Connect
To Top

Lucinta, Lu Nasib, Lu Punya Negeri

Kolom Temberang Husnizar Hood

Oleh Husnizar Hood

SUDAH empat hari ini kawan saya Mahmud baru kembali berkesempatan bisa menonton TV. Kalau tidak, sudah lebih dari tiga minggu lalu, jangankan membuka saluran TV, bertemu TV pun dia tak pernah. Hanya di mobil dan rumah-rumah sewa.

Mahmud sibuk menyelesaikan perjalanan panjang yang sudah direncanakannya itu, melintasi 5.400 kilometer lebih, mulai dari kampung halamannya hingga ke 20 kampung halaman orang lain.

Menurut Mahmud setelah dia bisa berleha-leha di depan TV sejak 4 hari ini, ada pula masalah baru. Setiap membuka saluran stasiun TV kegemarannya dia malah cepat-cepat mematikannya lagi.

Bagaimana tidak, yang ada dalam siaran TV itu hanya kisah penangkapan Lucinta Luna saja yang katanya kemarin digerebek kasus penyalahgunaan narkoba. Hmmm … kata Mahmud, “Lucinta Luna itu bukan hanya penyalahgunaan narkoba saja tapi juga penyalahgunaan akal sehat kita yang melihatnya, baling otak kita dibuatnya.”

Dan TV yang menyiarkan dia secara terus menerus juga adalah pihak yang salah paham, maksudnya gagal paham, seperti pihak kepolisian bingung menempatkan dia di sel laki atau perempuan. Ah, apa pentingnya manusia beralih kelamin itu dibanding Harun Masiku yang beralih dunia, dari dunia terang menjadi gelap gulita, menghilang, bersembunyi karena dituduh menyogok komisioner KPU bernama Wahyu.

Sempat saya sanggah juga Mahmud kawan saya itu yang begitu percaya Harun Masiku adalah aktor utama sang penyogok yang konon jumlahnya Rp 900 juta untuk melenggang dijadikan anggota DPR RI.

Saya tak percaya, dia hanya peraih suara terbanyak kelima, suaranya hanya lima ribuan lebih kalau suara hanya segitu biasanya datang dari raihan suara caleg penggembira kalau tak mau dibilang caleg miskin, sedangkan saya yang tak ada apa-apanya atau diejek dengan caleg papa kedana saja pernah meraih suara 48 ribu lebih. He he he.

Atau pertanyaan lain apakah berita Lucinta Luna lebih penting dari berita “rampok” berdasi di siang bolong di depan mata kita bertahun-tahun lamanya, uang nasabah Jiwasraya, Rp 17 triliun bahkan lebih raib ditelan jembalang.

Saya benar-benar sedih, bahkan kawan saya Mahmud itu pernah berulang-ulang bilang seperti mau muntah dia membayangkannya uang Rp 17 T, apa tak ada sesal dalam hati mereka yang mengatur skenario menghembat uang rakyat dengan cara-cara “keparat” itu.

Kadang jadi terbayang dengan suasana yang lain ketika bertemu dengan orang-orang di Jakarta yang kayanya bagai tak terhingga itu, lama kita berpikir dari mana mereka bisa mengumpulkan harta sebanyak itu. Mungkin di antaranya mereka adalah penghisap darah Jiwasraya, memang benar-benar jiwa mereka telah mati.

Alangkah naifnya para nasabah itu yang mungkin mengumpulkan Rupiah demi Rupiah berharap dapat jaminan atau santunan dan juga premi. Kini nasibnya tak terkata, tak tahu siapa yang akan bertanggung jawab. Hanya ratapan dan air mata ditambah silang sengkarut mencari jalan keluarnya.

Tapi begitulah peruntungan hidup ini, kadang nasib memang tak bisa kita duga. Lucinta di atas angin tapi tiba-tiba angin datang, para perampok Jiwasraya terkakah-kakah menikmati uang rampokannya, tiba-tiba kini jantung seperti mau berhenti ketika terali besi semakin memanggil nama-nama mereka satu persatu.

“Mereka mana ada jantung, Tok?” pekik Mahmud, “Hati merekapun terbuat dari batu.”

Saya mengernyitkan dahi. Mengenang nasib Jiwasraya ini rasanya bagai tak berujung, uang mereka rampok tapi ujung-ujungnya negara yang mengganti dan negara mengganti uang itu ya uang dari rakyat juga. Gila!

Sementara barang bukti yang mereka rampok sudah jadi warisan tujuh turunan, hanya mungkin mereka lupa, kalau di alam kubur itu tak ada Alfamart atau Indomaret, untuk mereka berbelanja.

Mahmud tersenyum. Saya tahu senyum Mahmud itu terkenang dalam perjalanan kami selama 20 hari kemarin yang paling banyak kami temukan dalam kota maupun melihtasi kampung-kampung itu adalah Alfamart dan Indomaret. Bisnis luar biasa.

“Dahlah Mud, jangan awak pikirkan carut marut berita nasional tu nanti tak ada yang memikirkan negeri sendiri,” ujar saya kepada Mahmud.

“Ya juga, nanti tak ada yang mengikuti perkembangan kemana duit Rp 55 juta hasil rampokan yang perampoknya ditangkap tapi uangnya hilang Rp 55 juta, polisi bilang tak ada perampoknya bilang ada,” balas Mahmud setengah tertawa.

“Betulkan? Nanti tak ada yang mengukur, berapa jauh jarak orang bermain ketangkasan atau kecerdasan menebak kalau tak mau dibilang judi dengan mesjid raya,” ucap saya pada Mahmud.

Kawan saya itu langsung terpingkal. “Mana ada yang awak cakap itu, Tok. Ini negeri madani, dipimpin oleh orang-orang yang paling takut dimurkai Tuhan, dilaknat di akhirat,” balasanya macam serius tapi saya tahu dia berseloroh.

Inilah nasib negeri ini dan mungkin juga negara ini, “Kuman di seberang pulau kita nampak, tapi gajah di depan mata kita tak terlihat.”

Kita pikir kita boleh tak mempedulikan orang yang menganggap kita seperti itu, kita beranggapan mata ini adalah mata kita, mau nampak atau tidak itu urusan kita tapi kita lupa, ada orang lain yang melihat kita dan sungguh dia melihat kepura-puraan kita itu.

“Banyak orang tergelincir atau terpeleset dan kemudian jatuh bukan dari bebatuan yang besar tapi terkadang hanya karena batu kerikil,” ucap Mahmud.

Dan kita pikir Tuhan itu tidur, maka kita berendap-endap ketika malam tiba agar Tuhan tak tau apa yang sedang kita bohongi untuk menyelamatkan orang lain.

Atau kita terus tidur, bersembunyi dari orang lain melihat sementara di dalam mata orang lain mereka melihat dengan jelas kita yang bersembunyi dibalik kebohongan dari pembohong besar. []

More in Kolom Temberang