Connect
To Top

Mari, Jangan Bikin Cuma Sekali

Batam Sambut Meriah Rombongan Berpuisi-Berlari

Oleh Fatih Muftih*

PETANG, Selasa (21/1). Kami sudah berkumpul di Anjung Asam Pedas Melaka di Mega Legenda 2, Batam. Segelincir lagi matahari terbenam. Para pekerja tengah rehat. Barangkali riuh pesanan siang tadi.

Pada suasana semacam itu, kami tidak banyak bicara. Bang Nizar menyiapkan puisi yang akan dibaca. Yogie paling sibuk hilir-mudik ke kanan-kiri. Kali pertama lagu-puisi akan dibawakan di luar Kota Tanjungpinang. Di sudut, dengan telinga tersumbat earphone, ia mengulang-ulang lirik lagu.

Fhandry menahan kantuk dari siang tadi. Bang Tohar, oh tak lepas tangannya dari ponsel, sebab masjid di tanah kelahirannya baru saja disatroni pencuri. Pak Jay a.k.a Senior menyuntuki kopi di atas meja. Radio tak pernah jauh dari jangkauannya. Terkopi manis, begitu selalu katanya.

Di sudut lain, Bang Cano juga memilih bungkam. Layar laptopnya terbuka. Ada pekerjaan yang minta lekas digesa. Kalau sudah dalam posisi itu jangan diajak bicara. Di mana Kak Pepy? Sebagi satu-satunya perempuan dan ibu dalam komposisi rombongan kami, ia tak lena memastikan tiga putrinya di rumah dalam keadaan baik-baik saja.

Begitu situasi kami. Hari pertama berjauh dari Tanjungpinang. Di dada mulai serasa ada lubang. Namanya rindu. Sejak hari ini, kami akan merentang jarak selama lebih dari 20 hari ke depan. Batam adalah kota kedua yang harus kami singgahi. Sebelum keesokan hari menyeberang ke Jambi.

Ada sedikit khawatir. Ada sedikit cemas. Perjalanan esok adalah kali pertama bagi seluruh anggota dalam rombongan kami. Masing-masing larut dalam imajinasi tentang kisah apa yang kelak terjadi.

“Jadi macam mana acara malam ini?” tiba-tiba Bang Dirman menyahut. Dia seniman Batam yang ikut menyambut rombongan kami dan sudah bergabung di Anjung Asam Pedas Melaka.

Lepas Isya menjadi kesepakatan antara Bang Nizar dan Bang Burhan, pemilik Anjung Asam Pedas, titik mulai acara. Mendengar itu, masing-masing di antara kami jadi punya ruang sendiri menghadapi gentar dalam dada yang tidak kentara.

Orang-orang belum datang. Namun, seiring kedatangan Bang Hardi S Hood beserta istri satu per satu kursi mulai terisi. Saya kira mereka yang datang sekadar barisan seniman, penyair, atau apalah. Ternyata, tidak. Justru yang memenuhi sebidang ruang utama di anjung ini terdiri dari ragam latar belakang.

“Ramai juga ternyata,” begitu kata Yogie, yang masih memastikan lirik melekat dalam kepala.

Acara mulai dibuka. Bang Dirman yang memandu sekaligus membaca doa. Setelahnya, ada Bang Ilyas. Ia mewakili tuan rumah yang menyambut kami dengan baik, ramah, hangat, tangan terbuka pula. Suatu sambutan yang membuat kami tersanjung.

“Terima kasih, Bang Nizar,” ucap Bang Ilyas.

Lho? Semestinya kamilah yang berterima kasih, Bang Ilyas.

“Kami senang bisa mendapat kehormatan menyambut rombongan ini. Kalau bisa, jangan berhenti di sini. Jangan sekali. Semoga bisa terus melebar 20 kotanya. Dan dari waktu ke waktu,” begitu Bang Ilyas menganjung harapan kepada kami.

Seturut-turut kemudian mulai menampilkan pembacaan puisi dan bernyanyi. Bang Nizar membuka lewat puisi Di Simpang Jam dan Haha (Harun-Hasto). Lalu Yogie yang kini harus menghadapi keraguannya di depan mikrofon. Tapi memang siapa bisa menyangkal kualitas lagu-puisi yang dibawakannya. Seingat saya, setiap terdengar Yogie meninggikan suara, saat itu pula tepukan tangan jadi lebih membahana.

Ah, Yogie. Agaknya ia benar-benar merebut panggung kami, para penyair yang membaca puisi tidak pernah jauh dari gaya deklamasi.

Selanjutnya berturut-turut puisi dibacakan. Lagu-lagu dinyanyikan. Semakin malam, semakin hangat. Kami menyambut matahari esok yang akan membawa kami ke Jambi dengan lebih berani.

“Cuma 10 jam aja kok, Tih,” kata Bang Tohar.

Itu tidak cuma. Ada banyak hal yang akan kami lakukan selama 10 jam di atas kapal laut melintasi samudra. Maka, tunggu cerita dari kami selanjutnya. []

*) FATIH MUFTIH, penulis dan redaktur budaya Tanjungpinang Pos. Terlibat sebagai anggota rombongan Tur Silaturahmi Budaya 2020.

More in Cerita Kita