Connect with us

Kabar Kita

Orari Tetap Berdaya di Udara 

Husnizar Jabat Ketua Orari Kepri 2022-2027

Published

on

BATAM – Siapa bilang komunikasi radio amatir, tak peduli seberapapun canggih teknologo komunikasi digital hari ini, telah mati? Sesungguhnya, mereka tetap ada dan dan masih berdaya di udara. 

Bukti nyatanya adalah Organisasi Amatir Radio Indonesia atau yang akrab disebut Orari. Organisasi ini masih eksis. Terlebih di Provinsi Kepri yang baru memilih ketua barunya pada Sabtu (26/2) kemarin di Hotel Golden View, Batam. 

Adalah Husnizar Hood dengan call-sign YF5 TKS yang sebelumnya memimpin Organisasi Lokal (Orlok) Tanjungpinang terpilih secara aklamasi untuk memimpin Orari Provinsi Kepri. 

“Sekarang Orlok baru ada di Tanjungpinang, Batam, dan Karimun. Kami ingin dalam setahun ke depan Orlok ada di semua kabupaten/kota di Kepri,” kata Husnizar. 

Kerja-kerja memasyaratkan kembali atau setidaknya membuat orang sadar pada keberadaan komunikasi radio amatir itu bukan hal yang mudah. Terlebih di era kemajuan teknologi digital. Husnizar tak menampik tantangan itu. Tapi, kata dia, bukan berarti radio itu sesuatu yang kuno dan lantas tidak penting. 

“Karena Orari itu cadangan nasional dalam bidang komunikasi,” tegasnya.***

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kabar Kita

Pendaftaran Kepri 10K Diperpanjang Seminggu

Published

on

By

Pendaftaran Peserta Kepri 10K.

TANJUNGPINANG – Panitia ajang lomba lari maraton Kepri 10K memutuskan memperpanjang masa pendaftaran peserta sampai seminggu ke depan atau hingga 24 November 2022 pukul 00.00 WIB. Keputusan ini diumumkan secara resmi pada Jumat (18/11) petang, yang semula dijadwalkan sebagai tenggat pendaftaran. 

Ketua Panitia Kepri 10K, Lusi Cecilia, menjelaskan antusiasme masyarakat masih tinggi, bahkan hingga H-2 penutupan pendaftaran. 

“Masih banyak yang bertanya-tanya, masih banyak yang sedang menyiapkan berkas pendaftarannya, jadi kami putuskan untuk memperpanjang waktu pendaftaran sampai seminggu ke depan,” beber Lusi. 

Selama hampir sebulan terakhir dipromosikan, ajang lomba maraton Kepri 10K memang menarik minat banyak kalangan pecinta olahraga lari. Per hari ini saja, sudah hampir 700 orang yang mendaftar. Bahkan, tambah Lusi, ada juga peserta yang dari luar kota seperti Jakarta dan Surabaya. 

“Awalnya mau kami tutup saja sesuai jadwal. Tetapi, kok, nggak enak juga, ya, kalau menolak orang-orang yang antusias mau ikut. Ya sudah, akhirnya panitia sepakat untuk ditambah lagi tujuh hari. Apalagi di Pinang, kan, jarang ada event lari,” ujar Lusi. 

Hanya saja, bagi pendaftar di waktu tambahan ini ada konsekuensi berupa tidak dapat memilih ukuran kaus, sebagaimana pendaftaran di waktu normal. Lusi menjelaskan ini terkait teknis penambahan pesanan kaus di vendor. 

“Jadi, kami mohon maaf kalau nanti untuk pendaftar di waktu tambahan ini kausnya itu all-size. Bukannya panitia tidak mau, tapi karena keterbatasan waktu cetak kaus di vendor. Selebihnya, tidak ada yang berbeda, tetap dapat medali, nomor bib, dan sertifikat,” ungkap Lusi.  

Sementara itu, untuk mekanisme pendaftaran masih bisa diakses di situs keprirunningtour.com, atau menghubungi langsung panitia yang berkantor di Kedai Kopi 77 Tanjungpinang. Biaya pendaftarannya juga masih sama, yakni Rp150.000 per orang. 

Lomba maraton Kepri 10K akan dilaksankan pada 18 Desember nanti. Ini bukan sekadar lomba lari, melainkan sebuah event yang menggabungkan keseruan berlari dan berwisata. Rutenya dimulai dan berakhir di kawasan Kota Lama di Jalan Merdeka. Sebuah kawasan yang kini menjadi daya tarik baru wisata di kota Tanjungpinang. 

Beragam kategori peserta juga akan tersedia di Kepri 10K. Yakni, tercepat putra, tercepat putri, tercepat master putra, tercepat master putri, dan tercepat pelajar putra juga putri dengan total hadiah mencapai Rp58 juta.***

Continue Reading

Kabar Kita

Kenapa Saya Antusias dengan kalaMusika

Pentas Pembacaan Puisi yang Tak Biasa

Published

on

TAHUN lalu saya tidak membaca puisi. Pun tahun ini. Tetapi, antusiasme menyambut panggung kalaMusika selalu menggebu-gebu. Izinkan saya bercerita kenapa-nya.

Sebelum itu, mari kita mundur sedikit jauh.

Perkenalan saya dengan skena puisi di Tanjungpinang terjadi circa 2010. Itu tahun yang menggembirakan bagi para penyuka sastra. Tanjungpinang menjadi tuan rumah Temu Sastrawan Indonesia (TSI) III. Penyair-penyair hebat berdatangan. Itulah kesempatan awal saya bisa bersemuka dengan sastrawan bertaraf begawan macam Putu Wijaya dan Sapardi Djoko Damono—nama-nama yang selama ini sering disebut di bangku kuliah.

Di saat yang sama pula itulah kali pertama saya berkenalan dengan para penempuh jalan puisi di Tanjungpinang. Beberapa dari mereka sekarang telah berpulang, beberapa yang tersisa kini jadi teman seperngopian. Saya mengenalkan diri sebagai seorang mahasiswa jurusan pendidikan bahasa dan mereka bertanya balik: “Kamu orang Jawa?”

Ada satu nomor pertunjukan di TSI yang masih membekas hingga kini. Saat itu, seorang penyair membaca puisi dengan cara yang tak biasa. Ia naik ke panggung setelah musik dimainkan plus rekaman suaranya lebih dulu bertalu-talu. Beberapa pasang penari kemudian bermain di atas panggung tepat ketika sang penyair mengambil mikrofon dan mulai membacakan puisinya yang berjudul Syair dari Selatan.

Saya terpukau. Jagung-susu di tangan terabaikan saat puisi mulai dibacakan. Kejutan belum berhenti di situ. Di tengah penampilannya, ia tiba-tiba memanggil dua penyair muda untuk ikut menemaninya membaca puisi di atas panggung.

Saya mengumpat dalam hati. Bagaimana mungkin, rutuk saya, puisi bisa dibacakan dengan cara begitu? Saya kira puisi hanya bisa dipentaskan dengan sebuah mikrofon belaka, ternyata saya keliru. Puisi, jika dikonsep dengan benar, bisa mengubah wujud semacam konser yang gahar.

Nama penyair itu Husnizar Hood. Orang yang sebelumnya menanyakan asal muasal latar belakang saya. Orang yang sama yang kemudian mengonsep pertunjukan kalaMusika pada 2021 lalu.

Pada edisi perdana kalaMusika, ada tiga pembaca sebagai nomor utama. Yakni, Joko Yuhono yang Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, Agung Dhamar Syakti yang Rektor UMRAH Tanjungpinang, Dato Rida K Liamsi yang penyair lintas zaman. (Klik tautan berikut untuk menonton edisi lengkap kalaMusika 2021).

Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman dan hampir 200 orang di dalamnya menjadi saksi betapa puisi mampu menemui kemungkinan lain lebih dari sekadar bacaan dalam kamar. Penampilan Pak Joko, Pak Agung, dan Dato Rida serta penyair-penyair lain benar-benar menggembirakan. Saya yang ketika itu duduk di bangku belakang, sejak awal pertunjukan sampai penghabisan, benar-benar jarang membuka layar ponsel. Saya terkesima dari nomor ke nomor.    

Saya mengumpat dalam hati; persis seperti ketika menyaksikan penampilan pada TSI satu dekade lalu. Di mata saya, panggung kalaMusika benar-benar memulihkan energi puisi di Tanjungpinang yang setelah Bu Tatik tidak lagi menjabat sebagai wali kota menguap entah ke mana.

“Tanjungpinang ini kandang para macan sastra,” begitu pengakuan penyair asal Banyuwangi, Samsudin Adlawi, ketika menghadiri Festival Dermaga Sastra awal tahun lalu.

Beruntung tidak perlu menunggu sepuluh tahun lagi untuk merasakan kembali energi penuh auman para macan itu. Cukup dalam bilangan dua belas bulan, kalaMusika kembali dilaksanakan. Durasinya diperpanjang. Penampilnya dipermacam.

kalaMusika 2022.

Dari yang saya curi dengar, pada acara yang berlangsung selama dua hari, 21–22 Oktober 2022, di Laman Boenda Tepi Laut ini juga akan ditampilkan satu produksi baru Yogie Rizky. Dia memang bukan penyair. Akan tetapi, vokalis ini adalah satu yang terbaik dalam membawakan puisi dalam format lagu. Kemudian saya yakin kawan-kawan penyair muda barang tentu tak mungkin tampil dalam format biasa.

Bagaimana dengan saya?

“Kamu jadi MC, ya?” kata Produser Kreatif kalaMusika, Husnizar Hood.

Sebuah tawaran atau ajakan yang bijak. Ia paham satu hal: hendak dianukan dengan konsep paling anu sekalipun, saya adalah pembaca puisi yang buruk—terlebih jika standar acuannya adalah kalaMusika. Lain halnya menjadi pewara. Memang ada yang lebih mantap dari saya—berat badannya?***

Continue Reading

Kabar Kita

Belum Ada Pusat Kebudayaan di Kepri, Ril!

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2022 di Tanjungpinang

Published

on

ANDAIKAN … itu kata yang sering saya ulang beberapa kali ketika memandu panggung pembacaan puisi peringatan 100 tahun Chairil Anwar di halaman DAY Headquarters Tanjungpinang, Selasa (26/7) kemarin. 

Tidak ada kata lain; cuma andaikan. Karena memang belum sampai di kenyataan depan mata sebuah provinsi yang besar karena kebudayaannya memiliki area khusus bernama Pusat Kebudayaan (dengan P dan K besar). 

Padahal, tulis penyair Hasan Aspahani di akun Facebook-nya:

“Potensi budaya dan kesenian, juga seniman hebat banyak di Kepri, mereka perlu laman bermain. Bukan untuk mereka tapi untuk publik kota.” 

Hasan tentu tidak sembarang cakap. Dia pernah lama tinggal di Batam dan sempat pula terlibat aktif dalam Dewan Kesenian Batam dan Kepulauan Riau. Hasan mengalaminya sekaligus mencatatnya. 

Kini dia aktif di Dewan Kesenian Jakarta dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan kesenian di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sementara Batam, Kepri, tempatnya pernah lama berkesenian, belum selesai, belum apa-apa

Andaikan, kata saya usai penampilan gitar solo oleh Eko Syam, kita sudah punya gedung kesenian dengan lampu sorot yang bagus, panggung yang tinggi, ruangan yang dingin, tentu penampilan Eko Syam bisa lebih baik lagi. Penonton bertepuk tangan. Mereka menangkap konteks yang sedang saya maksudkan. 

Sepekan dua di Tanjungpinang belakangan ini sedang ada ontran-ontran pembangunan gedung baru untuk Lembaga Adat Melayu. Bagi beberapa kalangan, pembangunan itu belum lagi urgen mengingat sudah ada gedung yang diperuntukkan lembaga adat tersebut di Dompak. 

Namun, gubernur bersikukuh ingin membangun gedung baru dengan anggaran mencapai Rp30 miliar. Lokasi pembangunannya direncanakan di kawasan ruang terbuka publik Anjung Cahaya di tepi laut. 

Andaikan, kata saya lagi usai penampilan duet puisi Yogi dan Veve, kita sudah punya gedung kesenian yang representatif, yang punya daya tampung besar, punya area parkir luas, tentu teatrikal Yogi dan Veve bisa tampil lebih cemerlang. Penonton bertepuk tangan lagi. Konteksnya, saya kira, sudah menancap dalam kepala mereka. 

Sementara itu, di atas panggung, ada meja dengan kotak coklat di atasnya yang bertuliskan: Sumbangan Pembangunan Pusat Kebudayaan Kepulauan Riau. Pertanyaannya: Berapalah dari kotak ini yang bisa terkumpul untuk membangun pusat kebudayaan lengkap dengan gedung keseniannya? Untuk beli pasirnya saja jauh dari kata cukup. 

Biar begitu, kotak ini ada sebagai pembangkit konteks publik. Setiap yang hadir malam itu, anak-anak, remaja, penyair, penyanyi, pelukis, mahasiswa, pedagang, pejabat, siapapun itu akan tahu bahwa ada urgensi yang sedang disuarakan: Pembangunan Pusat Kebudayaan Kepulauan Riau. Kotak itu dihadirkan bukan cuma buat diisi, tapi untuk direnungkan bersama sepulang dari acara, misalnya, mengapa sebuah provinsi yang besar karena kebudayaannya, malah tidak memiliki pusat kebudayaan?

Itu gongnya! 

Wali Kota Tanjungpinang, Rahma, meski sudah disiapkan area parkir mobilnya oleh petugas dinas perhubungan, tidak datang malam kemarin. Tapi, masih ada Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, Joko Yuhono, Kepala Bapelitbang Tanjungpinang, Surjadi, Anggota DPRD Provinsi Kepri, Bobby Jayanto, Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, Mimi Betty yang ambil bagian naik panggung dan membacakan puisi. 

Kepada merekalah aspirasi pembangunan pusat kebudayaan dititipkan. Dan jikalau itu benar-benar diperjuangkan, sungguh berjuta-juta kali lipat nilainya dibandingkan nominal rupiah yang terkumpul malam itu, yang langsung tumpas dikoyak-koyak tagihan cetak, sewa sound, dan lampu.***

Continue Reading

Trending