Connect
To Top

Selamat Jalan, Wali Kota Guru

Obituari Wali Kota Tanjungpinang

Oleh Hardi S Hood

WALI KOTA Tanjungpinang, H. Syahrul, S.Pd meninggal dunia. Tiba-tiba di semua grup WA saya berita itu muncul bertubi-tubi. Ya, Wali Kota Tanjungpinang, yang didera virus corona lebih 15 hari yang lalu. Walaupun almarhum meninggal dalam jabatan wali kota, tapi buat saya Alm Syahrul adalah seorang guru. Guru yang baik. Guru sejati. Profil guru lengkap ada dalam dirinya. Tenang, kebapakan, melindungi, memotivasi, dan tentu saja sabar.

Saya dekat dengan Alm Syahrul tahun 1982. Kami sama-sama pelajar SLTA. Kami sama-sama aktif sebagai Remaja Mesjid Raya Al Hikmah Tanjungpinang. Kami menyebut organisasi kami itu adalah Islamic Youth Centre (IYC). Alm Syahrul menjadi komandannya. Yang hebatnya lagi pembina kami namanya Syahrul juga, tapi Syahrul ini sudah sarjana dan sekarang kabarnya menjadi pensyarah di Malaysia.

Alm Syahrul mewakili sekolahnya SPG Tanjungpinang, saya mewakli pelajar SMA Negeri 1 Tanjungpinang. Kami sering bergantian menjadi penceramah agama, bila ustaz yang ditugaskan berhalangan hadir. Namun tentu saja Alm Syahrul lebih banyak mengisi sebagai pengganti penceramah dibandingkan saya. Suaranya yang lembut dan tenang adalah modal besar untuk ia menguasai massa sesama pelajar SLTA se-Tanjungpinang yang diwajibkan oleh guru agamanya hadir setiap hari Ahad di Mesjid Raya kala itu. Di tengah riuh-rendah ratusan pelajar di mesjid itu, ia mampu menjadi leader dan jamaah muda itu pun turut akan komandonya.

Bila hari Senin pagi di kelas sekolah saya, banyak buku catatan ceramah saat di mesjid itu diletakkan di meja kelas saya. Teman-teman minta tanda tangan saya sebagai pengurus IYC yang akan dikumpulkan ke guru agama. Saya menceritakan ke Syahrul Muda. Dia pun tertawa, “Di SPG tidak ada macam gitu, kami patuh-patuh semua ke mesjid,” katanya.

Di tahun 1982 itu ada peristiwa Pemilu di zaman Orba. Waktu itu kegiatan keagamaan tidak nampak banyak yang dapat mengumpulkan massa yang besar. IYC salah satu yang berhasil dan menarik perhatian kawula muda Islam. Pemerintah Orba tentu tidak mau kecolongan bilamana kami sebagai pemilih pemula diambil oleh partai politik tertentu.

Saya dan Alm Syahrul akhirnya terlibat dalam suasana politik yang tidak mengenakkan. Tapi mungkin itulah pembelajaran politik yang pertama yang kami dapat. Lagi-lagi alm Syahrul muda dapat bersikap tenang dan berhasil meyakinkan aparat bahwa kami tidak berafiliasi ke parpol manapun. Pembina kami Drs. Syahrul terpaksa meninggalkan kami dan berpindah ke Malaysia karena tercatat sebagai pengurus partai.

Tahun 1983, kami menamatkan sekolah SLTA. Tentu saja Almarhum langsung menjadi guru SD dan saya melanjutkan kuliah ke Bandung. Lama kami tak dapat bersilaturahim, karena jauh jarak yang membuat komunikasi tidak secepat seperti sekarang ini.

Tahun 1990, saya kembali ke Tanjungpinang. Bertemunya lagi dan menyampaikan bahwa saya adalah Sarjana Pendidikan. Alm Syahrul tersenyum, sama-sama cikgu kita rupanya.

Setelah itu saya berpindah ke Batam.

Jarang kami bertemu lagi. Paling-paling bila saya ke Tanjungpinang, itupun sebagai pertemuan yang tidak disengaja.

Tahun 2008 saya adalah  Ketua Dewan Pendidikam Kota Batam dan mencalonkam sebagai anggota DPD RI. Alm Syahrul sudah menjadi Ketua PGRI Tanjungpinang. Saya sengaja ketemu almarhum untuk meminta support atas pencalonan saya itu.

Beliau tersenyum, itu perkara kecil, katanya. Kita kerja diam-diam sajalah. Saya hanya bisa mengaminkan saja. Tapi ternyata suara di Tanjungpinang saya bagus. Saya kira tentu tidak hanya karena usaha Almarhum. Tapi saya yakin beliau banyak bekerja untuk saya. Dalam pertemuan selanjutnya saya hadiahkannya sebuah laptop untuk PGRI Tanjungpinang, kata saya. Beliau “marah” tapi tak dapat menolaknya.

Hari-hari di Senayan, membuat saya pun tidak dapat banyak bersilaturahim dengan Almarhum. Setelah beliau menjadi Wakil Wali Kota Tanjungpinang barulah ada titik temu kami kembali. Saya melakukan reses di Tanjungpinang, maka Almarhum yang menerima kami. Profilnya jadi Wawako biasa saja. Tak ada yg berubah, lembut senyumnya, perlahan suaranya, santun lakunya, sama saja sewaktu Syahrul Muda, atau Syahrul Guru. Cerita tentang pendidikan dan agama selalu jadi bahan utamanya. Cerita politik malah tak ada.

Sebuah kejutan buat saya bila Alm Syahrul mencalonkan menjadi wali kota. Sebuah keberanian. Jiwa berani selalu tidak nampak dalam dirinya. Ia selalu bungkus keberaniannya dengan keikhlasan. Kali ini ia berhadapan dengan situasi yang ianya harus all out bertanding dalam pandangan saya hanya bermodalkan semangat saja. Hebat!

Allah takdirkan Almarhum menjadi pemenangnya dengan mengkumandangkan sebutan sebagai Ayah Syahrul.

Waktupun berjalan. Saya tidak melihat euforia kemenangan. Wali Kota yang guru itu pun bekerja.

Saya bertemunya lagi saat membawa Ustadz Abdul Somad ke rumahnya diundang makan oleh beliau.

Jiwa ulamanya bertemu UAS kentara sekali daripada jabatan wali kotanya. Ia pun bersemangat menceritakan perjalanan bersama saya di IYC kepada UAS. Saya yang tersipu malu karena tidak banyak aktif lagi ke urusan mesjid.

Setelah itu kabar Wali Kota Guru itu hanya dapat saya pantau dari media online atau medsos. Saya kembali kagum atas kerja kerasnya membangun Tanjungpinang. Almarhum selalu ingin kerja tuntas. Kali ini wabah Covid-19 datang. Ia pun sigap berada di depan. Allah mentakdirkan ia pun terkena wabah tersebut hingga akhir hayatnya.

Selamat jalan, guru yang baik. Guru yang santun, guru yang ulama, guru bagi kita semua.

Insha Allah, husnul khotimah
Al FATIHAH. []

More in Cerita Kita