Connect
To Top

Kita Diimbau Tak Merayakan Malam Pergantian Tahun Baru

Tak Pesta Kembang Api, Tak Pula Tiup Terompet


Oleh Wan Fhandry

Yang lumayan bikin geger kedai kopi dalam sepekan terakhir adalah surat resmi bernomor 451 yang diterbitkan Pemerintah Kota Tanjungpinang. Surat bertanggal 26 Desember itu ditujukan kepada kepala OPD, camat dan lurah, ormas Islam, kepala lembaga pendidikan, dan pengurus masjid/surau/musalla se-Kota Tanjungpinang.

Judul besarnya adalah HIMBAUAN (walau kata baku yang sebenarnya adalah imbauan) perihal PERGANTIAN TAHUN BARU MASEHI DI KOTA TANJUNGPINANG.

Surat Resmi dari Pemko Tanjungpinang.

Ada tiga poin yang diterakan.

Pertama, adalah TIDAK MERAYAKAN MALAM PERGANTIAN TAHUN BARU “Baik berupa hiburan, maupun pesta pora kembang api/Petasan dan Peniupan Terompet” dan Ugal-ugalan di jalan raya (ditulis sebagaimana redaksi aslinya).

Dengan penulisan redaksi semacam itu, bisa ditarik simpulan, bahwanya Pak Wali, eh Ayah Wali, tidak ingin melihat ada pesta pora kembang api maupun petasan di langit Tanjungpinang pada malam pergantian tahun nanti.

Juga jangan ada yang meniup terompet. Termasuk pula hiburan. Apa pun itu yang berkenaan dengan malam pergantian tahun baru. Apalagi sampai ugal-ugalan di jalan raya.

Kedua, Kepada seluruh OPD, Camat, Lurah, Alim Ulama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Adat agar mengingatkan anak-anak muda, para remaja, dan Masyarakat umumnya untuk tidak melakukan kegiatan sebagaimana point di atas (ditulis sebagaimana redaksi aslinya).

Pak Wali sadar imbauan ini tidak bisa jika hanya digaungkan seorang kepala daerah. Perlu pula dilibatkan beragam elemen masyarakat untuk mengimbau agar anak-anak muda, para remaja, dan masyarakat umumnya tidak melakukan poin pertama. Dengan begitu, diharapkan imbauan ini bisa langsung menyasar masyarakat dan mengurungkan niat bagi yang hendak merayakan malam pergantian tahun baru.

Ketiga, Untuk pergantian tahun baru Masehi ini diisi dengan kegiatan shalat Magrib berjamaah, Yasinan, Zikir, Istighosah, dan Shalat Isya berjamaah di Masjid/Surau/Mushalla (ditulis sebagaimana redaksi aslinya).

Dari sini, jelas Pak Wali, eh Ayah Wali, memberikan kegiatan alternatif dalam mengisi malam pergantian tahun. Ditinjau dari redaksinya, poin ketiga di atas berlaku bagi sobat-sobat muslim. Lantas bagaimana dengan sobat non muslim? Itu yang alpa dari surat bernomor 451 ini.

Terlepas dari beragam salah ketik maupun kekurangefektifan penggunaan kalimat dalam surat tersebut, poin sebenarnya yang patut mendapat perhatian bagi kita semua, sebagai warga Tanjungpinang, adalah poin pertama. Yang bahkan saking perlu diperhatikannya sampai ditulis dengan huruf kapital: TIDAK MERAYAKAN MALAM PERGANTIAN TAHUN BARU.

Sampai di sini, sekiranya kita sudah paham apa yang hendak dimaksudkan wali kota, bukan? Jadi malam tahun baru ke mana kita? Yasinan, kuy![]

More in Kabar Kita