Connect
To Top

Pak Isdianto Sepakat: Kerja Pariwisata Mestilah Kreatif

Pelepasan Rombongan Tur Berpuisi-Berlari

Oleh Wan Fhandry

AWALNYA, saya mengira Pak Isdianto tak datang di acara pelepasan rombongan kami, di Jembatan Dompak, Minggu (19/1) pagi. Wajarlah, kalau memang ia tak datang. Jadwalnya sebagai Pelakasana Tugas Gubernur Kepri tentu beribu-ribu kali lipat lebih padat dibandingkan saya.

Namun, malam sebelum acara, baru kami dapat kabar bahwa Pak Isdianto bersedia hadir di acara pelepasan. Saya membatin, berarti Pak Isdianto punya kepedulian terhadap kami, rombongan kecil dengan ide besar yang ingin mempromosikan pariwisata Kepulauan Riau dengan cara yang tak biasa.

Tepat seusai seluruh persiapan di lokasi acara rampung ditata, terlihat sedan berplat merah bernopol BP 1 meluncur dan melambat seketika memasuki area Jembatan Dompak. Tidak salah lagi. Itulah Pak Isdianto. Didampingi beberapa kepala dinasnya, ia hadir dan tanpa segan langsung mengenakan kaus yang sama dengan yang kami kenakan.

Pak Isdianto duduk di barisan depan. Sekali-dua, ada sepasang matanya melirik ke arah mobil kami yang terparkir selemparan batu dari lokasi acara pelepasan. Mobil yang tak lagi polos karena di bodinya sudah penuh stiker. Ada logo sponsor maupun foto beberapa destinasi wisata andalan Kepri.

Ketua Rombongan, Bang Husnizar membuka acara dengan lugas. Bahwasanya ide tur budaya ini sudah diperamnya lebih dari dua puluh tahun. Maka, ketika kesempatan datang ia tak perlu menununggu lama untuk mengiakan.

“Walau kami sadar, kerja yang mengandalkan swadaya ini akan sangat menguras waktu, tenaga, dan dana,” ujarnya.

Beruntung ide ini tidak sepenuhnya bertepuk sebelah tangan. Adalah satu dua pihak yang menyatakan rasa pedulinya. Tidak dengan cuma kata-kata, tapi juga ikut membantu urun biaya. Sedikit atau banyak, kata Bang Husnizar, itu sangat meringankan.

“Walau yang saya bawa ini semuanya banyak makan,” selorohnya.

Pelepasan secara simbolis.

Selanjutnya giliran Pak Isdianto yang bicara. Tanpa ba-bi-bu, yang kali pertama terlontar adalah pujian atas inisiasi kegiatan promosi pariwisata yang tak biasa semacam ini, yang menurutnya, tidak banyak dilakukan orang.

“Kalau tak Husnizar dan Pepy, takkan pernah ada ide luar biasa macam ini,” pujinya.

Tak disangkal olehnya, bahwa sektor pariwisata yang dimiliki Kepulauan Riau mestilah mulai dilirik sebagai sektor utama pendulang devisa. Apalagi, kata dia, pada tahun lalu, kunjungan wisman ke Kepri naik satu tingkat.

“Dulu kita nomor kwtiga paling banyak di Indonesia. Sekarang, kita adalah penyumbang devisa dari sektor pariwisata nomor dua se-Indonesia,” ujarnya.

Dan untuk terus bertahan, kalau bisa meningkat, Pak Isdianto menilai perlu kerja kreatif. Pariwisata, kata dia, tidak bisa dilakukan dengan cara monoton dan begitu-begitu saja. Pendekatan kreatif adalah keniscayaan. Silaturahmi Budaya Berpuisi-Berlari ini, dinilainya, sebagai cara kreatif dalam mempromosikan pariwisata Kepri kepada khalayak.

“Terima kasih untuk ide kreatif seperti ini. Saya harapkan, masih ada ide-ide kreatif lainnya untuk kemajuan pariwisata Kepri ke depannya,” ucapnya. []

More in Cerita Kita