Connect with us

Minda Kita

Perkara Mazhab Pantun

Published

on

Perdebatan berkaitan pembayang atau sampiran dengan isi atau maksud pantun masih sering terjadi sampai kini. Ternyata dalam kurun yang lampau, mengenai kedua bagian ini sudah menjadi sebuah perdebatan panjang. Braginsky (1998) menjelaskan bahwa sifat hubungan antara bagian pertama dengan kedua, selama lebih dari seratus tahun tetap menjadi sebuah soal besar di kalangan para peneliti pantun. Di antara mereka itu misalnya W. Marsden (1784), J.Pijnapel (1883), H. Overbeck (1922), R. Stiler (1971), semua mengutamakan pada adanya asosiasi semantik antara sampiran dan isi. Selain peneliti tersebut juga terdapat peneliti lain yang memiliki pemahaman bahwa terdapat hubungan antara sampiran dan isi seperti John Leyden yang menjelaskan bahwa antara baris sampiran sebuah pantun seharusnya mempunyai perkaitan, kiasan, atau arti dengan baris maksud (Hussain, 2019). Kemudian sebagaimana dituliskan oleh Hussain (2019) di dalam bukunya menjelaskan dari beberapa kutipan yaitu dari pendapat Crawfurd yang menjelaskan bahwa pantun merupakan sebuah teka-teki pengertian dan bukan saja permainan kata. 

Pendapat beberapa ahli di atas, boleh dikatakan sebagai Mazhab pantun yang memiliki hubungan sampiran dan isi, hubungan ini lebih dari hanya sekedar menyamakan persajakan A,B,A,B. Pendapat beberapa ahli di atas memang sepatutnya dapat diterima. Karena sampai saat ini pendapat bahwa hubungan semantik antara sampiran dan isi sesungguhnya memang terjadi dan tak hanya sekedar menyamakan rima dan persajakan belaka. Seorang pengkaji pantun bernama Philip L. Thomas dalam sebuah makalahnya yang berjudul Phonology and Semantic Suppression in Malay Pantun (1985) menjelaskan bahwa di dalam pantun terdiri dari empat baris yang tersusun secara berpasangan. Pasangan pada baris pertama disebut dengan “Pembayang Maksud”, dalam istilah lain yang ditulis oleh Philip L. Thomas disebut dengan “Pendahulu Niat” atau foreshadower of intention yang mendeskripsikan tentang alam. Kemudian Philip L. Thomas (1985) melanjutkan penjelasannya, di dalam pasangan baris kedua disebut dengan “Maksud” atau Niat. Thomas (1985) dengan menyebutkan istilah “Pendahulu Niat” untuk bagian yang disebut dengan Pembayang Maksud atau Sampiran dan “Niat” untuk bagian yang disebut dengan isi. 

Pendapat Thomas ini senada juga dengan apa yang dijelaskan oleh Za’ba yang dikutip oleh Muhammad Haji Salleh (2000) dan Hussain (2019) yang berbunyi “…jika pantun yang cukup elok boleh dilihat pembayangnya mengandungi maksud pantun itu dengan cara kias dan bayangan disambilkan kepada gambaran-gambaran alam dan sebagainya. Tujuan yang dimaksud itu telah ada terbayang disitu, tetapi nada terang seolah-olah sengaja ditudung…”

Dalam sebuah kajian yang dilakukan oleh Harun Mat Piah (1989) mungkin akan sedikit memberikan pencerahan, bahwa perdebatan panjang tentang pembayang dan maksud pantun itu bermuara pada tiga mazhab pantun yaitu,mazhab pertama, pantun-pantun yang jelas menunjukkan perhubungan antara pembayang dengan maksud pantun, mazhab kedua, pantun-pantun yang mempunyai hubungan tetapi tidak sejelas pada mazhab pertama tadi, mazhab ketiga, pantun-pantun yang jelas tidak berhubungan. Harun Mat Piah (1989) telah menghasilkan sebuah kesimpulan dalam kajiannya terhadap 1000 pantun yang ditemukannya. Harun Mat Piah (1989) kemudian menyimpulkan bahwa dari 1000 pantun yang dikajinya menghasilkan penjelasan yaitu, pertama, 25% merupakan pantun yang ditemukannya dalam lingkup mazhab bahwa pembayang dan maksud pantun memiliki hubungan, kedua, 30% pantun yang ditemukannya berada pada mazhab bahwa pantun-pantun itu memiliki hubungan dalam pembayang dengan maksud pantun tetapi tidak sejelas dalam mazhab pertama, ketiga, 45% pantun yang ditemukannya jelas antara pembayang dengan maksud pantun tidak memiliki hubungan. 

Dari hasil kajian Harun Mat Piah (1989) tersebut dapat dibuat sebuah kesimpulan menarik, bahwa perdebatan panjang mengenai hubungan pembayang dengan maksud pantun bukanlah perlu dipertentangkan antara mazhab-mazhab tersebut. Di dalam sebuah pantun, khususnya pantun Melayu, tidaklah mutlak bahwa antara pembayang dengan maksud pantun memiliki hubungan yang kuat, bahkan bisa saja tidak berhubungan sama sekali. Artinya di dalam pantun-pantun Melayu bukanlah suatu pengharaman jika terdapat pantun yang antara pembayang dan maksudnya memiliki hubungan semantik yang sangat indah dan kuat, namun bukan juga suatu kesalahan fatal jika antara pantun-pantun yang ada antara pembayang dan maksud pantun tidak memiliki hubungan semantik melainkan hanya hubungan persajakan dan bunyi pada pantun. Prof. Muhammad Haji Salleh (2000) di dalam kajiannya memberikan sebuah contoh pada pantun yang antara pembayang dan maksud pantunnya memiliki hubungan semantik atau masuk dalam mazhab pertama sebagai berikut.

Kalau padi kata padi 
Jangan sahaya tertampi-tampi
Kalau jadi kata jadi
Jangan sahaya ternanti-nanti

Muhammad Haji Salleh (2000) menjelaskan bahwa di dalam pantun ini merupakan pantun dengan unsur sama ukuran yang agak sempurna. Kesempurnaan ini dapat dilihat dari sintaks yang sama dalam baris pertama dan ketiga yang memiliki makna “kekalauan”. Untuk contoh pantun dalam kategori mazhab kedua dicontohkan oleh Harun Mat Piah (1989) pada pantun yang ditemukan oleh Pijnapel, Ophuijsen dan Winstedt berikut. 

Satu dua tiga enam 
Enam jadi satu jadi tujuh
Buah delima yang kutanam
Mengapa maka peria tumbuh

Pantun di atas, masih terlihat indah, karena perhubungan maksud pantun dengan metafora atau kiasan yang dibangunnya lewat kata delima dan peria. Harun Mat Piah (1986) dalam kajiannya menjelaskan bahwa Delima dan Peria adalah sebuah perlambang yang kontras yaitu manis dan pahit, baik dan jahat, atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Makna maksud pantun ini adalah sebuah perbuatan baik diberikan balasan berupa hal-hal yang Jahat. Sementara pada pembayang juga merupakan suatu hal yang kontras dari sisi angka-angka yang disebutkan, dimana angka satu dua dan tiga merupakan angka yang berurutan namun dengan tiba-tiba masuk angka enam. Begitu juga antara enam dan satu. Namun perhubungan antara pembayang dan maksud pantun ini tidaklah berhubungan semantik dalam hal yang sangat kuat kecuali pemaknaan yang aneh atau pelik. 

Ada satu mazhab lagi yaitu dimana pantun-pantun itu tak semesti terdapat hubungan antara pembayang dan maksud pantunnya. Hal ini dikatakan oleh Harun Mat Piah (1986) terjadi pada pantun-pantun yang dikarang dalam keadaan spontan, dalam aktivitas berkesenian seperti dondang sayang, bongai, canggung, lotah dan sebagainya. Begitu juga pantun-pantun spontan yang kerap muncul juga di dalam adat istiadat perkawinan meski terdapat juga pantun-pantun yang sudah baku berupa nasehat-nasehat adat. Harun Mat Piah (1986) kemudian menjelaskan mazhab pantun dengan perhubungan semantik indah dan tinggi itu berdasarkan hasil kajiannya, banyak terdapat pada pantun berkasihan atau pantun cinta dan pantun berceraian. Penulis juga memiliki sebuah pantun.

Bagai patah tak tumbuh lagi
Rebah sudah selasih di taman
Bagai sudah tak suluh lagi
Patah sudah kasih idaman

Kira-kira mazhab yang manakah?***

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Minda Kita

Bicara Parikan dan Pantun

Published

on

Pada masyarakat Jawa dengan sebuah puisi lama yang dianggap sebagai sebuah puisi abadi yang takkan lekang dimakan zaman yang bentuknya adalah pantun, namun pada masyarakat di Jawa menyebutnya sebagai parikan, yaitu sejenis puisi yang sangat merakyat karena mudahnya dibuat dan diucapkan oleh siapapun tanpa pandang umur, tempat atau pendidikan. Susunannya sangat bebas, hanya ia terbagi dalam dua bagian yang fundamental, yang biasa disebut dengan sampiran dan isi. Sampiran pada parikan adalah bagian pertama yang merupakan wadah, dan isi pada parikan adalah bagian kedua yang menjadi pelengkap, pasangan atau jodoh bagi wadah yang sudah dipersiapkan. Kedua bagian tersebut di dalam parikan, menjadi sebuah loro-loro atunggal, atau dwitunggal, monodualisme. Sebagaimana dwitunggal manapun yang mungkin ada di dunia ini, yang satu mustahil ada tanpa yang lain, dan demikian sebaliknya. Kehadirannya baru sah, alamiah, dan vital apabila kedua-duanya ada, saling melengkapi dan memenuhi fungsinya sebagai karya seni yang indah, mendidik dan sekaligus menghantarkan kenyataan hidup (Toer, 2011). 

Kemudian Toer (2011) juga menjelaskan bahwa sampiran berisi bunyi yang merupakan tantangan, apabila tantangan sudah dilontarkan maka jawaban harus diberikan. Tidak ada tantangan tidak ada pula jawaban, sebaliknya tidak mungkin ada jawaban jikalau tanpa adanya tantangan. Dari segi bentuk pun, parikan baru memenuhi fungsinya apabila sudah terlaksana kerjasama serasi antara kedua unsur yang saling melengkapi ini (Toer, 2011).

Penjelasan di atas, menunjukkan bahwa parikan adalah sebuah pantun, hal ini dapat dibuktikan bahwa di dalam parikan, terdapat sampiran dan isi. Malah parikan memiliki karakter yang sangat spesifik dan mirip dengan karakter dan ciri pantun Melayu. Di mana bagian sampiran atau dalam pantun Melayu disebut dengan pembayang maksud memiliki hubungan semantik dan terkadang mengandung hubungan yang saling melengkapi pada isi pantun. Sehingga beberapa pendapat bahwa pembayang maksud pada pantun Melayu adalah sebuah frase yang mengantarkan isi pantun namun sudah terlihat dari sampiran atau pembayang maksudnya. Seorang pengkaji pantun, Muhammad Haji Salleh pernah mengutip pendapat Za’ba dan kemudian ditulis oleh Eizah Mat Hussain (2019) di dalam sebuah bukunya berjudul “Simbol dan Makna dalam Pantun Melayu” menjelaskan bahwa,

“…jika pantun yang cukup elok boleh dilihat pembayangnya mengandungi maksud pantun itu dengan cara kias dan bayangan disambilkan kepada gambaran-gambaran alam dan sebagainya. Tujuan yang dimaksud itu telah ada terbayang disitu, tetapi nada terang seolah-olah sengaja ditudung…” (Za’ba, 1965; Salleh, 2006; Hussain, 2019).

Hal tersebutlah yang kemudian menjadi sebuah pertanda bahwa parikan juga memenuhi unsur pantun dan bahkan memiliki karakteristik yang hampir sama dengan pantun Melayu. Antara parikan dan pantun Melayu yang memiliki sifat yang sama dengan dibuktikan dengan adanya keterkaitan, hubungan dan ketergantungan sampiran dan isi secara semantik. Ciri seperti inilah yang kemudian menjadi parikan itu adalah sebuah pantun yang sampiran dan isinya adalah dwitunggal. Dua hal yang saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Sehingga kualitas pantun atau parikan itu memiliki kualitas yang baik. 

Di dalam parikan ada beberapa istilah yang memang tidak dijumpai pada pantun, namun hal ini hanya istilah penyebutan untuk sebuah bagian pada parikan. Dalam menyebutkan baris, di dalam parikan disebut dengan gatra. Masing-masing gatra terdapat dua potongan yang disebut dengan pedhotan. Di dalam parikan yang berjumlah empat baris, maka dua gatra pertama disebut dengan sampiran dan dua gatra selanjutnya disebut dengan isi.  Sementara parikan yang berjumlah dua baris maka gatra pertama disebut sampiran dan gatra kedua disebut dengan isi (Toer, 2011). Parikan dua baris disebut dengan parikan tunggal, sementara pada pantun, pantun yang terdiri dari dua baris disebut dengan karmina atau pantun dua kerat, dan bersajak A,A. Sementara parikan yang terdiri dari empat baris disebut dengan parikan ganda, dan bersajak A,B,A,B (Toer, 2011). Persajakan ini juga sama halnya dengan pantun pada umumnya. 

Mari kita simak beberapa contoh parikan berikut yang juga dikaitkan dengan pantun. Perhatikan parikan tunggal berikut yang kita bandingkan dengan karmina atau pantun dua kerat. Berikut contoh parikan tunggal. 

Mlaku-mlaku wira-wiri (4 kata, 8 suku kata)
Tekan gardhu nyandung watu (4 kata, 8 suku kata)
Ngaku-aku dadi tani (4 kata, 8 suku kata)
Nyandhak garu jare luku (4 kata, 9 suku kata)

(Sumber Parikan Ganda: Toer, 2011)

Perhatikan pantun berikut. 

Apa guna pasang pelita (4 kata, 9 suku kata)
Jika tidak dengan sumbunya (4 kata, 9 suku kata)
Apa guna bermain mata (4 kata, 9 suku kata)
Jika tidak dengan sungguhnya (4 kata, 9 suku kata)

(Sumber pantun: Marsden, 1784)

Perhatikan antara keduanya, perbedaan antara kedua tradisi lisan ini hanyalah dari sisi penggunaan bahasanya, jika pada parikan ganda menggunakan bahasa Jawa yang memang ciri khas dari parikan, sementara pada pantun adalah bahasa Melayu, dan pantun itu merupakan pantun yang cukup tua yang ditemukan oleh Marsden dan kemudian ditulis di dalam bukunya berjudul The History of Sumatera (1784). Antara keduanya jika dilihat dari adanya sampiran dan isi, maka keduanya memiliki bagian tersebut, di mana dua baris pertama tampak merupakan karakteristik bahasa sampiran, dan dua baris berikutnya disebut isi. Penggunaan jumlah kata dan suku kata adalah sesuai dengan jumlah kata dan suku kata pada pantun, demikian juga persajakan yang digunakan, bahkan tidak hanya persajakan akhir, namun persajakan juga bermain di tengah atau pada kata kedua sebagaimana pada kata yang dicetak tebal. Hal ini menyimpulkan bahwa parikan sesungguhnya adalah berjenis pantun yang terdapat di tanah Jawa, dan hal ini membuktikan bahwa pantun bukanlah hanya terdapat di tanah Melayu saja, dan masih banyak daerah lain yang memiliki sifat tradisi lisan yang bentuknya adalah pantun atau serupa pantun, dan parikan adalah tradisi lisan di Jawa yang juga adalah pantun.***

Continue Reading

Minda Kita

Panggung yang Sebenarnya

Published

on

“Sudah lama rasanya kita tak merasakan hentakan musik dan kilau cahaya lampu yang memenuhi ruang kemudian kita bisa berteriak sekuat hati untuk menumpahkan rasa,” begitu ucap Mahmud di belakang panggung gedung kesenian Aisyah Sulaiman Tanjungpinang, kemarin.

Gedung kesenian yang mengambil nama seorang perempuan penulis hebat yang hidup di Pulau Penyengat pada zamannya dulu. Ya, Raja Aisyah Sulaiman.

Gedung kesenian itu selama ini kosong karena pandemi melanda negeri ini. Orang-orang dilarang untuk berkumpul. Acara-acara kesenian dihapuskan, istilahnya “refocussing” anggaran, uangnya dibelikan sembako untuk menyelamatkan rakyat dari kesulitan, tapi seniman tetap saja tak kebagian, malah para seniman-seniman yang susah itu disuruh berkarya dari rumah tampil di depan kamera dan penontonnya adalah lensa, itupun bagi para seniman yang punya handphone bagus dengan kamera canggih kalau pakai handphone “senter” jangan harap bisa. Gelap nasibnya.

Ya, gelap seperti ruangan ini karena baru saja digelapkan pertanda acara segera dimulai. Tohar si manager panggung mulai memberi aba-aba kepada semua kru.

Tak usah dipikirkan berapa banyak penonton atau ada-tidak pejabat yang hadir, karena itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa inilah panggung yang sebenarnya, tempat seniman menampilkan karyanya.

Mahmud, kawan baik saya itu sudah melakukan pemanasan karena dia adalah salah satu penampil pada malam itu dalam acara yang diberi tajuk Festival Dermaga Sastra. Katanya, dia akan membaca puisi sebagai pengantar karena puisinya itu sudah dijadikan sebuah lagu dan dinyanyikan oleh Yogi dengan aransemen Raja Helmi and The Adam Band.

Dermaga? Saya tanyakan pada Mahmud, kenapa harus dermaga, kawan saya itu menjawab, “Dermaga itu adalah gambaran kehidupan tentang dunia ini, tempat orang datang dan pergi, berpisah atau bertemu kembali, membongkar semua yang dibawa, berjual beli dan melepas rindu ketika kapal-kapal bersandar kemudian melepaskan talinya lagi.”

Waduh, mentang-mentang mau membaca puisi, jawaban Mahmud terdengar puitis sekali dan malam itu ada sederetan nama yang melepaskan rindunya membaca puisi dipandu oleh Fatih Muftih penyair muda yang malam itu bertindak sebagai pemandu acara yang cerdas dan menghibur.

Hasan Aspahani dari Jakarta, Syamsudin Adlawi dari Banyuwangi, dan Marhalim Zaini dari Pekanbaru adalah para tetamu kami malam itu. Tapi tuan rumah seperti Bu Suryatati A. Manan mantan wali kota Tanjungpinang yang penyair itu seperti tak mau dikalahkan.

Apalagi Pak Joko Yuhono Jaksa Penyair yang selalu tampil mengejutkan membuat Fatih memberi nilai sebuah penampilan berstandar tinggi dan membuat Tarmizi Rumahitam dari Batam langsung grogi.

Dato Rida tampil menawan kemudian Rendra dan Yoan yang dipuji oleh Hasan. Katanya, Yoan dan Renda pantas tampil di Jakarta. Tapi Teja dan Akib pasangan “duet maut” yang biasanya tampil apik malam itu membuat semua tergelitik terpingkal-pingkal mungkin latihan yang belum kelar dan kabarnya sejak malam itu pasangan itu dinyatakan bubar.

Oh ya malam itu acara dibuka oleh pembacaan puisi oleh pasangan suami-istri birokrat yang menjadi kepala dinas bidang yang sama hanya wilayahnya berbeda, Juramadi Esram Kepala Dinas Kebudayaan Kepri dan Meitya Yulianti, istrinya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Tanjungpinang.

Rasanya malam itu terlalu cepat berlalu dan gedung kesenian itu gelap kembali. Memang begitulah setiap perjalanan, dimulai dan berhenti, riuh dan kemudian sepi, tapi kita tak boleh berhenti, harus tetap menulis apa saja yang kita rasakan, kegaiban minyak goreng, saktinya pawang hujan Mandalika, misteri birahi tiga priode atau “crazy rich” yang gila dipenjara.

Mahmud dan mereka yang baru saja tampil terutama para tetamu akhirnya terdampar di “Prata Roy” malam itu. Ngopi atau teh tarik pesta kecil-kecilan yang menarik sebagai bentuk cara perpisahan yang terbaik. 

Sampai jumpa lagi di panggung lain nanti.***

Continue Reading

Minda Kita

Malaysia Hentikan F1, Bintan Minat

Published

on

Malaysia mencoret F1 di Sepang Malaysia karena rugi setelah 17 tahun digelar di sana. Untuk setiap tahun diperlukan 300 juta ringgit. Dan mereka tak dapat untung dari modal yang pemerintah keluarkan tersebut. 300 juta ringgit itu setara Rp1 triliun lebih. 

 Kondisi tak balik modal pemicu F1 di Sepang ditiadakan. Ini menurut pemerintah Malaysia yang dikutip dari Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Malaysia, Datuk Seri Nazri Abdul Aziz yg dikutip dari Malaymailonline.

Kerugian disebabkan tiket terjual tak sesuai dengan target. Bisa dikatakan sepi peminat. Beda dengan Motor GP tetap mereka pertahankan di Sepang karena masih untung.

Dan menarik Bambang Soesatyo yang juga ketua IMI mengajak investor akan membangun sirkuit F1 di Lagoi, Bintan, Kepulauan Riau yang juga tetangga Malaysia. 

Nilai proyek sebesar Rp1 triliun lebih. Artinya hampir sama dengan biaya yang dikeluarkan Malaysia dalam melaksanakan pergelaran F1 setiap tahun. 

Jika benar yang dikatakan menteri Pariwisata Malaysia besarnya biaya F1 yang mereka keluarkan 300 juta ringgit per tahun, apakah penjualan tiket di Bintan jika jadi dilaksanakan di sana bisa menembus 300 juta ringgit?

Kalau hanya mengandalkan turis, tentu Malaysia lebih banyak dikunjungi turis mancanegara dan mudah dijangkau dibandingkan dengan Bintan. 

Artinya penonton lokal Malaysia tak tertarik menonton F1 sehingga mereka merugi alias tak balik modal yang sudah dikeluarkan.

Nah, jika jadi di Bintan beberapa tahun mendatang, bisa saja penontonnya dari warga setempat dan pejabat pejabat dari ibukota. Kalangan kaya di Jakarta dan kota besar lainnya bisa ke Bintan.

Pertanyaannya,  mengapa tak dibuat di Jakarta atau gunakan sirkuit Sentul yang sudah ada. Tak membangun dari nol jika dibandingkan dengan Bintan. Bahkan balapan Formula E  yang digagas Anies Baswedan di Jakarta rencana digelar tahun ini.

Bambang Soesatyo tahun 2021 memang sempat mewacanakan sirkuit Sentul akan digunakan sebagai lokasi ajang balapan F1, seperti disiarkan Tempo.co. 

Ya, kita tunggu sajalah apakah akan benar benar dilakukan pembangunan di Lagoi. Karena investor dari Singapura sudah minat membangun sirkuit F One.

Moga saja Bintan seperti Mandalika, sukses melaksanakan Motor GP. Jika jadi dilaksankan pembangunan sirkuit maka akan siap di 2024. 

Kita bisa mendengarkan suara dentuman kecepatan jet darat tersebut dari Simpang Lagoi. Karena tentu menonton kemewahan seperti F1 tak semua orang bisa.

Harga tiket masuk F1 bisa dapat minyak goreng dan beras maupun sembako lainnya untuk kebutuhan satu hingga dua Minggu.***

Continue Reading

Trending