Connect
To Top

Ada Hinca untuk Natuna

Menegaskan #NatunaJantungIndonesia

Oleh Fara Verwey

PADA tayangan Mata Najwa episode Ada China di Natuna, saya jadi tahu benar seberapa degil armada coast guard tentara China melanggar teritori Indonesia. Disuruh mundur ke utara, ngeyel. Katanya, masih berada di perairan China. Padahal jelas sekali, mengacu hukum UCLOS, mereka berada di wilayah kita.

Seruan Bakamla diabaikan. Mereka berpegang pada aturan Dash Nine Line, yang padahal tidak pernah diakui secara sah oleh PBB. Jadi kesal melihatnya. Gemas. Rasanya pengin merampas mikrofon milik mbak-mbak di kapal Bakamla dan berteriak: pulang woi!

Namun, dalam polemik pelanggaran perbatasan yang membuat provinsi Kepulauan Riau jadi semakin tenar di televisi-televisi nasional itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. KTP saya memang Kepri, tapi kota saya Tanjungpinang.

“Jauh banget. Perlu naik kapal sehari semalam untuk sampai Natuna,” begitu penjelasan saya kepada seorang kawan di Bogor yang menanyakan posisi rumah saya dengan Natuna.

Walau begitu, saya terus mengikuti perkembangan kisruh wilayah perbatasan di Natuna. Setiap membuka gawai, lebih dahulu saya mencari kelanjutan beritanya. Terlebih usai kunjungan Pak Presiden Jokowi, Rabu (8/1) lalu dengan setelah jaket bomber biru dongker dan sepatu kets andalannya.

Tak puas di situs-situs berita, saya beralih ke media sosial. Penasaran. Pasti dengan mudah akan didapati adu argumen juga maki-makian perihal pelanggaran kedaulatan Indonesia oleh kapal-kapal China. Benar saja. Setiap gulir layar, setiap itu pula ada saja yang terbaca soal Natuna.

Sampai pada sebuah poster digital dengan wajah seorang yang rasa-rasanya tak asing. Saya mengeja namanya yang aduhai panjang dan penuh huruf kapital. Dr. Hinca I.P. Panjaitan XIII, S.H., M.H., ACCS. Begitu lengkapnya. Ia seorang politisi. Jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat. Juga Anggota Komisi III DPR RI yang membidangi urusan hukum, hak asasi manusia, dan keamanan.

Oh ini Bang Hinca atau Bang Sekjend yang dibicarakan Kak Pepy dan Bang Nizar itu, batin saya. Oh ini ‘orang pusat’ yang ketularan bermain teater Makyong itu. Oh ini politisi yang dulu mau kuliah di Medan tapi duitnya kurang itu.

Sekarang ia sedang di Tanjungpinang. Sekarang ia akan membincangkan Natuna. Mengapa Hinca? Mengapa Natuna? Pertanyaan yang saya bawa dari rumah sampai ke lokasi acara.

#NatunaJantungIndonesia

Ini jelas bukan kali pertama Bang Hinca main ke Tanjungpinang. Setidaknya begitu yang saya dengar dari Kak Pepy. Namun, inilah kali pertama ia singgah ke Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman. Dan apresiasi inilah yang kali pertama kali terucap sebelum membincangkan Natuna.

“Kalau hendak melihat sebuah kota dan kemajuan keseniannya,” kata Bang Hinca, “tengok saja, apakah punya gedung kesenian atau tidak. Dan ternyata Tanjungpinang punya.”

Sepele. Kota Gurindam Negeri Pantun, gitu lho. Ya kali kota kami tidak punya gedung kesenian. Malu dong sama julukannya yang keren itu.

Karena acara ini diselenggarakan di gedung kesenian, akan sungsang dan hambar jikalau tak ada kesenian yang dipentaskan. Beruntung, panitia pelaksana membaca kebutuhan tersebut.

Penyair Abdul Kadir Ibrahim naik ke panggung. Sebagai penerima Anugerah Jembia Emas 2019, tidak mungkin jikalau Akib, begitu sapaan akrabnya, akan membaca puisi dengan gaya selamba. Apalagi yang dibincangkan, Jumat (10/1) pagi itu ihwal kedaulatan Tanah Air yang diusik semena-semena.

Perkiraan saya tak keliru. Akib tampil paripurna. Puisi tentang Natuna yang ditujukan secara khusus untuk Presiden Joko Widodo ditampilkannya dengan gemilang, emosional, dan penghayatan maksimal. Natuna jelas bukan suatu yang asing baginya. Ia dilahirkan di sana. Darah yang mengalir adalah darah anak jati Natuna. Yang sakit hatinya. Yang pilu rasanya. Tanah kelahiran dipermainkan semena-mena.

Selanjutnya adalah Kak Pepy. Saya pikir ia akan menari. Ternyata tidak. Layar di atas panggung menampilkan video klip lagu Jelita Sejuba. Oh, saya pikir ia akan menyanyikan lagu Anji. Ternyata tidak juga.

Kaus yang dikenakan berwarna putih bertuliskan #NatunaJantungIndonesia. Kak Pepy tidak menari dan menyanyi. Kak Pepy naik ke panggung untuk membacakan sebuah tinjauan atas gerakan yang pernah diinisiasi empat tahun silam, atau tepatnya pada 21 Mei 2016.

Saat itu, baru saya tahu, yang kali pertama menggulirkan jargon #NatunaJantungIndonesia itu adalah Bang Hinca. Bersempena Hari Kebangkitan Nasional tahun itu, Bang Hinca secara khusus terbang dari Jakarta ke Tanjungpinang untuk menggelorakan semangat menjaga Natuna, menyayangi Natuna, dan membangun Natuna.

Dari pertemuan yang dihadiri lebih dari 300 pemuda waktu itu, tercetuslah tagar #NatunaJantungIndonesia. Lebih dari sekadar jargon. Ungkapan ini mengingatkan posisi penting Natuna bagi Indonesia. Oleh Kak Pepy, ingatan setengah windu itu dikenang dan dibacakan dengan suara mantap. Ditutup pula dengan puisi yang tak kalah sedap.

Tiba giliran Bang Hinca. Biar pun mengenakan rompi. Bersepatu Vans. Tanjak tetaplah di atas kepala. Tanpa banyak aba-aba, Bang Hinca meraih pelantang dan membuka kata. Tegas. Padat. Mudah dipahami.

“Negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Itu adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar. Wajib. Harus. Sehingga tidak ada warga republik ini yang tidak sejahtera. Tidak ada warga republik ini yang terisolir hanya karena memilih tinggal jauh dari ibu kota. Tidak ada warga republik ini yang kehilangan masa depannya hanya karena berada jauh dari pusat keramaian.

“Dan menurut catatan saya, negara belum sempurna hadir di Natuna,” ungkap Hinca.

Kontan kalimat itu dibayar lunas dengan tepukan lebih dari 200 orang yang memenuhi Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman. Pecah. Gerr. Bukan karena lucu. Melainkan apa yang dikatakan oleh Bang Hinca sebagai kalimat itu benar adanya. Natuna adalah bagian dari Indonesia. Maka negara wajib hadir, dengan atau tanpa gangguan dari China.

Soal Presiden Jokowi yang sudah langsung menuju ke Natuna kala eskalasi mulai meningkat, itu dirasanya sudah hal yang tepat. Bang Hinca mengapresiasi itu. Hanya saja, akan semakin lengkap rasanya jikalau memang ada pembahasan khusus tentang pembangunan dan pencarian solusi dari permasalahan yang membelit Natuna dari tahun ke tahun.

Terang. Bang Hinca menyebut ada satu hal lain yang dirindukan dari Presiden Jokowi. “Kita semua rindu untuk memastikan perintah beliau kepada menterinya untuk tinggal di Natuna, memikirkan jalan keluar apa yang harus dihadapi orang Natuna. Kalau kemudian di Papua, menteri bisa berkantor sebentar di sana, mengapa tidak dengan di Natuna,” ucapnya.

Bayaran kontan lagi. Dobel. Suasana lebih semarak. Apa yang terucap dari Bang Hinca patut dikutip media-media nasional dan dijadikan judul besar. Eh, Viswara ‘kan juga nasional.

Bagaimana pun, sambung Bang Hinca, kekayaan alam di Natuna adalah keniscayaan bagi Provinsi Kepri dan juga sudah tentu Indonesia. Karena itu sudah semestinya, kata dia, pemerintah datang ke Natuna bukan sekadar ketika terjadi persoalan maupun pelanggaran perbatasan.

“Jangan kalau sudah sakit baru dokternya datang. Itu lebih susah,” ujarnya.

Dari tadi Bang Hinca yang bicara. Padahal tujuannya ke Tanjungpinang lebih untuk memanfaatkan fungsi penyerapan aspirasi sebagai anggota legislatif. Pada sisa waktu yang tersisa, Bang Hinca membuka lebar-lebar telinganya.

“Izinkan saya untuk mendengar aspirasi kawan-kawan sekalian. Nanti akan saya catat untuk dibahas dengan teman-teman Fraksi Demokrat di Jakarta.”

Setelah kalimat pelawa itu, hadirin pun berebut berunjuk. Satu per satu ingin suaranya tentang Natuna dicatat di buku saku yang sudah disiapkan Bang Hinca di atas pangkuannya.

Tokoh masyarakat. Tokoh pemuda. Mahasiswa. Orang Natuna. Sama sepakat menuntut perhatian dari pemerintah pusat bukan sebatas ketika Natuna berkonflik dengan China.

Perhatian yang tidak sekadar kata-kata. Mestilah dalam wujud jalan raya yang bagus. Arus transportasi yang lancar. Ketersediaan sembako. Kapal-kapal nelayan canggih. Pengamanan optimal. Jaringan komunikasi memadai. Juga pembagian dana perimbangan yang adil dan layak.

Sementara aspirasi terus berbunyi, saya melirik tangan Bang Hinca dengan pena terus menari, mencatat segala agar tidak ada yang terlewati. Bukunya biasa. Penanya warna-warni murah belaka. Namun, sungguh yang dicatat di sana bukan perkara yang remeh adanya. Apa yang ditulis Bang Hinca di sana adalah amanah, harapan, juga tuntutan dari Natuna yang disebutnya sebagai jantung Indonesia.

Apa jadinya kalau jantung berhenti berdenyut sedetik saja? Tidak bisa. Maka dengan segala upaya jantung itu harus dipastikan terus memompa, bekerja, agar Indonesia tetap ada di laut utara. Bang Hinca sudah hadir untuk memicunya, memastikan jantung Indonesia ini tetap bekerja.

Selanjutnya, giliran kita. Kalau Bang Hinca yang dari Sumatra Utara saja bisa punya rasa peduli sedemikian rupa, semestinya yang berdetak di tekad kita dua kali lipat adanya. []

Cakap-Cakap Rampai Natuna

More in Cerita Kita