Connect
To Top

Ini Pengalaman Saya Ditubruk Mobil Anggota Dewan yang Kedap Suara

Menolak Diajak ke Kantor Polisi

Oleh Wan Fhandry

Bubuk kopi di kantor redaksi habis, Rabu (18/12) sore. Saya dan teman-teman tidak terbiasa menulis atau menyunting video tanpa ditemani secangkir kopi o atau kopi susu. Saya menawarkan diri untuk membeli bubuk kopi.

“Nggak pakai lama ya,” kata Kak Fara, wartawan andalan di kantor.

Saya meminjam motor Sari. Motor milik sekretaris redaksi kami ini jenisnya matik. Baru pula. Baru lunas, maksudnya. Maka saya tak heran jikalau kemudian ia berpesan, “Hati-hati ya bawanya. Lecet pula nanti,” pesannya.

Entah mengapa Sari berpesan seperti itu. Akankah bawaan karena motornya baru lunas angsuran atau sebenarnya ia seorang yang bisa membaca masa depan? Sebab saya kembali ke kantor dengan bodi kanan yang lecet.

“Maaf lama,” kata saya, “ada masalah sedikit tadi di kedai kopi.”

Sari menjadi orang pertama yang menuntun penjelasan. “Ada apa? Kok bisa sampai lecet macam ini,” burunya.

Saya menarik nafas. Menenangkan diri. Sari berhak atas penjelasan di balik musabab motornya jadi lecet seperti ini.

“Ditubruk mobil tadi di kedai kopi,” saya memulai penjelasan.

Teman-teman lain di kantor redaksi ikut menyahut. “Kok bisa? Mobil siapa? Terus orangnya bagaimana? Kok tidak minta tanggung jawabnya? Orangnya langsung pergi begitu saja? Terus motor Sari bagaimana?” Pertayaan sambung-menyambung di telinga.

“Mobil anggota dewan,” saya mulai bercerita.

“Dewan kota atau provinsi?” tanya Kak Fara.

“Kota, Kak.”

“Hah? Siapa memangnya? Yang mana orangnya?”

“Itu lho yang pernah kita wawancara pas pelantikan dulu.”

“Dia tak mau tanggung jawab?” suara Kak Fara mulai terdengar kesal.

Bagaimana ya hendak menjawabnya. Lebih baik saya ceritakan di sini saja kronologinya. Bagaimana bodi motor Sari bisa lecet dan respons mengejutkan dari anggota dewan yang bersangkutan.

Lecet di motor Sari.

Mobil Kedap Suara
Beberapa meter dari jalan masuk menuju Kedai Kopi Hawaii Batu 9, saya melihat mobilnya sudah bergerak maju. Pikir saya mobil itu hendak pergi. Karenanya saya langsung ambil kiri lewat jalan sempit tepat di belakang mobilnya.

Ternyata mobil itu bukan hendak keluar, melainkan membetulkan posisi parkirnya. Mobil itu mundur tepat ketika motor yang saya bawa melintas. Bertubrukanlah bagian belakang mobil dengan bodi sisi kanan motor.

Sontak saya terkejut. Karena ada kawannya yang di luar yang memberi aba-aba untuk berhenti ketika saya melintas di belakang mobilnya. Namun sepertinya ia tak mendengar aba-aba itu. Tubrukan pun tak terlelakkan.

Saya melirik bodi motor. Lecet. Aduh motor Sari pula.

Motor saya jagang. Saya minta ia yang duduk di balik kemudi untuk bertanggung jawab atas insiden ini. Bagaimana pun, kawannya telah memberi aba-aba untuk berhenti.

“Bagaimana ini? Motor saya lecet lho,” saya mulai bersuara.

“Lho kamu kenapa di belakang?” sosok dari balik kemudi itu keluar dari mobil.

“Kawan Abang kan sudah kasih aba-aba untuk berhenti,” saya mulai berargumen.

“Saya tak dengar. Mobil saya kedap suara,” jawabnya.

Saya melirik ke mobilnya. Memang bukan mobil murah. Beratus kali lipat dibandingkan gaji bulanan saya.

“Jadi bagaimana ini? Motor saya lecet lho,” saya coba kembali menuntut pertanggungjawabannya.

“Mobil saya juga lecet,” balasnya.

Lecet di mobilnya.

Dalam hati saya bergumam, mobilnya lecet karena ia tidak mengimbau aba-aba dari kawannya yang mengarahkan lokasi parkir. Kenapa saya yang harus bertanggung jawab?

“Bagaimana kalau saya perbaiki motor kamu, kamu perbaiki mobil saya,” ujarnya lagi.

Saya terkejut mendengar itu. Saya yang ditubruk, saya pula yang harus perbaiki mobilnya.

“Bang,” kata saya, “kalau saya yang menubruk mobil Abang, tak peduli seberapa mahal kerusakannya, pasti saya ganti.”

Tapi sepertinya dia kurang senang dengan jawaban itu. “Lebih mahal lecet mobil saya daripada motor kamu,” katanya.

“Abang anggota dewan, ‘kan?” kata saya kepadanya. “Saya dulu yang meliput Abang pas pelantikan lho.” Saya tidak tahu apakah ia mengingat saya atau tidak. Yang jelas saya masih ingat betul reaksinya ketika kami tanyai berapa harga outfit-nya.

“Tak ada urusan saya sama wartawan. Jadi kamu mengancam saya?”

Jujur saja. Tidak ada untungnya buat saya mengancam dia. Yang saya pikirkan adalah lecet di motor Sari. Tak terbayang seperti apa perasaannya ketika tahu motor yang dicicilnya setiap bulan dan baru lunas itu jadi lecet seperti ini.

Perdebatan di antara saya dan anggota dewan itu sepertinya tidak akan menemui titik akhir. Saya menawarkan solusi lain. “Ya sudah,” kata saya, “daripada kita kelahi di sini nanti, lebih baik kita bawa ke kantor polisi.”

Saya benar-benar kehabisan ide. Barangkali dengan ditengahi oleh polisi baru ada solusi.

“Kamu duluan saja. Nanti pandailah polisi itu hubungin saya,” jawabnya.

Saya beranjak dari lokasi. Kembali ke kantor. Mengambil kamera. Bagaimana pun saya harus punya bukti untuk ditunjukkan ke polisi atas pertistiwa tak menyenangkan yang baru saja saya alami.

Setiba kembali ke lokasi kejadian, saya nyalakan kamera. “Sori, Bang, saya izin foto mobilnya. Saya mau buat laporan.”

Saya potret bagian belakang mobil. Termasuk yang lecet. Sementara anggota dewan tadi sudah duduk di meja, ngopi bersama teman-temannya.

Seberapa Mahal Harga Maaf?
Saya minta maaf kepada Sari atas kecerobohan ini. Motornya jadi lecet. Saya berjanji akan bertanggung jawab untuk perbaikannya. Bagaimana pun, karena saya pula motornya jadi seperti ini.

“Santai saja, Fhan,” ucap Sari. Walau ada sedikit kecewa yang tertangkap dari caranya bicara.

Ada anggota Dewan Kota Tanjungpinang, mobilnya mundur nabrak motor masyarakat, kata dia “Mobil saya kedab suara, gak ada…

Dikirim oleh Husnizar Hood pada Rabu, 18 Desember 2019
Pak Husnizar sampai ikut menulis kisah saya di statusnya.

Pada akhirnya, saya urung melaporkan insiden ini ke kepolisian. Hal semacam ini hanya akan menambah beban kerja bapak-bapak polisi.

Apakah saya merasa dendam? Untuk apa? Biar pun gaji saya kecil, saya masih bisa mengusahakan untuk biaya perbaikan lecet di motor Sari. Karena toh memang salah saya, mengapa sore itu membawa motor Sari dan bukan motor saya sendiri.

Apakah saya merasa dendam? Tidak ada untungnya. Sebenarnya, saya bisa saja menyebut namanya, lengkap pula, partai politiknya, dapilnya, fraksinya, komisinya, merek mobilnya, plat nomornya. Tapi buat apa? Itu tidak memperbaiki lecet di motor Sari.

Saya memilih tetap merahasiakan identitasnya. Menjaga nama baiknya. Mendoakan yang terbaik agar selalu selamat dalam menunaikan kerjanya sebagai wakil rakyat.

Setidaknya hal ini jadi pengalaman baru buat saya. Jadi benar bahwa kata maaf itu begitu mahal harganya. Tidak semua orang bisa mengucapkan. Karena perlu kerelaan. Perlu kerendahhatian. Bukan pangkat jabatan. Bukan status kekayaan.

Terima kasih atas pengalaman berharga ini, Pak Dewan. []

More in Cerita Kita