Connect
To Top

Tips Memotret Gerhana Matahari dari Fotografer Profesional

Jangan Melewatkan Momen Langka 26 Desember

Oleh Fara Verwey

Kamis (26/12) nanti jangan ke mana-mana. Tinggal saja di Tanjungpinang. Sebab ada fenomena langka berupa gerhana matahari cincin. Kabar baiknya, Tanjungpinang menjadi satu dari sekian kota terbaik sebagai lokasi menonton fenomena alam yang amat jarang terjadi ini.

Karena itu, Pemerintah Kota Tanjungpinang tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Selama dua hari akan digelar Festival Gerhana Matahari Cincin. Akan ada banyak acara digelar. Mulai dari lokakarya, lomba-lomba, juga salat gerhana pula.

Dan sudah tentu yang paling spesial adalah melihat langsung fenomena gerhana matahari cincin yang dipusatkan di Gedung Gonggong. Untuk hal ini, Pemko telah mengajak Bosscha Observatory dari Institut Teknologi Bandung.

Jadi sungguh benar-benar spesial dan akan rugi besar bagi masyarakat Tanjungpinang jika sampai melewatkan festival satu ini.

Akan semakin lengkap pengalaman ini jikalau bisa berhasil mengabadikan gerhana di langit. Tapi tentu saja memotret gerhana matahari cincin tidak semudah memotret biasa. Perlu persiapan dan perlengkapan ekstra.

Yuli Seperi, fotografer profesional di Tanjungpinang, menjelaskan, bukan hal yang mustahil untuk memotret gerhana matahari cincin. Namun satu yang pasti, kata dia, diperlukan lensa jenis tele untuk bisa mendapatkan portrait sempurna ketika bulan menutupi matahari. Sudah begitu, tidak bisa pula langsung mengarahkan lensa ke sana.

“Jangan memotret langsung ke matahari tanpa adanya filter. Hal itu bisa membakar sensor kamera dan merusak retina mata,” jelasnya.

Ditambahkannya, untuk pemotretan fenomena gerhana matahari memang diperlukan filter khusus. “Tapi kalau nggak punya, bisa gunakan filter ND yang paling gelap,” sarannya.

Contoh filter ND.

Namun jika segala jenis filter ini tidak dimiliki pun, Yuli memberikan tips dengan menggunakan kacamata hitam berlapis-lapis, sehingga mengurangi intensitas cahaya matahari.

Pun saat membidik, Yuli berujar agar membidik dengan menggunakan LCD. Tidak menggunakan jendela bidik saat memotret, berarti menjaga retina mata agar tak rusak.

Yuli juga membagikan tips nan kreatif lainnya. Yakni memotret gerhana matahari di genangan air. “Cahaya pantulan air bisa menjadi objek foto juga. Asal ada bejana yang menampung air gelap,” ucapnya.

Ia menyarankan agar tidak terburu-buru dan tergesa-gesa seakan panik tidak menangkap gambar terbaik. Karena meskipun peralatan membatasi menangkap aktivitas orang-orang yang ikut menyaksikan gerhana, juga tak kalah menarik.

Jadi siapkan kameranya. Dicetak nanti fotonya. Agar kelak bisa diceritakan kepada anak-anak bahwa di Tanjungpinang yang kecil ini pernah juga menjadi lokasi terbaik menyaksikan gerhana matahari cincin. []

More in Kota Kita