Connect
To Top

Dari Bang Efiyar, Kita Harus Belajar

Sebuah Obituari Seniman Efiyar M. Amin

Oleh Zainal Takdir

Kopi yang tak biasa. Saya benci menikmati kopi dengan perasaan macam ini. Mengapa tempat yang sama, kopi yang sama, meja yang sama, pemandangan yang sama, tidak melulu menghadirkan rasa yang sama? Dalam dada, utamanya.

Tapi, begitu semesta bekerja. Ada misteri yang sukar diurai dengan nalar semata. Kadang, perasaan bisa jauh bekerja, sampai ke ceruk-ceruk yang terjangkau. Dan kita, sebagai manusia, diajak merasakan. Menghayati. Menikmati. Berkali-kali. Dari kopi ke kopi.

Bang Efiyar telah pergi.

Mungkin ini yang membuat kopi Sabtu (16/11/2019) ini jadi tak seperti hari yang sudah-sudah. Efiyar M Amin, seorang seniman, seorang birokrat, juga seorang teman ngopi, telah pergi. Mendung di luar. Mengapa yang badai di dalam hati?

Bang Efiyar benar-benar memenuhi The Next Episode yang diunggahnya di akun Instagram @yahralamein pada 11 November. Hari itu bertepatan dengan pertambahan usianya menjadi 61. Di unggahan tersebut, Bang Efiyar tidak menulis apa-apa selain tagar #nextepisode.

Episode next yang dimaksudkannya tentu adalah berkenaan pertambahan usia seniman yang dilahirkan di Letung pada 11 November 1958 ini. Tidak banyak likes di sana. Pun hanya satu ucapan happy birthday dan satu doa sehat selalu pak. Namun yang bikin saya terus mengagumi Bang Efiyar adalah kemampuannya untuk mandiri secara visual dan tidak mencomot sembarang gambar dari Google untuk unggahan ulang tahunnya.

View this post on Instagram

#nextepisode

A post shared by Yahr Alamein (Raynima)?? (@yahralamein) on

Seperti yang kita semua bisa lihat, Bang Efiyar dengan terampil menggambar angka 61 dengan tidak sekadar mencomot dari font gratisan. Ia menata ulang bentuk angka itu sehingga terlihat seperti memberikan efek kedalaman. Soal menggambar, Bang Efiyar memang tak ade lawan.

Nah, mengapa ada satu burung dengan sayap terkepak tepat di atas tulisan The Next Episode? Ini tanda tanya terbesar saya. Bang Efiyar, dalam unggahan itu tidak menjelaskan apa-apa. Sebagaimana seniman visual pada umumnya, saya taksir, Bang Efiyar membiarkan kita menikmati sekaligus menginterpretasi sendiri.

Yap. Barangkali itu memang tanda Bang Efiyar memang ingin terbang. Lepas landas. Tinggi. Tinggi sekali. Sampai tak tergapai oleh kami. Saya menaksir sesederhana itu. Sebanal itu. Setakmampu itu. Saya benci dengan taksiran saya sendiri. Benci sekali.

Pegawai yang Berkontribusi di Jalur Seni
Pada 1987, Bang Efiyar kali pertama berdinas sebagai pamong di pemerintah kabupaten Kepulauan Riau. Itu batu pertamanya menuju batu-batu tinggi yang digapainya hingga pensiun sebagai Kepala Dinas Kominfo Kota Tanjungpinang. Di kota ini, Bang Efiyar pernah menjadi Setko, Kepala Bappeda, Kepala Dispenda, Kepala Disperindag, Kepala Disparbud dan Ekraf, Asisten II, hingga Kepala Distako Wasbang. Tapi, tak pada itu semua kita mengenang sosok the one and only ini.

Statusnya boleh-boleh saja sebagai pegawai negeri. Namun pada jalur lain ia berkontribusi buat kota ini. Lewat seni. Ya, seni. Anda tidak salah baca. Seni adalah dunia lain yang dihidupi Bang Efiyar penuh seluruh.

Pada 1975, ia sudah aktif melukis. Bersamaan dengan itu, fotografi pun ditekuninya. Pada dekade 1990-an, cintanya jatuh pada puisi. Tak banyak memang karyanya, namun sekali-dua ia pernah naik panggung dan membacakan puisinya. Seiring kemajuan teknologi, minatnya pada visual pun membawanya pada jagat desain grafis.

Lukisan pertama Bang Efiyar pada 1975.

“Jangan lupakan memancing. Ia kalau sudah menyukai sesuatu, sangat tekun orangnya. Termasuk memancing. Ia sampai mempelajari ikan-ikan dan karakternya,” kata Sabri Maimoen Moehammad, kolega yang melawat di rumah duka di Km.7.

Soal memancing, biar itu kelak dikenang dengan riang oleh teman-temannya. Saya pernah melihat foto Bang Efiyar dengan ikan tangkapan yang cukup besar. Menjadi juara pula, agaknya, dalam kontes memancing itu.

Namun urusan desain grafis, kita berutang banyak pada Bang Efiyar.

Bang Efiyar adalah perancang awal logo Festival Sungai Carang. Perancang logo perhelatan Tamadun Melayu. Bahkan, logo Tanjungpinang Kampung Kite, yang sakin ciamiknya, sering dipakai semena-mena oleh politisi dan itu membuatnya jengah.

Bukan soal logo saja Bang Efiyar jago. Kalau Anda sekarang pergi ke Penyengat dan mendapati gerbang besar berwarna kuning di pelabuhan kedatangan, itu juga rancangan Bang Efiyar.

Anjir … saya iri.

Selesai? Belum. Keirian saya pada kreativitas Bang Efiyar tidak pernah habis. Apalagi pada 2013, ia mengangkat khazanah tanjak sebagai ikat kepala tradisional Melayu yang bisa berkesesuaian dengan zaman. Jadi, kalau kita melihat sekarang begitu banyak orang pakai tanjak, itu juga karena Bang Efiyar tak lelah mengampanyekan sejak 2013. Orang belum pede pakai tanjak, Bang Efiyar sudah mendesain dan memakainya setiap hari ketika bekerja.

Lalu, yang tidak akan pernah terlupakan lagi sumbangsihnya adalah Batik Gonggong. Ketika orang belum terpikirkan Tanjungpinang sebagai daerah tujuan wisata mesti mempunyai produk fesyen berciri khas, Bang Efiyar menyeruak dengan mengenalkan batik motif gonggong pada 2010.

Bersambung-sambung kemudian motif bunga kemunting, daun sirih, cogan, dan masih banyak lagi. Untuk itu semua pun Bang Efiyar tak lupa mematenkan karyanya.

Kreasinya ini kemudian dilirik PT LG Electronics Indonesia. Ada produk lemari es dan mesin cuci berbalut motif Batik Gonggong. Untuk kreasi ini, LG mendapat rekor MURI untuk kategori Lemari Es dan Mesin Cuci Motif Batik Pertama Indonesia 2010.

Kreasi tangan Bang Efiyar pun juga dipakai Hotel Aston Tanjungpinang, yang menggunakan untuk bedcover dan pintu lift-nya. Bandara RHF pun tak kalah dengan menggunakan batik gonggong sebagai hiasan dinding.

“Lega sekali akhirnya ada hak ciptanya juga. Ini menjadi satu-satunya motif di Kepri yang sudah ada hak ciptanya,” ujar Bang Efiyar, yang pernah mendapati kreasinya dibajak dan dipalsukan di Batam.

Kecakapan Bang Efiyar dalam urusan desain-mendesain pun diakui teman-temannya. “Kalau urusan desain, dia sudah jago sejak dulu,” begitu pengakuan penyair Husnizar Hood.

Batik Gonggong kreasi Efiyar dipakai seorang model.

Yang Pergi Jasadnya, Tidak Kesannya
Jika kelak harus bersaksi tentang Bang Efiyar, saya akan bersaksi bahwa ia orang yang baik. Baik sekali. “The best boss ever,” tulis Said Alkahfi, pegawai yang pernah di bawah komando Bang Efiyar di Disparbud Ekraf.

Saya pernah terlibat dalam sejumlah kegiatan bersamanya. Namun, yang paling membekas jelas saat-saat mengopi. Saya bukanlah siapa-siapa, jika disejarkannya. Namun, tak sekali ia memandang saya dengan sebelah mata. Mau pejabat utama, mau seniman hebat, atau penyair kere macam saya, Bang Efiyar telah berhasil memanusiakan manusia.

Saya bersaksi pada hari ketika ia pergi, semua karibnya melepas dengan ikhlas. Bang Efiyar orang baik. Bang Efiyar kawan baik. Begitu saya mencuri dengar di antara pelawat yang memadati rumah duka. Dari semua kalangan. Temannya memancing. Koleganya di pemerintahan. Kawan seniman sepermainan. Hingga sekadar orang yang pernah mengenal sepintas lalu.

“Bahkan pada momen seperti ini, kepergiannya mempertemukan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu,” ucap Sabri dari sudut tenda.

Kita tentu sedih Bang Efiyar telah melanjutkan ke The Next Episode-nya. Namun, yang beraja-raja dalam hati adalah kebanggaan. Seorang seniman yang birokrat yang bekerja segenap hati dan sarat daya kreatif itu telah purna tugas di dunia. Dengan cara baik. Dengan sumbangsih tak berperi.

Kami yang ditinggalkan kemudian menapak pembelajaran-pembelajaran tanpa aksara yang ditinggalkan. Pengalaman-pengalaman yang dilalui. Dan waktu-waktu yang dihabisi bersama-sama. Penuh makna. Rasa bangga. Sedalam-dalamnya.

Rest in Paint, Bang Efiyar! Pada hidupmu, kami menumpang belajar. []

More in Orang Kita