Connect
To Top

Madun in Wonderland

Berkunjung ke Istana Jendela Dunia

Oleh Fara Verwey

ALICE terjatuh ke dalam lubang kelinci yang besar ketika hendak melarikan diri dari pesta teh yang diadakan keluarganya. Lubang itu membawa Alice ke dunia lain yang disebutnya Wonderland.

Wonderland pada buku cerita masa kecilmu, hingga filmya, digambarkan sama. Wonderland seakan dunia khayalan yang indah yang unik. Memiliki kerajaan yang megah, lokasi pesta yang indah, hingga pada akhir kisah menjadi tempat pertempuran Alice dengan Red Queen Iracabeth.

Wonderland merupakan sebuah negeri asing, yang berlatar utama di hutan. Petualangan Alice di dalam hutan yang menyimpan keindahan yang tak nyata inilah yang tergambar pada perjalanan saya kemarin.

Semua ini bermula dari unggahan @nyiksakamera. Akhirnya, saya bersama beberapa rekan lainnya merencanakan perjalanan ke lokasi tersebut. Memboyong serta Heru, pemilik akun tersebut.

Mbak Yuke, fotografer wanita berjiwa petualang, menyebut rencana dadakan ini sebagai ekspedisi Istana Jendela Dunia. Itulah lokasi yang hendak kami tuju.

Istana Jendela Dunia tak dapat ditemukan melalui aplikasi peta seperti Google Maps dan lainnya. Selain tak terdeteksi, pada beberapa lokasi saat di perjalanan pun kami kehilangan sinyal. Google Maps hanya mampu mengantarkan kami hingga jalur lama. Persimpangan antara jalur lama menuju Tanjung Uban, Trikora dan pusat pemerintahan kabupaten Bintan. Setelahnya, saya dan Mbak Yuke diarahkan oleh Heru yang datang dari jalur Uban. Kami bertemu di simpang Pengudang.

Dari sana, kami mengikuti Heru, yang membelah pepohonan.

Yap, menuju Istana Jendela Dunia kami mesti masuk ke dalam hutan. Jangan bayangkan jalan setapak dengan jurang di kanan-kiri atau hutan dengan pohon-pohon besar. Menuju gerbang masuk istana, telah ada akses jalan seluas satu mobil. Beberapa batang pohon terlihat ditebang di sisi kanan da kiri untuk membuka jalur ini.

Dan di dalam hutan, jika kita masuk ke jalur yag benar, terdapat beberapa penanda jalan yang ditulis seadanya namun lumayan informatif. Menggunakan alas seperti lempeng besi, papa kayu dicat berwarna dan ditulisi menggunakan tinta putih tipe-x.

Lalu kami berhenti, di area yang sedikit lebih luas. Lahan parkir kendaraan kami. Dari sini, kami sudah bisa melihat Istana Jendela Dunia ini. Harus berjalan kaki, untuk benar-benar masuk ke areanya. Tak terlalu jauh kami berjalan. Saya benar-benar menikmatinya. Pemandangan di hadapan, juga kanan dan kirinya menyejukkan dan ajaib.

Langkah mendarat empuk pada rumput jepang yang tumbuh rimbun menuju lokasi istananya. Di sisi kiri, ada galian jalur air.

Lalu kami melangkah memasuki pagar. Pagar yang estetik, berhubung dirangkai dari ranting, karang hingga ban bekas, ember, dan perkakas lain.

“Kita kenalan dulu sama Pak Madun,” ucap Heru menarik kembali perhatian yang terpaku pada berbagai rangkaian kayu, yang tersebar di merata tempat istna ini.

Pak Madun inilah sang pembangun Wonderland yang sedang saya kunjungi dan kagumi. Perawakannya tegas. Namun, senyumnya jenaka. “Ayo silakan masuk dulu,” ia mempelawa kami ke ruang utama istananya.

Kursi berbagai bentuk sudah tersedia di dalam ruangnya. “Silakan pilih duduk di mana saja,” ujar Madun dengan gestur mempersilahkan.

Bak rapat penting, kami duduk melingkar, dengan meja bundar berukuran besar. Pak Madun duduk di seberang saya, melanjutkan perbincangan ringan dengan Robby dan Heru, yang telah kemari untuk kedua kalinya. Sementara itu perhatian saya buyar. Tak ikut larut dalam pembicaraan pembuka itu.

Mata saya tertumbuk pada dua cangkang penyu berukuran kira-kira dua kali tubuh Pak Madun. Dan yang satunya jauh lebih kecil. Ditempeli di dinding yang berada di belakang Pak Madun. Bersama beberapa tempelan lainnya. Gambar pemandangan, juga ikon khas beberapa negara.

“Ini saya ajak teman-teman yang mau kenal dan penasaran dengan Istana Jendela Dunia Pak Madun,” tutur Robby, mengarahkan pembicaraan lebih personal mengenai Madun.

Sungguh, masuk ke dunia Pak Madun ini, rasanya seperti masuk ke lubang kelinci besar seperti dialami Alice. Di tengah hutan antah berantah, tanpa ada penduduk di sekitar istana yang dibangun Madun. Ia bertetangga dengan pohon kelapa yang menjulang tinggi. Keramaian di istana hanya berasal dari berbagai karyanya.

Madun memulai berkreasi dengan barang-barang bekas, yang terbawa arus dari laut. Mengumpulkan barang bekas dan menjadikannya sebuah karya telah dilakukannya sejak 1995. Tempat tinggalnya tak dekat dari laut, berkisar 1km, atau bahkan lebih.

Setiap barang bekas yang ia dapatkan, dari hal kecil seperti mainan anak-anak, helm, hingga tv tabung. Segala barang yang ia temukan dibawanya sediri. Berjalan kaki. Beberapa barang bekas lainnya, ia dapatkan dari hutan. Banyak sekali, guci-guci keramik ukuran sedang, di antara instalasi seninya.

Madun, dari sekilas penuturannya, bukanlah berasal dari latar belakang seniman. Pria lulusan SMA, yang pernah merantau ke Jakarta. Bahkan pernah pula hendak mengikuti tes Angkatan. Berasal dari Buton, dan merantau ke Tanjungpinang, kala saudara lelakinya sudah lebih dulu berada di Tanjungpinang.

Ia kemudian memutuskan menetap di sepetak tanah miliknya. Jauh dari hingar keramaian. Ditemani karya tangannya, dan seekor kucing betina.

Setiap sudut Istana Jendela Dunia, merupakan ruang untuk rangkaian yang ia buat sediri. Bahkan ruang utama yamg kami masuki pertama tadi, tak berbentuk rumah sebagaimana biasanya. Semua itu menjadi seni, yang Pak Madun gemari.

Sementara sekumpulan karya yang berada di halamannya, merupakan interpretasi Madun terhadap tamu-tamu yang ia terima di kediamannya.

“Ini yang pertama kali saya buat. Ini gambaran orang Singapura yang lulus masuk ke sini. Saya gambarkan seperti ketika dia datang dengan sepedanya waktu itu,” tutur Madun sembari memperkenalkan satu per satu rakitan karya yang ia buat.

Beberapa karya lainnya, merupakan gambaran juga mengenang peristiwa besar yang terjadi. Seperti rudal yag menembak pesawat Ukraina Januari lalu. Madun yang tak memiliki sumber informasi di kediamannya ini, juga membuatkan satu karya khusus tetang kejadian itu. Entah dari mana kabar tersebut ia dapat. Namun tak dapat ditampik, kreativitasnya mengubah barang-barang bekas acak, menjadi satu karya, sangatlah mengagumkan.

Tak semua karyanya dapat saya tangkap maknanya. Meski di setiap karyanya ia bubuhkan tulisan tangannya menggunakan penghapus tinta itu.

Tapi tetap saja rasa kagum melihat keuletan kreativitas Madun, dalam mengartikan imajinasi yang ada di kepalanya. Banyaknya hasil pekerjaan tangan yang ia buat, dari skala kecil, hingga bangunan lantai duanya, menunjukkam kegigihan Madun dalam berkreativitas. Tak hanya kami saja yag mengagumi keindahan dan originalitasnya dalam berkarya. Madun pun dengan bangganya menunjukkan hasil jerihnya, tak peduli bagaimana penilaian orang.

“Sudah lihat ini semua, silakanlah kalau mau lihat-lihat dan ambil gambar,” tutur Madun, menutup tur perkenalan karyanya di ruang yang berada di puncak Istana Jendela Dunia. []

More in Cerita Kita