Connect with us

Orang Kita

Husnizar Hood: Karena Kawan Saya Mahmud

Husnizar Hood sebagai penyair, kita tahu. Husnizar sebagai politisi, apalagi. Kalau Husnizar sebagai kolumnis?

Published

on

Husnizar Hood. Foto-foto: Thenny Feliciano

SETIAP akhir pekan istri dan anak-anaknya tahu Husnizar tidak bisa diganggu. Jikalau ada tamu, bolehlah disuruh menunggu. Jika ada masalah, bolehlah dipikir nanti. Akhir pekan menjadi waktu yang rawan karena tulisannya ditunggu redaksi surat kabar untuk tayang di kolom Temberang. “Tidak terasa sudah lebih dari 17 tahun menulis untuk Temberang,” ujar Husnizar, ditemui di rumahnya di Tanjungpinang, awal Mei lalu. 

Rutinitas ini sudah dimaklumi anggota keluarganya. Mereka sebisa mungkin tidak mengusik sang kepala keluarga saat tenggat menulis Temberang tiba. Bahkan beberapa jadwal seperti jalan-jalan pun bisa patah balik jikalau ingat belum merampungkan tulisan. Dan ini terjadi bukan sekali dua. Bukannya mengganggu, istri dan anak-anaknya kini malah menjadi golongan yang pertama mengingatkan setiap akhir pekan: “Sudah menulis Temberang, Pap?”

Rutinitas akhir pekan selama 17 tahun itu telah menghasilkan lima buku kumpulan kolom Temberang. Mulai dari Orang Melayu Cuma Pandai Bercerita (2003), Mahmud Jadi Dua (2008), Lebih Baik Mati Berdiri Daripada Hidup Berlutut (2011), Mahmud Is Back (2013), dan Semakin Miang Semakin Disayang (2016). Dan kini dalam brankas tulisannya, masih ada ratusan judul yang belum dibukukan. 

“Setiap buku itu hanya memuat 30-40 judul. Dalam setahun ada 52 minggu, artinya ada 52 tulisan. Kita bulatkan sajalah jadi 50, lalu kalikan dengan 17 tahun. Berapa jumlahnya?” ucap Husnizar. 

Baru Husnizar sadar. Ia geleng-geleng kepala sendiri. Ternyata jumlah tulisan tiap akhir pekannya sudah sebanyak itu. Ia tidak pernah menyangka sudah berkawan dengan Mahmud—tokoh utama di kolom Temberang—sudah selama itu. 

“Saat awal-awal menulis Temberang, belum ada Mahmud. Tetapi saya terpikir mesti menciptakan seorang tokoh yang menemani saya bercerita atau sebaliknya. Kalau Seno Gumira Ajidarma punya Sukab, Taufik Ikram Jamil punya Wahab, maka saya punya Mahmud,” beber penulis kelahiran desa Sungai Ungar, Tanjungbatu, 53 tahun lalu ini.

Formula ini mendapat sambutan baik dari Hasan Aspahani, pemimpin redaksi Batam Pos waktu itu. Kehadiran Mahmud membawa warna dan pola lain dalam tulisan Temberang. Keluh kesah, suka hati, kerisauan, kemarahan, dan segala apapun yang dirasai Mahmud kerap menjadi titik tolak cerita diantar. 

Mahmud bisa menjadi pengamat politik yang cerdas dan jenaka. Mahmud bisa menjadi penyair yang risau dan setia. Dalam beberapa kesempatan, Mahmud juga bisa menjadi juru masak, pemain musik, pelakon teater, penjual pulsa, hingga superhero. Mahmud bisa menjadi apa saja.

“Tapi kawan saya Mahmud itu adalah seorang nelayan yang tinggal di Dompak. Nelayan yang selalu risau bukan karena tak dapat ikan, namun hendak ke mana negerinya dibawa. Biarpun berpendidikan rendah, Mahmud tahu mana yang patut mana yang salah,” kata Husnizar. 

Kalau usianya? “Samalah dengan saya,” jawabnya lantas tertawa. 

Sebagian pembaca setia Temberang paham bahwa Mahmud adalah tokoh rekaan. Namun, ada sebagian yang lain yang pernah menganggap Mahmud adalah tokoh nyata. Kesan ini hadir tak lepas dari cara berkisah Husnizar yang memikat dengan menjadikan Mahmud tak ubahnya manusia pada umumnya yang memiliki kerisauan akibat susahnya mencari ikan karena laut tercemar limbah, yang kerepotan mendaftarkan sekolah anak, atau yang kebingungan mencari calon pemimpin saat pilkada. 

“Jadi pada suatu acara, saya lupa persisnya kapan, ada ibu-ibu datang dan ingin berkenalan dengan Mahmud. Bahkan ia sampai bertanya di Dompak sebelah mana Mahmud tinggal. Saya sampai bingung harus menjelaskannya seperti apa,” kenang Husnizar. 

Pernah dalam suatu edisi, Husnizar bercerita Mahmud menghilang dan tidak ada kabar. Itu membuatnya risau. Jikalau sudah begini, ia tahu bahwa Mahmud sedang merajuk, sedang ada yang tak kena dengan dirinya. Ditelepon, tidak diangkat. Di-sms, tidak dibalas. 

Saat tulisan itu ditayangkan, reaksi pembacanya bernada seragam: Mahmud kenapa? Mahmud ke mana? Hingga ada yang mengultimatum Husnizar harus menemukan Mahmud agar kembali hadir di Temberang dan menceritakan keluh-kesahnya. Semua itu adalah bukti Mahmud kini tidak kawan Husnizar seorang, melainkan juga kawan bagi seluruh pembaca setia Temberang.

“Sejak saat itu, saya dan kawan saya Mahmud itu seperti tidak bisa dipisahkan,” ungkap Husnizar.

Pernah ada suatu kesempatan Husnizar ditawari agar kisah-kisah Temberang itu dialihwahanakan ke medium audio-visual, menjadi semacam episode pendek situasi-komedi untuk ditayangkan di televisi lokal maupun kanal YouTube. Namun tawaran itu, dengan berat hati, mesti ditolaknya. Ada satu alasan sentimentil yang membuatnya macam tak larat menyanggupi alih-wahana itu. 

“Mahmud ini sudah hidup di benak banyak orang. Akhirnya saya memutuskan, biar begitulah adanya, biar orang sendirilah yang mencitrakan Mahmud itu fisiknya seperti apa, gaya bicaranya seperti apa, kalau merajuk ekspresinya seperti apa. Saya ingin kawan saya Mahmud itu tetap hidup dalam ingatan pembacanya dengan cara yang macam-macam. Bukan karena visual yang dibentuk lewat tayangan itu,” bebernya. 

Sebuah pilihan yang tidak buruk-buruk amat. Sebab selama ini acapkali alih wahana dari buku ke film justru “merusak” imajinasi pembaca. Dan Husnizar mencegah itu demi kebaikan Mahmud itu sendiri. 

“Bahaya nanti kalau Mahmud lebih terkenal dari saya,” candanya. 

Jaga Stamina Kepenulisan 

Menulis kolom mingguan artinya harus berdisiplin pada tenggat. Tidak peduli dengan kesibukan apa yang sedang melanda penulisnya dalam kehidupan sehari-hari, tulisan harus tetap ada. Redaksi tidak menerima alasan kolumnis medioker semacam “lupa menulis” atau “sedang tidak ada ide”. Dan pada Temberang, Husnizar sendiri merasakan tuntutan itu. 

Ia pernah 10 tahun sebagai anggota legislatif dan aktivitas itu tidak lantas boleh jadi dalih alpa menulis Temberang.Tak peduli sedang di Tanjungpinang, luar daerah atau bahkan luar negeri, Temberang harus tetap dikirim pada akhir pekan sebelum koran naik cetak. 

“Termasuk saat saya Umrah pun harus tetap mengisi. Benar-benar tidak ada libur menulis Temberang kecuali koran tidak terbit saat Lebaran,” ujar Husnizar. 

Tuntutan semacam ini ikut mengubah cara Husnizar menulis. Dahulu, ia mengaku baru bisa menulis jika menggunakan komputer atau laptop di atas meja. Hanya saja terkadang karena aktivitas yang kelewat padat, cara itu jadi tidak efisien. Itu jenis kemanjaan yang dibuat-buat. Apalagi Husnizar ogah pergi ke mana-mana menenteng laptop. Alhasil, ia memilih mendisiplinkan diri untuk lancar menulis via ponselnya. 

“Awalnya susah juga. Sering salah ketik. Khawatir kependekan atau kepanjangan. Tapi sekarang sudah terbiasa, sudah tahu seberapa panjang tulisan untuk Temberang. Dengan begitu, saya bisa menulis di mana saja, bahkan sekalipun dalam toilet atau di perjalanan,” jelasnya. 

Menurutnya, aktivitas yang padat, kondisi yang mendesak, maupun perangkat yang seadanya, bukanlah hambatan sebenarnya dalam menulis Temberang selama 17 tahun terakhir. Justru yang paling dirisaukannya adalah ketika dalam seminggu tidak terjadi peristiwa lokal maupun nasional yang bisa dikomentari. Keadaan ini membuatnya mesti lihai mencari ide untuk dipertembungkan dengan Mahmud. Apalagi memang sudah menjadi karakter Mahmud yang gemar mengomentari fenomena atau peristiwa apapun. 

Namun, jika dalam seminggu terlalu banyak peristiwa repot juga. Tidak semua lantas harus dimasukkan dalam tulisan. Tidak semua kemudian harus Mahmud komentari. “Itu yang bikin pening, karena harus tahu cara mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Itu pun biasanya tidak semua bisa dikait-kaitkan. Saya kira di sinilah tantangan menulis kolom itu. Apalagi 17 tahun lamanya. Kadang juga harus lihai agar tidak mengulangi tulisan sebelumnya,” akunya. 

Walau begitu, Husnizar tak memungkiri aktivitas menulis kolom Temberang tiap akhir pekan memberikan dampak positif buatnya. Popularitas adalah dampak kecil belaka. Yang paling terasa, Temberang adalah sarananya menjaga stamina kepenulisan. 

Jika penulis diibaratkan sebagai pelari jarak jauh, Temberang adalah lari-lari kecil jarak pendek yang harus rutin dilakukan agar tidak kehilangan tempo dan kelincahan. Stamina kepenulisan yang terjaga ini pula yang membuat Husnizar pun hingga kini masih produktif menulis puisi atau naskah sandiwara atau konsep-konsep pertunjukan. 

“Bang Rida (Rida K Liamsi, red) pernah bilang bahwa saya dan kawan saya Mahmud harus tetap menulis Temberang agar semangat menulis saya tak hilang.

Sekarang baru benar terasa apa yang disampaikan Bang Rida itu. Kalau tak menulis Temberang, mungkin saya menjadi penulis yang malas dan lambat laun orang akan melupakan saya,” ujarnya.

Bukan suatu kebetulan jikalau satu dari dua arti temberang versi KBBI adalah tali-temali di perahu/kapal yang memperteguh tiang. Sementara bagi Husnizar, Temberang adalah rutinitas yang memperkokoh semangat menulisnya. 

Pernyataan ini yang lantas membuat pertanyaan, “Sampai kapan menulis Temberang?” jadi amat tak relevan untuk disodorkan. Sebab hampir mustahil memisahkan kolom itu dari Husnizar, sama susahnya melepas tokoh Mahmud dari Temberang. 

Tetapi jika tetap hendak membayangkan garis finis itu, setidaknya bisa disimpulkan sepihak waktu yang akan menghentikan Husnizar menulis Temberang: ketika koran yang memuatnya sudah tidak terbit lagi. Itu pun masih meragukan. Kini ada banyak medium yang bisa dijadikan sarana tayang, terutama media sosial, dan Husnizar tahu benar cara memanfaatkan itu. 

Temberang yang sudah 17 tahun usianya dan terus tumbuh itu tak syak lebih mengada dari koran yang memuatnya. Terbukti sejak kali pertama terbit di Batam Pos hingga kini berpindah di Tanjungpinang Pos tak lantas membuat Temberang ditinggal pembaca setianya. Kehadiran Mahmud masih selalu ditunggu. Mahmud yang temberang. Mahmud yang pandai bercerita. Mahmud yang merasa paling tahu segala. Mahmud yang perajuk. Mahmud yang jenaka. Mahmud yang satu dan tiada dua. []

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Trending