Connect
To Top

Tak Ada Masker, Kardus Pun Jadi

Siasat Tetap Bekerja di Tengah Pandemi Corona

Oleh Fara Verwey

DI ANTARA upaya mengurangi risiko terpapar virus corona (COVID-19) adalah menghindari kerumunan. Mereka yang berlimpah sumber dayanya dengan mudah bisa bertahan di rumah, bekerja dari rumah, dan dengan stok berlebih memenuhi segala kebutuhannya juga dari rumah. 

Di masa pandemi seperti ini, setiap orang mau begitu. Namun, tidak semua orang bisa begitu. 

Nurdin tetap harus pergi ke pasar setiap pagi, pada hari-hari biasa atau di tengah persebaran pandemi. Profesinya sebagai tukang becak jelas tak memungkinkannya bekerja dari rumah. Internet tidak bisa mengantarkan pelanggan maupun barang dan uang. Artinya, Nurdin tetap harus ke pasar, berada di tengah kerumunan, berkontak dengan banyak orang. 

Sebagai pria berusia 73 tahun, Nurdin bukan orang yang buta sama sekali informasi perihal pandemi. Ia sadar dirinya berkemungkinan terpapar COVID-19. Ia mendengar kabar, sehari sebelumnya, di Tanjungpinang sudah dinyatakan satu kasus positif. Ia tahu perlu mempersiapkan diri sebagai upaya memperkecil peluang terpapar virus yang mudah menyebar lewat saluran pernapasan.

Nurdin perlu masker. Nurdin perlu memakai penutup mulut dan hidung saat mengayuh becaknya. 

Sayangnya, masker bukan suatu benda yang mudah diakses oleh tukang becak yang tinggal di pulau Dompak. 

“Kalau beli masker, jauh tempatnya dari rumah saya. Pun belum ada uang juga buat beli,” ujar Nurdin. Dari obrolan di pasar, ia pernah mendengar, masker bukan cuma naik harganya, melainkan susah pula didapatnya. 

Tapi jika ketiadaan masker lantas membuatnya tak berangkat ke pasar — tak bekerja, tak menarik becak, tak berpenghasilan, situasi lebih pelik bisa saja melanda dapurnya. Nurdin menolak menyerah. Nurdin tidak mau cuma pasrah. 

Ia lantas menyobek kardus bekas yang kondisinya masih bagus, digunting seukuran masker: menutupi mulut dan hidung, diberi lubang kanan-kiri, diikat tali rafia melingkar hingga belakang kepala. Tak ada masker, kardus pun jadi. Ini upaya Nurdin agar memperkcil kemungkinan terpapar atau memapari orang-orang di pasar yang ditemui. 

Nurdin dan masker kardusnya.

“Ini (kardusnya) saya bersihin dulu. Takut juga kalau kotor. Tadi dibersihkan pakai yang semprot-semprot di tangan itu,” kata Nurdin menceritakan muasal masker kardus yang baru dipakainya sejak Rabu (18/3) pagi. 

Apakah Pak Nurdin tidak khawatir terinfeksi COVID-19? Ini jenis pertanyaan yang buru-buru saya telan sendiri. Saya urung menyampaikannya. Di masa pandemi begini, siapa yang tidak khawatir, namun cemas sehingga berujung pada kepanikan tak menentu jelas bukan laku hidup yang ingin ditempuh. 

Sejak kemarin, Nurdin mengaku sudah semakin rajin cuci tangan dengan sabun. Itu tindakan pencegahan pertama dan paling utama yang bisa dilakukannya. Nurdin sadar, virus ini bisa menyerang siapa saja: tak orang kaya juga orang berekonomi menengah ke bawah seperti dirinya. 

“Pakai masker gini ajalah, daripada tak ada sama sekali, soalnya belum ada uang untuk beli. Terus pasti cuci tangan, apalagi kalau mau makan,” ucap Nurdin yang dibarengi suara tawa yang terhalang masker kardusnya. 

Dari sosok Nurdin, saya belajar satu hal: terlalu khawatir bukan jawaban dari semua persoalan musim pandemi ini, terlalu santai dan bersikap selamba raya juga amat riskan untuk diri sendiri. 

Nurdin pamit melanjutkan kayuhan becaknya. Saya pulang dengan nilai penting tetap waras sebagai manusia. [] 

More in Cerita Kita