Connect
To Top

Menghitung Untung Bisnis Kaus #SaveNurdinBasirun

Belajar dari pengalaman kaus #2019GantiPresiden

Oleh Jamhur A Rahman

Di balik setiap peristiwa, selalu ada hikmahnya. Begitu kata-kata orang bijaksana. Lantas, apa hikmah dari penetapan Gubernur Kepri non aktif Nurdin Basirun oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, seminggu lalu?

Tentu kita bisa bersepakat ada banyak hikmah yang bisa diambil. Sayangnya saya bukan orang bijaksana itu. Tapi jika dipaksa untuk menyebutkannya satu, satu saja, saya kira hikmah yang bisa saya petik adalah peluang bisnis dari peristiwa ini.

Beberapa saat setelah penetapan Bang Din sebagai tersangka, saya lekas melihat gejala massal di media sosial kita. Oleh sejumlah Nurdin Lovers, pada setiap unggahan dukungannya, disertai tagar ala-ala, mulai dari #save atau #prayfor. Di sini saya menjetikkan jari: eureka!

Beberapa sudah saya catat. Ada tagar #SaveNurdinBasirun, #SaveNurdin757, #PrayForNurdin, #BangDinOrangBaik, sampai #BalekkanGubernurKami.

Sampai sini sudah paham? Baik. Kalau belum, saya bisa merincikannya.

Berkaca pada pengalaman kontestasi Pilpres lalu, tagar adalah komoditas yang laku dijual. Bukan cuma untuk sebagai penanda trending di media sosial, tapi juga penegas identitas seseorang. Maka, oleh mereka yang pandai menaksir cuan, dicetaklah tagar #2019GantiPresiden yang fenomenal itu di atas kaus.

Setelah itu, kita sama-sama masih bisa saksikan kaus #2019GantiPresiden dipakai siapa saja dan di mana-mana dan dalam aksi apa saja. Mengapa? Karena kaus itu mewakili gagasan mereka, suara mereka, pun identitas mereka.

Dari Batamnews, saya membaca masih banyak orang di Karimun yang mencintai Bang Din dengan jenis cinta no-matter-what. Dan saya yakin pun masih ada golongan yang sama yang tersebar di seantero Kepri, di Tanjungpinang, di Batam, di Anambas, di Lingga, di Bintan, sampai di Natuna. Jadi mengapa tidak dibikinkan kaus yang mampu menautkan emosi ini?

Jangan takut tidak laku. Saya punya taksiran kasarnya.

Pada Pilkada 2015 lalu, bersama alm. Ayah Sani, Bang Din meraup 347.515 suara. Katakanlah, dari jumlah itu potong separuh sebagai loyalis alm. Ayah Sani, nyatanya masih ada lebih dari 170 ribu orang.

Kalau separuh saja dari 170 ribu itu masih mencintai Nurdin dengan jenis cinta no-matter-what, ada 85 ribu yang siap mengupayakan apa saja demi Bang Din. Termasuk membeli kaus berdesainkan tagar ala-ala itu.

Apakah Anda sudah mencium aroma cuan sampa sini?

Jikalau – katakanlah – selembar kaus dijual dengan harga Rp 75 ribu saja, dengan asumsi ongkos produksi Rp 50 ribu, artinya untung per lembar bisa Rp 25 ribu.

Sekarang, mari dikalikan dengan jumlah Nurdin Lovers yang jenis cintanya no-matter-what tadi. Ya, Anda tidak keliru. Potensi untung dari bisnis ini mencapai Rp 2,1 miliar. Bersih!

Tentu nilai cuan itu belum termasuk jikalau tagar-tagar itu dicetak di gantungan kunci, mug, sampai topi.

Kalau Anda punya hikmah yang lebih asyik dari sini, bolehlah kita saling berbagi. Dan, siapa yang tertarik akan hikmah yang baru saja saya bagikan, silakan mencoba.

Mari kita viralkan #SaveNurdinBasirun #SaveNurdin757 #BangDinOrangBaik #BalekkanGubernurKami sampai ke seantero dunia. Rapatkan barisan, Kawan-kawan! Perjuangan masih panjang. []

More in Suara Kita