Connect
To Top

Wali Kata-kata atau Pencipta Cinta?

Kolom Temberang Husnizar Hood

Oleh Husnizar Hood

Kemarin malam saya disergah karib lama saya. Namanya Norham. Oh iya, kalau tidak salah, nama lengkapnya Norham Abdul Wahab. Maklumlah kami sudah lama tak bertemu, jadi mudah lupa, apalagi kesempatan kami bertemu hanya dalam acara pesta-pesta seperti ini saja.

“Ini bukan pesta, Wak!” itu sergahnya, “Ini syiar, penyair itu syiar, mereka berdakwah bukan berpesta,” sergahnya yang kedua. 

Oh iya, saya dan Norham sedang berbincang di sebuah meja kecil di sudut restoran sambil menikmati kopi dan panggung puisi. Sementara Mahmud kawan saya yang selalu bangga mengaku sebagai seorang penyair, katanya sedang kepayang. Konon menurut sumber yang tak mau disebutkan namanya, penampilannya tadi bersama vokalis Yogi banyak dipuji-puji. Dia membaca puisi dengan musik nyanyian.

“Bukan tak percaya dengan kata-kata, tapi ingin mendamaikan mereka, mengijabkabulkan musik dan kata-kata,” itu pengantarnya sebagai pembaca puisi pembuka.

Untung saya terlambat dan tak sempat melihat penampilan Mahmud. Kalau saja saya melihatnya, pasti dia semakin kepayang.

Oh iya, kami semua ini sedang mengikuti acara penutupan perhelatan yang bertajuk Festival Sastra Internasional Gunung Bintan tahun 2019. Sudah empat hari kami bertungkus-lumus bersama di Pulau Bintan ini. Berpantun, bernyanyi, dijamu makan berulang kali, dari daging durian hingga daging pelanduk. Dari teh tarik, mi lendir, sampai ke kopi sekanak yang baru saja dapat gelar baru sebagai kopi imajinasi. Setiap hari riuh-rendah, gegap gempita, “Nah, itu ‘kan pesta namanya!”

Norham tetap bilang itu bukan pesta. Saya diam saja, malas untuk menjawabnya. Sejak dulu tahun 1996, awal saya mengenalnya ketika dia menjadi redaktur budaya di sebuah koran ternama di negeri ini, gaya bicaranya tak berubah. Selalu menyerang. Apalagi sekarang. Walaupun dia sudah “hijrah” berjanggut dan berjubah atau paling tidak berompi yang bentuknya tak tentu arah, serangannya memang lembut tapi tetap membengkakkan hati.

Memang di awal perbincangan saya katakan padanya, “Selalu setelah pesta yang tersisa hanyalah sampah, bukan hanya sampah yang sebenarnya sampah, tapi juga sampah kenangan.”

Nah, mungkin di situlah dia semakin nampak agak marah. Dia bilang setelah “bermusyawarah” yang lahir adalah karya. Ya ya ya. Dia mengumpakan pertemuan kami itu dengan istilah “musyawarah”. Saya pikir ada benarnya juga. Kita sudah banyak kali bermusyawarah membahas banyak hal, sampai-sampai ada pernyataan Taufik Ikram Jamil sastrawan ternama itu, bahwa Hang Jebat itu adalah seorang penyair. Hah? Pendurhaka itu adalah seorang penyair?

Saya lama terpana mendengar pernyataan Taufik Ikram Jamil. Separuh ada rasa kagum, tapi separuh lagi ada rasa tak percaya. Dari atas panggung dia terus bagai berkutbah, di pantai Bintan yang pasirnya putih melepak, di pantai tempat ikan duyung bersembunyi dan diam-diam ternyata begitu banyak penyair ingin mendapatkan air mata duyung itu, yang katanya bisa jadi jimat membuat orang jatuh cinta. 

Duyung yang sengaja menangis sambil menyelam agar orang tak tau dia sedang berduka. Tapi bagaimana bisa kita tahu yang mana air laut dan yang mana air mata. Mungkin itu sama ketika ada yang menangis dalam hujan, agar orang tak tahu dia sedang berurai air mata.

Taufik Ikram masih di panggung. Di situlah saya baru bisa membuktikan apa yang disampaikan Bang Tardji kemarin, di Balai Adat Pulau Penyengat. Katanya, penyair itu adalah wali kata-kata. Tugasnya di bawah kerja-kerja yang dibuat Tuhan. Tuhan mencipta, penyair juga mencipta. Sementara yang tidak mencipta adalah pembaca. Maka kemungkinan besar Taufik Ikram sedang menjalankan tugas-tugas kepenyairannya, ya, mencipta.

Hanya kalau melihat kesamaannya, memang terasa ada juga. Pertama, sikap amuk Hang Jebat sama dengan amuk penyair. “Jangan buat penyair marah, nanti amuknya bisa membuat air mata darah,” ungkapan itu pernah disampaikan Mahmud kepada saya dulu suatu waktu.

Ketika dia mengamuk, “Daripada jadi penyair, kenapa lebih banyak orang bercita-cita ingin menjadi pengampu?” teriaknya.

Kedua, kesamaannya adalah Hang Jebat banyak membuat orang jatuh cinta kepadanya atau sampai jatuh ke pelukannya. Katanya, kalau seorang penyair begitu juga adanya. Mendengar itu, Norham tegak, ia bagai tak percaya.

“Penyair yang seperti apa dulu, Wak?”, tanya Norham, nampak dia mulai hendak memancing argumentasi.

Saya tahu, dia pasti mau memancing saya dengan istilah yang diucapkan Bang Tardji kemarin juga. Walaupun sambil berseloroh, tapi saya pikir ada benarnya. Tentang pangkat atau jenjang penyair. Mana penyair raja, penyair laksamana, penyair hulubalang sampai penyair office boy. Semua memang penyair, tapi tak semua penyair bisa buat orang serta-merta bisa jatuh cinta, ini kerja penyair tingkat dewa.

Sampai malam. Puisi-puisi semakin menyala dan bercahaya, meskipun lampu jembatan Dompak tak semuanya menyala. Tak ada yang fokus mengurus. Itulah sifat kita. Mengaku serbabisa, disuruh mengurus lampu, kita mau mengurus jembatannya, disuruh mengurus kota kita hendak mengurus negara.

Semua mau jadi pemimpin bukan karena sebenarnya ingin memimpin, tapi karena tahu kalau menjadi pemimpin akan banyak dihormati dan semua difasilitasi.

Lihat barisan penyair itu. Mereka tak ada pemimpinnya, tapi mereka memimpin diri mereka sendiri. Akhirnya mereka menjadi raja, menjadi laksamana, menjadi hulubalang diri mereka sendiri, dan berjanji nanti kami akan bertemu kembali di Bintan ini.

Di meja lain, Mahmud sibuk memutar ulang rekaman dia membaca puisi pembuka tadi bersama pemuja-pemujanya. Diam-diam saya dan Norham mendengarkan puisi yang dibaca Mahmud tadi. Kata Norham, “Puisinya tak bagus walaupun sudah dibuat bertungkus-lumus.”

Aku Ucapkan

Aku ucapkan selamat tinggal
Seperti dermaga-dermaga sebelumnya
Merasa angin mati
Lalu badai juga gelombang besar
Kita pernah beramuk
Di tiang-tiang patah
Ada satu luka membekas
Dan tak mungkin hilang
Aku tahu itu hadiah dari sang Maha Indah
Melayari satu dermaga ke dermaga lain terasa berjinjit di atas
samudera sajadahMu

Diam-diam gayang
Diam-diam kepayang

Tengah malam seperti ini
Ketika pesta kembang api menjadi rampai kehidupan
Bukanlah waktu yang tepat untuk berlayar
Aku ingin menulis pesan di tiang dermaga itu sekali lagi
Satu kalimat azimat perkasa
Hingga subuh mencari kata
Agar kelak bisa kau baca

Aku ucapkan selamat tinggal
Seperti dermaga-dermaga sebelumnya
Tali-tali lepas
Jangkar-jangkar bongkar
Terbiar berlayar

Meja panjang itu penuh dengan wajah-wajah girang. Kami, panitia festival sastra, duduk di Sungai Carang, dimana tempat orang Melayu berulang kali menang perang. Itu, menurut Teja dan Aswandi, dan kami percaya saja. Bang Rida terus mengasampedaskan sembilang, mungkin karena pada jamuan ikan sembilang kemarin dia lebih mengutamakan tamu. 

Begitulah Datuk Sri Lela Budaya itu. Membuat banyak orang bingung darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu hanya untuk sekadar memperkenalkan ikan sembilang.

Bersama Bang Tardji kami pun mengurai keturunan sembilang dan kelompok serta saudara maranya. Tapi Bang Tardji bilang, ini festival hebat. Dia terbuka untuk siapa saja, tidak memandang harus hanya keturunan sembilang dan semua tertawa. Zainal paling besar tertawanya. Fatih mungkin masih tidur padahal sudah lewat solat Zuhur. []

More in Kolom Temberang