Connect
To Top

Bang Din Masih ‘Sakti’

Vonis Lebih Ringan dari Tuntutan Jaksa

Oleh Fara Verwey

KONTESTASI Pemilihan Kepala Daerah Kepulauan Riau lima tahun lalu melahirkan seorang antihero: Nurdin Basirun. Mantan Bupati Karimun (2005-2015) tak dinyana keluar sebagai ‘pemenang’ sebenarnya, kendati daftar sebagai calon wakil gubernur mendampingi (alm) Muhammad Sani sebagai calon gubernurnya. 

Namun, jangan pernah lupakan, sebelum pada akhirnya mendampingi Ayah Sani, Bang Din sempat mendaftarkan diri sebagai bakal calon wakil gubernur di barisan lawan: Soerya Respationo dari PDI Perjuangan. Di sini ia mesti bersaing dengan kompatriotnya yang sama-sama dari Partai Golkar: Ansar Ahmad (Bupati Bintan 2005-2015). 

Lamaran Bang Din tertolak. Soerya lebih sreg berpasangan dengan Ansar. Bang Din tidak punya pilihan lain selain merapat ke barisan seberang: sebagai bakal cawagub mendampingi Sani. Kemudian pasangan ini mendeklarasikan diri dengan jargon Sanur (Sani-Nurdin). 

Dasar ‘sakti’ yang tak dapat dielak, Sanur keluar sebagai pemenang kontestasi Pilkada Kepri 2015. Sani dan Nurdin dilantik sebagai Gubernur-Wagub Kepri pada 12 Februari 2016. 

Lalu pada 8 April 2016, Gubernur Kepri Muhammad Sani meninggal dunia. Tidak bisa tidak dan mengikut aturan yang berlaku, Bang Din naik sebagai pemegang tampuk utama Provinsi Kepri. Dari seorang bakal cawagub yang tertolak, Bang Din malah dilantik sebagai gubernur definitif menggantikan Ayah Sani. 

Garis tangan seseorang memang tidak ada yang tahu. Pun milik Bang Din. Kursi gubernur tidak didudukinya sampai habis masa jabatan. 10 Juli 2019, ia dijemput Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Tanjungpinang. Pak Kumis dituding melakukan pelanggaran berupa penerimaan gratifikasi dan suap. 

Sejak hari itu, tidak ada lagi tawa Bang Din yang kerap menghibur masyarakat Kepri di pulau-pulau. Tidak lagi ada celetuk jenakanya di pasar, di pelabuhan, sampai suara merdunya melantunkan Balada Pelaut yang biasa dinyanyikannya di sejumlah acara yang dihadiri. Bang Din masuk bui. 

Tapi, bukan Bang Din kalau tak ‘sakti’. Sembilan bulan di balik jeruji di LP Sukamiskin, tiba masa Bang Din mendengar putusan majelis hakim atas kasus yang menderanya. 

Pembacaan vonis Nurdin Basirun via video konferensi di Gedung Merah Putih KPK, Kamis (9/4). Foto: KPK.

Pada Kamis (9/4) siang via video konferensi, Majelis Hakim PN Jakarta Pusat memvonis Bang Din hukuman 4 tahun penjara dipotong masa tahanan, denda Rp 200 juta sebagai subsider 3 bulan, lalu diwajibkan membayar uang pengganti Rp 4,3 miliar subsider 6 bulan. Putusan ini pun mencabut hak berpolitik Bang Din selama lima tahun setelah dibebaskan nanti. 

Asal tahu saja, putusan yang dibacakan Majelis Hakim itu lebih ringan dari tuntutan yang disampaikan jaksa seminggu sebelumnya. Oleh Jaksa KPK, Asri Irawan, gubernur non-aktif ini dituntut hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan masa tahanan. 

Namun, Majelis Hakim punya pendapat lain. Dalam pertimbangan mereka, Bang Din terbukti melanggar pasal 12 ayat (1) a UU tipikor jo pasal 55 jo 64 KUHP dan pasal 12B UU Tipikor, sebagaimana dakwaan kesatu dan kedua.

“Hal yang memberatkan (terdakwa) bertentangan dengan program pemerintah dalam memberantas korupsi dan tidak mengakui perbuatan. (Sedangkan) hal yang meringankan (terdakwa) berlaku sopan dan belum pernah dihukum,” kata Majelis Hakim. 

Belum didapat konfirmasi positif, akankah Bang Din mengajukan banding atau menerima putusan tersebut dengan legawa. Hanya saja dengan putusan dua tahun masa tahanan lebih ringan dari tuntutan adalah bukti lain Bang Din masih ‘sakti’. 

Andai kata Bang Din menerima keputusan tersebut, dalam perkiraan saya, paling cepat pada tahun 2022 nanti Bang Din sudah bisa mengajukan pembebasan bersyarat dan balik ke Kepri. Ia tentu masih dilarang aktif berpolitik, statusnya sebagai Ketua Umum DPW Partai Nasdem Kepri juga sudah dicabut. Lalu apa yang akan dilakukan Bang Din nanti? 

Dengan segenap ‘kesaktiannya’, kita bisa menanti kejutan apa yang akan disiapkannya. Mungkinkah kembali ke dunia bisnis yang digeluti, atau menjadi kapten kapal dan berlayar ke seantero negeri, atau justru menulis sebuah memoar pengalaman selama hidup di penjara. 

Nah, Bang Din, jikalau ada rencana untuk urusan terakhit itu, Viswara adalah pilihan tepat sebagai tim kreatifnya.

Macam mana, Bang Din? []

More in Cerita Kita