Connect
To Top

Gempita Gerhana di Ibu Kota

Perayaan Gerhana Matahari Cincin di Tanjungpinang

Oleh Fara Verwey

Fenomena gerhana matahari yang pernah dicatat Raja Ahmad pada 8 Juli 1861 kembali terulang. Kamis (26/12) siang kemarin, tepat pada pukul 12.24 WIB, langit Tanjungpinang menyajikan fenomena alam nan langka berupa gerhana matahari total atau yang sering disebut gerhana matahari cincin.

Ini merupakan gerhana matahari total kali kedua yang terlihat di Tanjungpinang setelah 158 tahun lalu. Tak pelak, karena bisa saja perlu waktu satu generasi untuk dapat melihatnya kembali, gerhana dirayakan penuh gegap-gempita. Pemerintah Kota Tanjungpinang bahkan sampai menggandeng Bosscha Observatory dari ITB untuk ikut melaksanakan pemantauan di ibu kota provinsi Kepri ini.

Tak heran pula jikalau pemerintah pun memilih mengemasnya jadi sebuah festival selama dua hari penuh yang dipusatkan di pelataran Gedung Gonggong.

Dalam rangkaian festival tersebut, yang tak kalah menarik adalah dengan ikut digelarnya sebuah lokakarya panduan menikmati gerhana matahari dengan alat buatan sendiri. Biar pun pihak Boscha telah memfasilitasi setidaknya 600 kaca mata khusus, fenomena ini terlalu sayang dilewatkan tanpa ruang edukasi bagi khalayak.

Pada Rabu (25/12) di Pulau Penyengat pun acara ini dihelat. Kepada mereka yang hadir, diajarkan cara melihat gerhana dengan cara yang nyaman sekaligus aman dengan mengandalkan alat yang bisa dirancang sendiri.

Teman kami, Nurfatilla Afidah dari Pokdarwis Penyengat, merekam keseruan tersebut.

Gerhana Oh Gerhana
Baru pada Hari-H atau Kamis (26/12) siang di pelataran Gedung Gonggong kehadiran gerhana matahari cincin di langit Tanjungpinang disambut gegap-gempita. Festival jelas menambah semarak. Agar semakin lengkap, ikut pula digelar salat sunnah kusuf, tradisi orang muslim ketika gerhana terjadi. Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul menjadi imam.

Ribuan orang tumpah ruah di pelataran Gedung Gonggong. Ada yang sibuk mengantre agar dapat melihat langsung dari balik teropong profesional yang diboyong Bosscha dari Bandung. Sebagian yang lain bergantian menggunakan kacamata khusus yang telah disiapkan.

Sementara itu, ada pula yang memanfaatkan alat sekenanya. Seperti bekas kotak sepatu, potongan kaca hitam tebal, sampai tirisan penggorengan! Semua itu demi dapat menikmati fenomena semesta yang amat langka dengan aman dan nyaman.

Tidak cuma orang tua maupun dewasa, kehadiran gerhana juga disambut sukacita oleh anak-anak. Mereka pun bahkan rela antre panjang dan lama demi dapat menjajal pengalaman mengintip gerhana dari balik lensa.

Semua ponsel mengarah ke langit. Semua lensa mengarah ke matahari.


matahari gerhana cincin indahnya
bumi ditimpa rembulan
rembulan ditimpa matahari
matahari ditimpa bumi
bumi ditimpa matahari
matahari cahaya sembunyi

Begitu penyair Abdul Kadir Ibrahim mencatat fenomena ini dalam sebuah puisi yang kemudian dibacakan oleh penyair cilik Nabila Akhyar.

Terima kasih, gerhana, sudah singgah di Tanjungpinang. []

More in Cerita Kita