Connect
To Top

Pedagang Kata-kata

Kolom Temberang Husnizar Hood

Oleh Husnizar Hood

PEDAGANG KATA-KATA

Kami pedagang kata-kata
Penyair kaki lima
Jangan usir kami
Karena sebenranya puisi kami tak ada pembeli
Kami hanya menjual kata-kata saja
Sama seperti kalian juga
Bedanya kami hanya ingin meluahkan perasaan
Tapi kalian untuk merebut kekuasaan

Jangan hadapkan kami dengan Satpol Puisi Prahara
Karena mereka tak punya kata-kata
Pantun mereka pentungan
Syair mereka mengusir
Gurindam mereka
pasal demi pasal Peraturan Daerah yang sebenarnya mereka tak tau pakah berfaedah atau berburuk padah

Kami hanya pedagang kata-kata
Penyair kaki lima
Siapa yang mau membeli dagangan kami?
Kata-kata kami kini seperti kacang rebus yang terus menerus dipanaskan agar tak lebam hingga jam duabelas malam

Mimpi puisi terbit dalam kemasan buku seperti manisan jambu batu yang hijau tersusun indah di dalam etalase kaca
punah tak ada yang menjamah

Jika kami dilarang berjualan di sini
Akan ke manakah kami?
ke gedung kesenian sewanya mahal
Ataukah kami akan masuk ke mal ?
kami tak punya modal

Apakah kami harus menjajakannya di gedung parlemen?
Atau di halaman rumah Datuk Bandar
Mana mungkin laku,
mereka lebih hebat berjualan kata-kata di sana
Suara-suara telah mereka beli bermiliar-miliar harganya
Hingga tak ada yang berani berkata-kata lagi

Sajak-sajak kami ini kalau laku paling mahal harganya 100 ribu
bukanlah seperti minyak solar yang selisih harganya besar dan sangat menggiurkan itu lalu hilang di SPBU ditelan hantu

Gerobak dorong kami sederhana beroda dua dengan satu tiang di tengahnya
Kemudian kaki kami dua
karena itulah kami disebut
kaki lima
berlampu kecil
tapi nampak jelas di depan mata bukan seluas gelanggang permainan mesin ketangkasan yang kalian malah minta tunjukkan di mana alamatnya

Kami memang tak berizin,
bagi kami berdagang kata-kata di kaki lima hanya seizin Tuhan Sang Pencipta
Ketika gerhana tiba kami ingin menjajakan kata-kata di bawahnya
Sambil membaca
“Tuhan, alangkah indahnya gerhanaMu
Tapi segera terangkanlah hati mereka
yang sedang gerhana itu
Jangan terlalu lama
Kami tak kuat
menahan kata-kata
di dalam dada ini
yang suatu waktu bisa saja berubah menjadi api”

Pertama-tama saya ingin memberitahu itu adalah puisi kawan saya Mahmud. Judulnya Pedagang Kata-Kata, Penyair Kaki Lima dan Gerhana. Puisi itu dibacakannya tanggal 25 Desember kemarin atau tepatnya tanggal 25 malam di “Tugu Proklamasi” Tanjungpinang.

Acara baca puisi itu dibuat oleh anak-anak muda pecinta sastra yang mereka beri nama Kandil Sastra. Hebat! Sungguh, mereka punya bakat yang bagus dan kalau saya menilai di atas rata-rata. Tinggal mereka memutuskan jalan sastra mana yang akan mereka pilih.

Macam musik juga. Bakat menyanyi sudah dimiliki, hanya tinggal menentukan mau berada di jalur yang mana. Rock, pop atau dangdut dan banyak lagi tentulah sesuai kemampuan diri.

Kawan saya Mahmud sempat menyampuk, “Bakat jadi pemimpin sudah ada tinggal menentukan mau jadi pemimpin seperti apa, banyak bual atau banyak kerja? Atau lebih parah lagi banyak nunduk karena dibentak dan diatur bini.”

“Hussshh!” sergah saya. Ini perbincangan serius, bukan main-main.

Saya suruh dia fokus saja mempersiapkan dia membaca puisi. Jangan pikirannya bercabang ke hal lain yang tak ada gunanya. Sedari tadi Mahmud pikirannya ke mana-mana. Ada juga dia tadi merepet, “Tugu Proklamasi ini sebuah penanda tentang kemerdekaan negara ini bagi kita yang ada di negeri ini, tapi tugu ini tak membanggakan, berada di sudut sempit dengan warna kalau dilihat tak sampai hati.”

Saya patahkan juga repet Mahmud itu. Banyak hal lain yang lebih penting untuk dibahas dibandingkan tugu ini. Lampu jalan, misalnya, lebih penting menurut saya. Eh kawan saya itu langsung melenting, “Kalau bangsa ini tak merdeka takkan ada lampu jalan itu, gelap semua,” potongnya.

Saya terdiam. Bukan ikut membenarkan Mahmud, tapi terpikir ada beberapa tempat di negeri kita ini masih tak ada listriknya. Apakah mereka itu belum merdeka? Ah, saya buang jauh-jauh pikiran buruk itu, malah yang terpikir adalah hal buruk lain, “Apakah terbayar tagihan listrik bulan depan?”

Baca puisi malam itu luar biasa dahsyat, karena dipersiapkan untuk menyambut Gerhana Cincin yang akan terjadi, dan bertepatan Tanjungpinang salah satu kota yang bisa melihatnya  nanti makanya acara ini dibuat dengan semangat “dari matahari terbenam hingga matahari terbit”. Kawan saya Mahmud berseloroh, “Apa kuat orang ini sampai Subuh? Jangan-jangan cuma dari matahari terbenam sampai mata terpejam,” di ujung kalimat dia tertawa sendiri dan tak ada yang ikut dengan Mahmud tertawa.

Hanya saya tertawa melihat penyair Irfan Tuah. Puisinya memaki tapi wajahnya tersenyum. Zainal memanjat tugu itu dengan lincah. Anak Bugis ini memang gesit walaupun sebagai Bugis dia mabuk jika berlayar di laut. Dan malam itu juga hadir Tok Rida dengan puisi sejarahnya yang selalu mengingatkan kita untuk mengenang luka sejarah itu.

Oh ya, di giliran sebelum Tok Rida tadi giliran kawan saya Mahmud “bertausyiah” dia mengingatkan penyair-penyair muda itu untuk tunak dan sungguh-sungguh menjadi penyair, jangan hanya ikut-ikutan dan coba-coba.

Saya ingat dulu kawan saya Mahmud pernah bercerita yang sama dengan saya tentang itu bahwa dia sangat serius dan bersungguh-sungguh menjadi penyair. Dia bilang mereka-mereka di luar sana itu juga bersungguh-sungguh jadi koruptor jika tak sungguh-sungguh tak mungkin Jiwasraya bangkrut padahal sempat jadi sponsor sepak bola dunia.

“Sangat sungguh-sungguh untuk bisa jadi koruptor yang andal kalau tidak pasti dah kena bedal, sangat sungguh-sungguh untuk bisa jadi pemimpin kalau tidak pedagang bisa meradang, itu yang terjadi sekarang, kita tak punya rencana mengantisipasi apa yang akan terjadi, kita buat tempat keramaian tapi kita gugup menghadapi dampak akan keramaian itu, ada gula pasti ada semut,” tausyiah Mahmud dengan saya.

Karena itulah malam itu Mahmud sangat dengan perasaan dia membaca puisinya. Karena dia bagai tahu kelak sebentar lagi kalau proyek Gurindam Dua Belas ini selesai, siapa yang paling dulu datang, ya pedagang, mereka melihat peluang dan ingin juga perut mereka kenyang.

Semua yang saya ceritakan ini adalah hal yang pertama-tama ingin saya sampaikan. Sementara hal yang kedua adalah saya ingin menyampaikan ucapan selamat Hari Natal kepada sauadara sebangsa yang merayakannya, ucapan ikhlas tanpa membaca perdebatan yang bagi saya itu tak perlu diperdebatkan.

Tentu sekaligus Selamat Tahun Baru 2020 kepada semua. Tahun yang sudah lama akrab dengan telinga kita ya, Visi 2020. Sekejap lagi sampai apakah sudah 2020 juga semangat kita? Atau ape ke tidak aje. []

More in Kolom Temberang