Connect
To Top

Hilang Jasa Kapak, Ketam Pun Tak Tampak

Kolom Temberang Husnizar Hood

Oleh Husnizar Hood

Sudah seminggu ini hujan terus menerus. Laut pun bergelombang tinggi. Maklumlah sudah bulan Desember. Selalu saja begitu. Menurut siaran radio, katanya ada angin topan di Filipinan sana. Imbasnya sampai ke negeri kita ini. Pantaslah daun kelapa bentuknya seperti orang gondrong yang naik motor tak pakai helm; menguncup.

Sudah seminggu juga kawan saya tak melaut. Apa yang mau ditempuh kalau cuaca sudah seperti ini. Melawan kekuatan alam jangan sekali pernah dicoba, hanyut nanti padahnya atau, puahsiseh … , sampai karam pula.

“Itulah kearifan alam ini, Tok. Disuruhnya kita memburu rezeki di laut yang luas itu sekian lama, dan pada waktu-waktu tertentu disuruhnya kita istirahat. Mungkin biar ikan bisa bermanja-manja,” ucap kawan saya Mahmud.

Saya tersenyum mendengarnya. Siapa yang hendak bermanja-manja? Ikankah? Atau Mahmud yang sedang keletah?

Kami bertemu di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang semalam. Karena hujan seharian, konon hendak berakhir pekan di Batam. Berjalan sepanjang pelabuhan yang masih centang perenang parkirnya itu sambil lewat melihat pembangunan menambak lautan yang diberi nama proyek Gurindam 12 itu.

“Centang perenang juga bentuknya ya, Mud?” tanya saya.

Macam tak selari atau seirama penambakan itu dengan keberadaan pelabuhan. Tak lurus bentuknya dan tak menyatu. Saya memang paling pantang kalau melihat benda-benda yang tak lurus itu, gatal mata ini.

Mahmud sangat tahu. Makanya begitu saya tanya, kawan saya itu memandang jauh tumpukan batu-batu besar itu.

“Kita tak pernah diberikan bentuk nanti jadinya seperti apa, makanya kita tak tahu,” jawab Mahmud.

Hanya yang paling saya risaukan adalah soal nama Gurindam 12 itu. Mungkin nama itu hebat karena diambil dari sebuah karya yang hebat. Hanya karya itu sudah telanjur kita anggap sebuah karya yang bernilai tinggi.

Mahmud kawan saya itu mengajak saya berandai-andai kalau saja nanti misalnya terjadi kegiatan-kegiatan tak senonoh di sana, bahkan mungkin kegiatan kriminal, terus kita harus menulis, “Pencabulan itu di Gurindam 12, transaksi narkoba itu di Gurindam 12, dan banyak lagi dan banyak lagi”.

“Gurindam 12 yang terbabit-babit itu yang saya risaukan,” masih Mahmud berucap singkat.

Langkah kami semakin ke ujung sambil sekali-sekali melihat laut di depan Pulau Penyengat bagaimana ombaknya.

“Kalau kapal feri penyeberangan ke Batam dalam musim pancaroba seperti ini, Insyallah masih aman dengan ombak yang ada. Hanya kemarin ada juga yang mengirimkan video keadaan di dalam feri orang sudah memakai jaket keselamatan itu. Mendebarkan juga,” kata saya.

“Yang lebih mendebarkan itu kalau solar tak ada, kapal tak dapat berlayar seperti kemarin,” pekik Mahmud.

Saya pikir sekarang sudah aman semua. Itu kemarin mungkin miskomunikasi saja, sampai semua orang tau berapa seksinya selisih harga solar subsidi dan non subsidi. Kata seorang anggota dewan, ini soal kuota solar yang melebihi batas. Tapi saya baca keluhan di Facebook seorang kawan di Tangerang Banten solar pun habis juga.

“Semua sudah terkendali,” kata petinggi kota ini dengan wajah semringah dan dengan bangganya sambil menunjuk kartu kendali yang dipuji-puji itu.

“Yang belum terkendali itu janji membagi gratis baju seragam,” sela Mahmud agak bernada geram.

Saya tenangkan kawan saya itu. Tak boleh sikit-sikit geram. Kita ini harus bersabar, orang sabar itu disayang Tuhan. Kalau ada yang mengkritik, kita juga harus bersabar karena ladang kritik itu memang tempatnya adalah penguasa, karena di tangan mereka yang hanya ada kekuasaan dan di situlah ada janji dan harapan.

‘Kan yang janji membagi di bulan Desember ini mereka, terus kalau gagal ya mereka juga. Mungkin sengaja dibagikan di waktu semakin penghujung Desember agar bisa jadi penganti Sinterklas pembawa hadiah. Tak mengapa tapi jangan marah. Masyarakat tahu juga kita salah, takkanlah kita tak pernah salah.

Ada apa Mahmud mengajak saya ke Batam? Menyaksikan Kenduri Seni Melayu di Batam? Katanya sudah masuk tahun ke 21, ya di mulai pada tahun 1999 dulu, hingga 2019 ini. Hitunglah.

Taklah. Kami tak pergi ke sana. Tak diundang juga. Terus kalau diundang pun kami sadar jabatan undangan kami sebagai apa. Sebagai seniman, mungkin hanya seniman sepeti apa? Banyak orang mengaku-ngaku dialah seniman, padahal dia hanya berkawan dengan seniman. Banyak juga orang mengaku bisa melaksanakan sebuah perhelatan kesenian hanya karena dia tahu tentang kesenian dan punya darah seni.

Oh nanti dulu. Tak cukup hanya punya darah seni dan berkawan-kawan dengan seniman serta tahu tentang kesenian saja untuk menjadi seniman atau pekerja seni. Jika hendak mengaku seniman itu harus punya karya dan karya itu adalah hasil perjalanan batinnya. Perjalanan itu bisa saja di dapatkan dari perjalanan badan atau juga perjalanan yang didapatkannya dari dia membaca.

Perjalanan badan itu dengan melihat banyak tempat, banyak suasana, dan banyak peristiwa. Karena itu ada pepatah mengatakan “jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa”, maknanya pengalaman itu tak bisa didapat hanya dengan berdoa saja.

Lalu untuk menjadi pekerja seni atau melaksanakan helat kesenian itu harus tahu manajemen seni pertunjukan. Ada aturan mainnya termasuk menghindar hujan, menentukan tanggal pelaksanaan harus dimatangkan dengan cuaca. Kacau kan kalau kita sudah bertungkus-lumus menghabiskan duit beratus terus hujan tak putus-putus penonton mana yang akan diutus?

“Nak jadi pawang hujan ajelah saya,” sergah Mahmud.

Di dalam manajemen seni pertunjukan itu pun dikenal pawang hujan itu. Bukan hanya menyelamatkan acara, tapi lebih dari itu, menyelamatkan alat-alat pendukung yang mahal harganya. Okelah di kampung kita alatnya kecil-kecil, tapi di kampung orang sarana mereka sebesar “Gaban”, kalau sudfah hujan susah untuk diselamatkan.

Saya teringat cerita Mahmud dulu sewaktu pertama kali dia mengerjakan Kenduri Seni Melayu Batam tahun 1999. Remuk badan, dengan meraba-raba Kota Batam, karena tak tahu arahnya ke mana, tak ada kawan yang sejalan.

Sesampai di Batam kawan saya Mahmud mengajak saya makan di sebuah warung harga yang sudah ditentukan dan waktu juga ditentukannya terus makanlah sepuasnya. Baru sekali ini saya mencoba. Hebat selera kawan saya itu, pikir saya.

“Makanlah sepuasnya, waktu sudah ditentukan, harga juga demikian,” suara Mahmud agak menurun.

Warung ini mungkin menjadi sebuah simbol peringatan kepada kita semua, bahwa harga dan waktu sudah ditentukan. Makanlah sepuasnya, asal jangan kemaruk, nanti muntah. Tapi biasanya kita berusaha menghabiskan sebanyak-banyaknya karena takut rugi.

Terserahlah, makanlah sepuas-puasnya. Lantaklah. Buat saja sesuka-suka hati perut kalian yang kalian buat pembenaran sendiri, rebutlah kekuasaan dan suruh orang bersabar, sementara kita memaki-hamun orang yang berseberangan dengan kita.

Lalu di mana jasa kapak itu? Kapak itu pembelah kayu. Ketam itu untuk penghalus papan. Kenyataannya harus mengingat ketam yang mempercantik papan padahal kapak berkeringat-keringat dan berdarah-darah.

Kita semua pahamlah. Setelah makan, kawan saya Mahmud mengajak kembali lagi ke Tanjungpinang. Katanya di Tanjungpinang ada cinta. Kalau di Batam terlalu banyak orang menjual cinta. Mungkin seperti para bakal calon pemimpin kota itu. Merk sedang bersaing, mereka sedang mencoba merebut banyak cinta, ya hati-hati cinta satu malam, satu periode tenggelam. []

More in Kolom Temberang