Connect
To Top

Tetap Ada Cinta di Masa Corona

Kisah Mereka yang Berani Menunda Resepsi

Oleh Fara Verwey

SEHARUSNYA, hari ini Kajol dan Rahul (atas permintaan pihak keluarga, kami memutuskan untuk merahasiakan nama asli mereka) duduk bersanding di pelaminan: mengenakan pakaian adat, tersenyum cemerlang, difoto berulang-ulang kali, menyalami sanak-famili, kerabat, juga teman-teman, merayakan hari bahagia bersatunya cinta sepasang manusia lewat resepsi di Gedung Asrama Haji.

Seharusnya, hari bahagia ini disaksikan oleh banyak orang, dirayakan gegap-gempita, ada serangkaian adat yang dijalani, ada deretan bufet tersaji, berhiaskan dekorasi warna-warni, turut pula hiburan musik mengiringi: pelaksanaan dari rencana yang sudah disusun berbulan-bulan sebelumnya.

Kajol dan Rahul sudah lama menanti hari paling berbahagia dalam hidupnya ini tiba.

Namun siapa sangka, tanggal 25 Maret 2020 yang sudah dipilih jauh hari itu bertepatan dengan musim pandemi. Penyebaran virus corona yang masif di Indonesia ikut berdampak di Tanjungpinang. Oleh pemerintah daerah, segala kegiatan yang menimbulkan kerumunan atau keramaian orang diimbau untuk tidak dilaksanakan – termasuk di antaranya resepsi pernikahan.

“Sebelum imbauan itu keluar, kami juga sempat berkoordinasi dengan pihak yang berwajib. Oleh mereka, kami diminta menunda pesta pernikahan,” ungkap Karina (bukan nama sebenarnya), kakak kandung Kajol, kepada Viswara, Selasa (24/3).

Kajol dan Rahul pun tidak punya pilihan lain selain meniadakan resepsi. Sebab, segala berkenaan dengan pelaksanaan pesta pernikahan sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Mulai dari pembayaran Mak Andam (jasa rias pesta), katering pagi dan siang, pembawa acara, sudah ditunaikan. Namun, karena konsep pernikahan diubah, beberapa keperluan yang sudah dibayarkan pun diikhlaskan hangus begitu saja.

“Karena awalnya ‘kan semuanya dilaksanakan di gedung dan sekarang pindah ke rumah, jadi harus ada beberapa penyesuaian,” tambah Karina.

Penyesuaian yang dilakukan tidak sekadar karena lokasi, tapi juga tata-cara agar akad yang dilangsungkan di rumah pun bisa terhindarkan dari kerumunan massa. Karina bercerita, karena pihak katering sudah belanja dan tidak mungkin dibatalkan, mereka tetap menggunakan jasa mereka. Hanya saja, jikalau umumnya makanan itu disajikan prasmanan, tidak halnya di tengah musim pandemi. Pihak keluarga telah memutuskan setiap makanan itu akan dikemas menjadi nasi kotak.

“Jadi mereka yang datang, hanya berjumpa sebentar, lalu kami beri bingkisan nasi kotak itu,” beber Karina.

Keputusan ini ditempuh guna meminimalisasi terjadinya kontak fisik di antara undangan yang datang. Bahkan agar tetap membuat situasi nyaman, akan disediakan cairan penyanitasi tangan yang wajib dipakai setiap tamu yang datang. Sebuah perilaku yang, rasa-rasanya, tidak pernah ada di pesta pernikahan sebelumnya.

Lalu akankah resepsi tetap akan dilaksanakan suatu hari nanti, saat sudah reda musim pandemi ini? Karina tidak bisa menjawab pasti. Sebab memang tidak ada yang tahu kapan pandemi ini usai. Sekarang, yang bisa dilakukan tinggal mempersiapkan prosesi ijab kabul adiknya ala kadar di rumah dan berharap semoga dari pernikahan di tengah musim pandemi ini menjadikan keluarga adiknya sebagai keluarga sakinah, mawadah, warahmah.

“Mau bagaimana lagi. Tidak ada yang menginginkan situasi semacam ini. Semoga situasi lekas membaik,” pungkas Karina.

Asrama Haji Ditutup, Pun Pelayanan KUA

Terhitung sejak kemarin, Asrama Haji yang biasa digunakan sebagai lokasi akad dan resepsi pernikahan ditutup. Belum ada kejelasan hingga kapan ini diberlakukan. Namun, bila ditilik dari redaksi pengumumannya bahwa penutupan sementara ini merupakan antisipasi merebaknya virus corona, bisa jadi Asrama Haji baru dibuka kembali ketika pandemi ini sudah mereda – yang sayangnya kita tidak pernah tahu kapan dan semoga selekasnya.

Resepsi di Asrama Haji sebelum musim pandemi. Foto: Fara/Viswara

Urusan pernikahan, yang tutup bukan cuma Asrama Haji, tapi juga pelayanan pencatatannya. Berdasarkan surat edaran dari Kemenag RI, setiap seluruh pegawai Kemenag, mulai dari pejabat pimpinan tinggi madya, pratama, dan administrator diwajibkan untuk bekerja di rumah. Termasuk di antaranya adalah pelayanan KUA yang bertugas mencatat pernikahan.

Tapi, tenang. Woles. Penutupan pelayanan KUA ini ada tanggal batasnya. Menteri Agama Fachrul Razi menyebutkan, aktivitas kerja di rumah ini berlaku hingga 31 Maret mendatang. “Ini upaya untuk memprioritaskan kesehatan dan keselamatan pegawai,” ujarnya.

Masihkah Boleh Menikah di Tengah Pandemi?

Jangan khawatir. Mempersatukan cinta dua insan di mata agama dan negara adalah hak siapa saja, sekalipun di tengah pandemi. Niat baik, kata orang-orang bijak, tidak boleh ditunda pelaksanannya. Hanya saja, kini lebih diatur penyelenggaraannya agar tetap menjaga maslahat orang banyak.

Dirjen Bimas Kemenag RI pun tidak melarang pernikahan di tengah pandemi. Dalam laman resminya, mereka mengatur protokol prosesi akadnya.

Untuk akad nikah yang dilakukan di Kantor Urusan Agama akan dibatasi jumlah peserta akad tidak lebih dari 10 orang. Kemudian, calon pengantin dan anggota keluarga diwajibkan mencuci tangan dengan sabun atau larutan pembersih tangan dan memakai masker untuk mengantisipasi penularan virus Corona.

Tidak kalah penting, petugas, wali nikah, dan calon pengantin laki-laki harus menggunakan sarung tangan dan masker saat melakukan ijab kabul.

Lantas bagaimana jika akad nikah tidak dilakukan di KUA? Tetap dibolehkan. Kemenag meminta ruangan tempat prosesi berlangsung di tempat terbuka atau ruangan berventilasi baik. Pengunjung dalam ruangan dibatasi maksimal 10 orang.

Calon pengantin dan anggota kelurga yang hadir harus mencuci tangan dengan sabun atau larutan pencuci tangan. Petugas, wali nikah dan calon mempelai pria juga harus menggunakan sarung tangan saat ijab kabul.

Esensi dari sebuah pernikahan ijabnya, bukan? Kalau pesta, karena kondisinya belum memungkinkan, masih bisa ditunda dan dilaksanakan nanti ketika pandemi ini mereda. []

More in Cerita Kita