Connect
To Top

Ada Pak Syahrul di Botol Sampo

Seorang Murid Mengenang Wali Kota yang Berpulang

Oleh Fara Verwey

KAMI sekelas senang mendengar kabar guru PPKn sedang mengikuti penataran. Artinya jam pelajaran akan kosong dan kami bisa bebas bermain apa saja selama masih di dalam kelas. Tetapi itu hanya angan-angan belaka. Kepala sekolah mengambil alih kegembiraan kami.

Beliau masuk, mengucapkan salam. Kami duduk, melipat tangan. Beliau menulis di papan, kami membuka buku pelajaran. “Hari ini kita akan belajar tentang lapang dada, empati, simpati, toleransi, juga sopan santun,” ucapnya.

Bagi anak-anak yang lain, bab itu rasanya bukan permasalahan. Lain halnya bagi saya—seorang murid yang baru bisa lancar berbahasa Indonesia pada kelas dua. Saya menyimak seksama penjelasannya. Saya terkagum dengan cara guru pengganti ini menjelaskan istilah-istilah itu.

Biasanya, saya selalu menanyakan kembali istilah-istilah susah yang saya dapatkan di sekolah kepada Mama di rumah. Dan khusus hari itu, Mama tidak akan dapat pertanyaan dari anaknya. Sebab di kelas semua sudah dijelaskan secara gamblang dan terang pengertian lapang dada, empati, simpati, toleransi, juga sopan santun.

Kepala sekolah yang jadi guru pengganti di kelas ini punya kemampuan yang tak dimiliki guru lain: Menjelaskan istilah dengan perumpamaan sehari-hari. Istilah lapang dada, misalnya. Dalam kepala saya, lapang adalah luas; dada adalah dada. Jadi apakah bisa diterjemahkan sebagai dada yang luas? Pak Guru menggeleng dan memberikan contoh tentang perasaan menerima ketika dihadapkan pada situasi sulit, dengan cara yang mudah dipahami anak SD.

“Seperti perasaan ketika kita mengalah kepada adik untuk meminjaminya mainan,” jelasnya.

Oh … saya jadi paham seperti apa itu rasanya lapang dada.

Nama guru pengganti pelajaran PPKn ini Pak Syahrul. Sebelum bertugas di SD Tugu, SDN 011 Tanjungpinang Barat (dulu SDN 025), ia adalah Kepala SD Teladan. Perawakannya tinggi—kalau masuk kelas kepalanya selisih berapa senti saja dengan gawang pintu. Jenggotnya tipis dan rapi. Suaranya lembut. Hampir tidak pernah meninggikan suara, apalagi marah-marah.

Kami tidak takut padanya. Kami justru hormat padanya. Setiap Pak Syahrul berjalan di lorong depan kelas, kami berebut meraih tangannya, mengecup punggung tangannya. Rasanya belum lengkap ke sekolah tanpa menyalami Pak Syahrul.

Saya berharap guru PPKn mengikuti penataran lebih lama—kalau bisa sampai saya lulus. Dengan begitu, pelajaran ini akan selalu diisi Pak Syahrul. Bagi saya dan teman-teman, tidak ada guru yang lebih gamblang dan lebih santuy dalam menjelaskan pelajaran selain Pak Syahrul.

Suatu kali, ia masuk kelas dan mengajarkan kepada kami agar tidak bersikap boros. Kata Pak Syahrul, Allah tidak suka dengan perbuatan boros. “Sekecil apapun perbuatan boros itu harus dihindari,” tegasnya.

Lalu Pak Syahrul mengeluarkan ‘sulapnya’ untuk menjelaskan kalimat sekecil apapun agar mudah dipahami.

“Misalnya kita akan keramas, terus pas pakai sampo langsung menuangkannya dari botol ke atas kepala. Kalau samponya kebanyakan ‘kan kita tak nampak. Makanya pakai sampo itu baiknya, kita tuang dulu ke tangan, jadi nampak, baru dipakai ke rambut. Supaya apa?”

“Supaya tidak boros,” kami sekelas menjawab serempak.

Sejak hari itu, saya tidak bisa lagi menuang sampo dari botol langsung ke kepala. Setiap ingin melakukannya, saya terkenang wajah dan suara Pak Syahrul agar menuangkan lebih dulu di tangan.

Sejak hari itu dan sampai kini dan, sepertinya, sampai nanti.

Maaf, Saya Tidak Bisa Memanggil Ayah

Belasan tahun adalah rentang waktu yang bisa menjadikan manusia dalam format berbeda. Saya yang dulu suka main boneka Barbie, kini lebih suka main kata-kata. Pak Syahrul yang dulu guru dan Kepala SD, kini jadi wakil wali kota—yang nanti terpilih sebagai wali kota.

Saya wartawan. Pak Syahrul narasumbernya.

Itu pertemuan pertama kami setelah kelulusan SD. Di antara wartawan yang berjejal hendak mewawancarai, saya lontarkan sebuah pernyataan yang tidak pernah diduga oleh seorang wakil wali kota.

“Pak Syahrul buku catatan Ramadan saya dulu belum ditandatangani lho,” ucap saya sebelum mengajukan pertanyaan wawancara.

Belasan tahun lalu, Pak Syahrul adalah orang yang paling diburu tanda tangannya untuk memastikan setiap murid berhasil menjalani Ramadan di rumah dengan baik. Sayangnya, di kelas VI, buku milik saya belum ditandatangani Pak Syahrul. Ini menjadikan Ramadan saya tahun itu tidak lengkap adanya.

Pak Syahrul tertawa menanggapi permintaan saya. Ia berjanji kelak akan meluangkan waktu khusus agar bisa menandatangani buku catatan Ramadan saya.

Lima tahun menjabat sebagai wakil wali kota, Pak Syahrul ‘naik kelas’. Ia yang berpasangan dengan Rahma terpilih sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang 2018-2023. Saya kembali ditugaskan untuk mewawancarai Pak Syahrul di rumahnya.

Kali ini kami berbincang soal rencananya selama lima tahun ke depan sebagai kepala daerah di Tanjungpinang. Itu jelas tanggung jawab beribu-ribu kali lipat lebih berat ketimbang menjadi kepala sekolah.

Oh iya, pada masa kampanye, Pak Syahrul membahasakan diri sebagai Ayah. Tim suksesnya, pengikutnya, lantas diikuti semua orang, kini memanggilnya dengan Ayah: Ayah Syahrul. Tapi, jujur saja, lidah saya kelu jika harus mengikuti tabiat itu. Maaf, saya tidak bisa melakukannya. Bagi saya, Syahrul adalah guru, dan guru, oleh muridnya, sampai kapan pun akan selalu dipanggil Pak: Pak Syahrul.

Begitulah kemudian di rumahnya: Saya bertanya, Pak Syahrul menjawab.

Baru di akhir sesi wawancara, saya teringat telah melupakan satu hal: buku catatan Ramadan. Semestinya ini waktu yang paling tepat untuk menagih janjinya untuk menandatangani buku itu. Sayangnya, karena terburu-buru, buku itu malah tertinggal di rumah.

Sebagai pelipur lara, saya meminta Pak Syahrul berfoto bersebelahan. “Pak foto ya, Pak. Mau saya sandingkan sama foto kita pas di SD dulu. Sekalian bandingin beda tingginya cemana,” ajakan saya langsung disambut olehnya.

“Oh iya, dulu kamu masi segini paling,” tutur Pak Syahrul sembari menandai tinggi seukuran sikunya.

Pose foto kami tanpa salam komando ala-ala berfoto bersama pejabat. Saya teringat, tidak mungkin murid SD berpose seperti itu dengan kepala sekolahnya. Usai pengambilan foto, giliran saya yang berjanji: “Nanti saya tunjukkan ke Pak Syahrul, kalau tinggi saya itu sepundaknya dan bukan sesikunya.”

Saya dan Pak Syahrul. Kiri (2004), kanan (2018).

Pak Syahrul tertawa.

Tawa yang Selasa petang 28 April 2020 ini kembali saya kenang dengan hangat di dada dan mata. Pak Syahrul berpulang setelah berjuang sebaik-baiknya melawan penyakit di badan. Bertepatan pula bulan Ramadan. Oh … sudah jadi nasib buku catatan itu tidak akan pernah bertanda tangan.

“Terima kasih, Pak Syahrul. Fara janji tidak akan pernah boros dan itu sudah Fara buktikan dengan menuangkan sampo lebih dulu sebelum memakainya.”

Saya ke kamar mandi, keramas, meraih mukena, dan mengirimkan doa untuk guru pengganti pelajaran PPKn yang namanya akan lebih dikenang sebagai wali kota. []

More in Cerita Kita