Connect
To Top

Kado Ultah Tanjungpinang, Penyair Sampaikan Petisi untuk Wali Kota

Nomor 3 Bikin Berdampak ke Senggarang

Oleh Zainal Anbiya

KEMARIN, kota kita bertambah usia. Tarikh Perang Riau yang dipimpin dan dimenangkan Raja Haji Fisabilillah pada 6 Januari 1784 di perairan Teluk Ketapang dijadikan momentum. Artinya, Tanjungpinang sudah berusia 236 tahun.

Bukan kota yang lagi muda. Semestinya ketika sudah lebih dari dua abad, kemajuan kota ini berbilang-bilang. Di bidang pembangunan. Bidang ekonomi. Bidang kebudayaan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Namun, menangisi dan meratapi apa yang jadi dari kota ini hari ini bukan pilihan. Raja Haji orangnya optimistis. Pun kita semestinya menganut nilainya. Semoga semakin lebih baik, begitu doa di setiap perayaan pertambahan usia.

Pada tahun ini, pemerinta daerah tidak menggelar perayaan khusus bersempena Hari Jadi Tanjungpinang. Wali kota dan jajarannya hanya melakukan ziarah ke kubur-kubur leluhur dan pahlawan nasional.

“Ziarah makam para leluhur Tanjungpinang ini sudah menjadi agenda rutin setiap peringatan Hari Jadi. Ini juga bentuk penghargaan kita kepada para leluhur yang telah memperjuangkan nama Tanjungpinang,” ucap Wali Kota, Syahrul, usai melakukan ziarah.

Wali Kota Syahrul berziarah sempena Hari Jadi Tanjungpinang. Foto: Humpro Pemko

Kalau memang Ayah, ceileh panggilan Wali Kota kita, memilih untuk tidak mengadakan perayaan Hari Jadi Tanjungpinang sebagaimana yang sudah-sudah itu adalah pilihan. Ziarah juga hal yang baik. Tidak keliru. Namun tidak ada perayaan hari jadi yang bisa menghadirkan kegembiraan warga kota kok rasanya kurang lengkap saja.

Tapi marah-marah juga bukan solusi. Memaki-maki apalagi. Ini soal pilihan dan selera wali kota saja. Sesederhana itu saya coba menafsirkannya.

Kerisauan ini ternyata bukan milik saya seorang. Hari jadi sebuah kota adalah momentum. Maka, barisan penyair pun menggelar pembacaan puisi di kompleks Monumen Perjuangan Raja Haji Fisabilillah. Semangatnya adalah merayakan Hari Jadi Kota Tanjungpinang, mengenang kembali perjuangan Raja Haji, juga merefleksi kemasyhuran Tanjungpinang sebagai bandar yang berpusat di Sungai Carang.

“Inilah kemudian mengapa kita jadikan Kembali ke Ulu Riau jadi spirit malam baca puisi kali ini,” kata penggagas, Datuk Seri Lela Budaya Rida K Liamsi.

Semangat ini dapat sambutan luar biasa. Tak kurang 50 penyair mendaftarkan diri untuk ambil bagian membaca puisi. Para penyair dari Batam pun seolah tak mau melewatkan momentum ini dengan ikut menyeberang ke Tanjungpinang.

Sayang, hujan turun lebih lekas. Baru dua jam pembacaan, panggung mesti dikemas. Namun, jangan salah. Ada semangat lain yang tak lapuk oleh hujan. Barisan penyair ini ternyata telah menyiapkan petisi untuk Wali Kota Tanjungpinang.

Penandatanganan petisi oleh para penyair di Kedai Kopi Sekanak.

“Kami ingin Wali Kota benar-benar bisa memerhatikan petisi ini. Tak lain dan tak bukan juga demi kota ini,” kata Abdul Kadir Ibrahim, penyair yang juga menginisiasi petisi ini bersama Rida K Liamsi dan Husnizar Hood.

Begini bunyi petisinya yang nanti akan secara resmi disampaikan kepada wali kota:

Kami Penyair yang tergabung dalam pembacaan puisi Hari Jadi 236 Kota Tanjungpinang, 6 Januari 2020, menyerukan Pemerintah Kota Tanjungpinang dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk segera:

1. Menjadikan tanggal 6 Januari setiap tahunnya sebagai Peringatan Utama dan Besar Hari Jadi Kota Tanjungpinang dengan menjadikan momentum tersebut sebagai ajang promosi dan Expo Daerah Kota Tanjungpinang dan Provinsi Kepulauan Riau dalam skala nasional dan internasional.

2. Menyelamatkan dengan cara  membebaskan seluruh lahan atau kawasan yang pernah menjadi Pusat Kerajaan Riau di Ulu Riau, Sungai Carang, Kota Tanjungpinang, yakni Kawasan Kota Rebah (Kota Lama), Kawasan Pemakaman Daeng Marewah, Kawasan Pemakaman Daeng Celak, Kawasan Pemakaman Daeng Kamboja, Kawasan Pemakaman Sultan Ibrahim, Kawasan Pemakaman Sungai Timun, Kawasan Pemakaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Kawasan Istana Kota Piring-Pulau Biram Dewa, Pulau Bayan, dan Kawasan Pemakaman Raja Ali.

3. Memberi nama pusat Pemerintahan Kota Tanjungpinang di Senggarang dengan nama Bandar Tun Abdul Jamil, dengan alasan bahwa beliau adalah orang berjasa membuka Ulu Riau, Sungai Carang, Senggarang.

4. Menjadikan seni-badaya Melayu, khasnya bahasa dan sastra Melayu sebagai muatan lokal di semua jenjang pendidikan, mulai dari SD sampai dengan Perguruan Tinggi di Kota Tanjungpinang khususnya dan Kepulauan Riau umumnya.

5. Menjadikan sastra sebagai teraju dan sumber keadaban di tengah perubahan dan kemajuan masyarakat serta jalannya roda pemerintahan di Kota Tanjungpinang dan umumnya di Kepulauan Riau.

Demikian Petisi ini kami buat dengan segenap keperihatinan dan harapan kami terhadap nasib negeri Kepulauan Riau, dan khususnya Kota Tanjungpinang dengan kekayaan dan nilai “agung” dari Kerajaan Riau, khususnya dari Peristiwa Akbar “Perang Riau”, yakni Perperangan Pasukan Kerajaan Riau-Raja Haji Fisabilillah dengan Belanda, sebagamana dimaktubkan di atas.

Tanjungpinang, 6 Januari 2020 Para Penyair Pembacaan Puisi Harijadi 236 Kota Tanjungpinang.

Jadi, kapan ditanggapi petisi para penyair ini, Pak Wali? Eh, Ayah Wali? []

More in Kota Kita