Connect
To Top

Cinta Staman Tak Bertepuk Sebelah Tangan

Senandung Negeri is Magic

Oleh Zainal Anbiya

NAGA naik ke atas panggung mengenakan jaket parka bermotif loreng. Adapun Dharma langsung siaga di balik kibor. Dua personel band Lyla ini menyapa warga Tanjungpinang dengan wajah cerah, secerah matahari sore di pelataran Gedung Gonggong, Minggu (5/1) kemarin.

Sukar dipungkiri. Naga-Dharma adalah daya pikat di atas panggung. Kalau mau jujur, separuh lebih yang datang menanti aksi mereka. Kendati demikian, patut digarisbawahi, acara sore itu bukan acara besar Lyla, band Dharma dan Naga. Pengantin sore itu adalah Staman Malay Accoustic.

Kelompok pemusik etnik dari Pulau Penyengat ini merilis satu lagu berjudul Senandung Negeri. Naga bertindak sebagai kolaborator bersama Robi di departemen vokal. Adapun Dharma kebagian tugas meracik suasana lagu agar sedap didengar.

“Lagunya enak banget,” begitu kata Naga sebelum mulai membawakan Senandung Negeri.

Sebelumnya, guna menghidupkan suasana penonton yang sudah memadati area Laman Boenda, tak segan Naga lebih dahulu membawakan nomor-nomor populer milik Lyla. Macam Jantung Hatiku, Janji, Magic, juga lagu lama Ada Band Walau Badai Menghadang.

Lagu-lagu populer itu hadir dalam suasana dengar yang berbeda. Jelas. Karena Lyla tidak tampil lengkap personelnya. Justru di sini asyiknya. Staman memberikan pendekatan tersendiri lewat bunyi-bunyi akustik etniknya.

“Saya juga penasaran seperti apa kalau lagu lama yang saya sukai ini ada aransemen etnik Melayunya,” kata Naga sebelum memulai vokal Walau Badai Menghadang.

Video Klip Senandung Negeri oleh Staman ft Naga-Dharma Lyla.

Cinta Staman, Cinta Naga Pula

Senandung Negeri telah secara resmi dirilis. Bisa didengar dalam beragam layanak musik digital. Dalam sekali dengar, kita tahu lagu ini bercerita tentang negeri kita, negeri Melayu, negeri Segantang Lada.

Penyengat, Indrasakti, Tanjungpinang, Kota Gurindam, hadir dalam tubuh lirik. Penegas gagasan yang coba dibangun dalam komposisi gubahan Muhammad Razif ini. Sementara pada bagian reffrain, bulat-bulat mengutip aforisma adiluhung milik orang Melayu: Takkan Melayu Hilang di Bumi.

Kiranya akan sangat mengena ketika lagu ini diputar di Hari Jadi Tanjungpinang, Ulang Tahun Provinsi Kepri, atau gawai-gawai kesenian maupun kepariwisataan. Juga cocok bagi orang Tanjungpinang yang sedang merantau di kampung orang dan didera rindu kampung halaman.

“Reff-nya enak. Mudah dihapal. Overall, musiknya menyenangkan,” kata seniman Husnizar Hood usai menyimak Senandung Negeri.

Harmoni. Saya menyimpulkan pengalaman dengar saya dalam satu kata. Vokal Naga yang nge-pop berhasil berbaur dengan tipikal suara Robi yang totok Melayu. Jika didengar benar-benar menggunakan headset, Anda bisa merasakan keterpaduan dua vokal yang berbeda itu tanpa harus mengalahkan satu sama lain.

Dan ternyata ini semua berdasar. Pada hari perilisan, Naga mengonfirmasi musik etnik bukan suatu yang asing baginya. Dahulu di Pekanbaru, kata dia, ada Festival Hitam Putih. Sebuah panggung kreativitas yang menyajikan musik etnik-pop.

“Lyla pernah juga main di sana,” ungkapnya.

Pekanbaru dan Tanjungpinang yang sama-sama Riau pun menjadikan Naga tidak banyak kesulitan dalam mengaktualisasikan diri dalam musik etnik Melayu yang diusung Staman. Lebih-lebih, Naga pun mengakui menyukai musik etnik. Hal ini yang lantas membuat cinta Staman pada musik etnik pun tak bertepuk sebelah tangan. Naga dan Dharma hadir untuk melengkapi kepingan di nomor Senandung Anak Negeri.

Soal musik etnik, Naga pun memberi tempat sendiri. “Terima kasih kepada para pemusik yang tetap konsisten bermain musik di jalur etnik. Kalian ikut melestarikan dan menjaga identitas bangsa kita,” ucapnya.

Selanjutnya, sudah jadi tugas kita untuk mendukung agar Staman tetap berkarya dan tak membiarkannya berjuang sendiri. Sebab, generasi kini, bangunkan negeri dengan seni. []

More in Kabar Kita