Connect
To Top

Durasi Roro Terlama Kami

Pelajaran dari Seorang Ibu asal Jambi

Oleh Fatih Muftih

TIDAK ada toleransi. Pagi buta benar, kami mencari lokasi pasti jogging track di perumahan The Golf Residence di kawasan Sukajadi, Batam. Aplikasi Waze di mobil tidak lantas membuat OTW kami sekali gaspol. Beberapa kali berputar. Beberapa kali terlewat tikungan. Bang Tohar dari balik kemudi, terus memastikan mobil melajur di jalur yang benar persis seperti petunjuk di layar.

Ternyata bukan hal yang sulit untuk menemukan lokasi itu. Tita, kawan berlari Kak Pepy, membantu mengarahkan mobil kami sampai tepat di lokasi. Sekali sendloc dari Tita, beres adanya. Bang Tohar tak gamang lagi menginjak gas mobil. 

Sampai di lokasi, kami bertukar sapa dengan teman-teman dari Suka Lari Batam dan Crazy Run Batam. Bahkan mereka tak segan mencari tahu lebih lanjut kegiatan kami dan berharap suatu saat nanti bisa ikut dilibatkan. “Kami lari dah biasa, Pak. Kami pengen bisa baca puisi,” kata salah seorang pelari kepada Bang Nizar.

Di mana saya? Jelas saya hadir di area berlari di Batam. Saya mengenakan celana pendek. Kaus. Tapi tidak dengan sepatu. Rabu (22/1) pagi tadi, saya belum yakin bisa berlari seperti Kak Pepy, yang sudah bisa tembus pace 6’ untuk jarak 5 Km. 

Daripada memaksakan yang bisa saja berujung membahayakan, saya lebih pilih duduk santai. Sesekali memotret teman-teman yang lewat. Di tengah santai seorang di tengah keramaian orang berolahraga, ban depan sepeda menyeruduk punggung. 

“Maaf, Bang,” kata yang menuntun, “mau numpang ngikat sepeda di sini.”

Bapak-bapak yang saya taksir usianya tak jauh dari Bang Nizar itu adalah warga sekitar yang rutin berolahraga di sana. Maka ketika tempat biasanya memarkir sepeda saya sandari, ia memohon permisi. Sopan sekali. Seharusnya saya yang minta maaf, tapi bapak satu ini tak segan menjadi yang pertama mengucapkan.

Bersama Sukalari Batam dan Crazy Run Batam

Hari ini akan menjadi hari yang tak mudah buat kami. Perjalanan panjang mulai dititi. Tanjungpinang – Batam sudah sering sekali. Sekarang rutenya adalah Batam – Jambi via darat lewat pelabuhan Kuala Tungkal. Di antara kami semua, tak satu pun punya gambaran seperti apa pelabuhan yang baru buka ini. Maka, kami begitu antusias bercampur cemas mempersiapkan hari ini.

Azan Zuhur belum lagi terdengar. Bang Tohar sudah menuntut agar semua rombongan lekas masuk ke mobil. Kata dia selaku sopir, mobil ini dinanti oleh pihak pengelola pelabuhan di Punggur, Batam untuk dilakukan pemeriksaan. Dihadapkan pada momen seperti itu, kami yang penumpang tidak punya pilihan lain. Manut saja. 

“Cepatlah. Kita sudah ditunggu,” entah berapa kali saya mendengar Bang Tohar memekkikkan kalimat itu.

Rencana mampir beli perkakas, paket internet pun urung. Ke Punggur, hanya ke Punggur, mobil kami melaju. Berhenti sekali untuk mengisi bahan bakar. Sisanya tidak ada. Hanya ke Punggur yang ada di kepala Bang Tohar.

Kami tiba di Punggur ketika azan Asar masih jauh, sangat jauh. Infonya KM Satria Pratama akan mengangkut kami menuju pelabuhan Kuala Tungkal, Jambi pada pukul 15.00 WIB. Jadwal tinggal jadwal. Hingga dua jam kemudian, belum ada tanda-tanda pergerakan antrean mobil yang sudah memanjang. 

Baru pada pukul 17.22 WIB, operator pelabuhan mempersilakan mobil kami masuk ke kapal. Dicarikan parkir yang strategis. Buat orang lain, bisa saja hal ini tak penting. Lain dengan saya dan bada ekstra ini. Salah posisi parkir di lambung kapal akan membuat saya seperti badut sulap ketika hendak masuk di antara mobil-mobil yang terparkir rapat. 

Teman-teman buru-buru cari posisi. Pagi berlari dan lebih dari enam jam menanti cukup bikin punggung mereka kaku dan minta diluruskan. Bang Tohar saja, seketika bantal menempel di pipi, langsung hilang entah ke mana kesadarannya. 

Di kapal ini, kami akan menjalani durasi penyeberangan menggunakan kapal roro paling lama dalam sepanjang hidup kami. Teman-teman punya rekor naik roro hanya rute Tanjunguban-Telaga Punggur. Sedangkan saya, paling lama hanya rute Bakauheni-Merak yang tak lebih dari empat jam. 

Namun, Batam-Jambi ini akan menjadi rekor terbaru kami. Paling cepat, kami terapung-apung di Selat Jambi selama 10 jam. Itu pun jikalau semuanya sangat lancar. Namun jarang sekali terjadi. Rute ini normal ditempuh 12-15 jam. Artinya kami baru sampai sekitar pukul 09.00 WIB. 

“Dinikmatin saja, Mas. Tak terasa kok. Dulu saya juga nggak suka naik roro, tapi sekarang malah lebih sering pakai roro kalau pulang ke Jambi. Ada kenikmatan yang tak didapat jika naik pesawat,” kata seorang ibu yang saya temui di tengah-tengah antrean. 

Saya menulis catatan singkat ini di lantai puncak KM Satria Pratama. Saya mencoba melakukan dengan benar dan sungguh-sungguh pesan ibu untuk menikmati 13 jam di dalam lambung KM Satria Pratama. Tenggelam dalam dialog dengan diri sendiri. Satu hal yang sudah lama tidak saya lakukan. Dan mungkin di tengah pelayaran Batam-Jambi itu saya bisa menemukan ragam jawaban dari banyak pertanyaan yang saya ajukan kepada diri sendiri. []

*) FATIH MUFTIH, penulis dan redaktur budaya Tanjungpinang Pos. Terlibat sebagai anggota rombongan Tur Silaturahmi Budaya 2020.

More in Cerita Kita