang, sejak awal pertunjukan sampai penghabisan, benar-benar jarang membuka layar ponsel. Saya terkesima dari nomor ke nomor.    

Saya mengumpat dalam hati; persis seperti ketika menyaksikan penampilan pada TSI satu dekade lalu. Di mata saya, panggung kalaMusika benar-benar memulihkan energi puisi di Tanjungpinang yang setelah Bu Tatik tidak lagi menjabat sebagai wali kota menguap entah ke mana.

“Tanjungpinang ini kandang para macan sastra,” begitu pengakuan penyair asal Banyuwangi, Samsudin Adlawi, ketika menghadiri Festival Dermaga Sastra awal tahun lalu.

Beruntung tidak perlu menunggu sepuluh tahun lagi untuk merasakan kembali energi penuh auman para macan itu. Cukup dalam bilangan dua belas bulan, kalaMusika kembali dilaksanakan. Durasinya diperpanjang. Penampilnya dipermacam.

kalaMusika 2022.

Dari yang saya curi dengar, pada acara yang berlangsung selama dua hari, 21–22 Oktober 2022, di Laman Boenda Tepi Laut ini juga akan ditampilkan satu produksi baru Yogie Rizky. Dia memang bukan penyair. Akan tetapi, vokalis ini adalah satu yang terbaik dalam membawakan puisi dalam format lagu. Kemudian saya yakin kawan-kawan penyair muda barang tentu tak mungkin tampil dalam format biasa.

Bagaimana dengan saya?

“Kamu jadi MC, ya?” kata Produser Kreatif kalaMusika, Husnizar Hood.

Sebuah tawaran atau ajakan yang bijak. Ia paham satu hal: hendak dianukan dengan konsep paling anu sekalipun, saya adalah pembaca puisi yang buruk—terlebih jika standar acuannya adalah kalaMusika. Lain halnya menjadi pewara. Memang ada yang lebih mantap dari saya—berat badannya?***

Continue Reading

Kabar Kita

Belum Ada Pusat Kebudayaan di Kepri, Ril!

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2022 di Tanjungpinang

Published

on

ANDAIKAN … itu kata yang sering saya ulang beberapa kali ketika memandu panggung pembacaan puisi peringatan 100 tahun Chairil Anwar di halaman DAY Headquarters Tanjungpinang, Selasa (26/7) kemarin. 

Tidak ada kata lain; cuma andaikan. Karena memang belum sampai di kenyataan depan mata sebuah provinsi yang besar karena kebudayaannya memiliki area khusus bernama Pusat Kebudayaan (dengan P dan K besar). 

Padahal, tulis penyair Hasan Aspahani di akun Facebook-nya:

“Potensi budaya dan kesenian, juga seniman hebat banyak di Kepri, mereka perlu laman bermain. Bukan untuk mereka tapi untuk publik kota.” 

Hasan tentu tidak sembarang cakap. Dia pernah lama tinggal di Batam dan sempat pula terlibat aktif dalam Dewan Kesenian Batam dan Kepulauan Riau. Hasan mengalaminya sekaligus mencatatnya. 

Kini dia aktif di Dewan Kesenian Jakarta dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan kesenian di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sementara Batam, Kepri, tempatnya pernah lama berkesenian, belum selesai, belum apa-apa

Andaikan, kata saya usai penampilan gitar solo oleh Eko Syam, kita sudah punya gedung kesenian dengan lampu sorot yang bagus, panggung yang tinggi, ruangan yang dingin, tentu penampilan Eko Syam bisa lebih baik lagi. Penonton bertepuk tangan. Mereka menangkap konteks yang sedang saya maksudkan. 

Sepekan dua di Tanjungpinang belakangan ini sedang ada ontran-ontran pembangunan gedung baru untuk Lembaga Adat Melayu. Bagi beberapa kalangan, pembangunan itu belum lagi urgen mengingat sudah ada gedung yang diperuntukkan lembaga adat tersebut di Dompak. 

Namun, gubernur bersikukuh ingin membangun gedung baru dengan anggaran mencapai Rp30 miliar. Lokasi pembangunannya direncanakan di kawasan ruang terbuka publik Anjung Cahaya di tepi laut. 

Andaikan, kata saya lagi usai penampilan duet puisi Yogi dan Veve, kita sudah punya gedung kesenian yang representatif, yang punya daya tampung besar, punya area parkir luas, tentu teatrikal Yogi dan Veve bisa tampil lebih cemerlang. Penonton bertepuk tangan lagi. Konteksnya, saya kira, sudah menancap dalam kepala mereka. 

Sementara itu, di atas panggung, ada meja dengan kotak coklat di atasnya yang bertuliskan: Sumbangan Pembangunan Pusat Kebudayaan Kepulauan Riau. Pertanyaannya: Berapalah dari kotak ini yang bisa terkumpul untuk membangun pusat kebudayaan lengkap dengan gedung keseniannya? Untuk beli pasirnya saja jauh dari kata cukup. 

Biar begitu, kotak ini ada sebagai pembangkit konteks publik. Setiap yang hadir malam itu, anak-anak, remaja, penyair, penyanyi, pelukis, mahasiswa, pedagang, pejabat, siapapun itu akan tahu bahwa ada urgensi yang sedang disuarakan: Pembangunan Pusat Kebudayaan Kepulauan Riau. Kotak itu dihadirkan bukan cuma buat diisi, tapi untuk direnungkan bersama sepulang dari acara, misalnya, mengapa sebuah provinsi yang besar karena kebudayaannya, malah tidak memiliki pusat kebudayaan?

Itu gongnya! 

Wali Kota Tanjungpinang, Rahma, meski sudah disiapkan area parkir mobilnya oleh petugas dinas perhubungan, tidak datang malam kemarin. Tapi, masih ada Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, Joko Yuhono, Kepala Bapelitbang Tanjungpinang, Surjadi, Anggota DPRD Provinsi Kepri, Bobby Jayanto, Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, Mimi Betty yang ambil bagian naik panggung dan membacakan puisi. 

Kepada merekalah aspirasi pembangunan pusat kebudayaan dititipkan. Dan jikalau itu benar-benar diperjuangkan, sungguh berjuta-juta kali lipat nilainya dibandingkan nominal rupiah yang terkumpul malam itu, yang langsung tumpas dikoyak-koyak tagihan cetak, sewa sound, dan lampu.***

Continue Reading

Trending